Daftar Isi/Contents SQ BLOG >> KLIK DISINI

Objek dan Manfaat kajian Ulumul Hadits

Senin, 31 Desember 2012

A. Objek Kajian Ulumul Hadis

a. Ilmu Rijal al- Hadits

Ilmu yang membahas para perawi hadits, baik dari Sahabat, dari tabi’in maupun dari periode sesudahnya. Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui keadaan para perawi yang menerima hadits dari Rasululloh dan keadaan para perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya.Didalam ilmu ini diterangkan “tarikh ringkas” dari riwayat hidup para perawi, madzhab yang dianut oleh para perawi dan keadaan- keadaan para perawi itu menerima hadits.[1] 

b. Ilmu Jarhi wat Ta’dil

Ilmu Jarhi wat Ta’dil pada hakikatnya satu bagian dari ilmu rijalul hadits, akan tetapi oleh karena bagian ini dipandang penting, kemudian jadilah suatu ilmu yang berdiri sendiri. Yang dimaksud dengan Ilmu Jarhi wat Ta’dil adalah ilmu yang menerangkan tentang hal catatan-catatan yang dihadapkan kepada para perawi dan tentang penta’dilanya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat- martabat kata-kata itu.[2] 

c. Ilmu Fan al-Mubhamat

Adalah ilmu untuk mengetahui nama orang-orang yang tidak disebut namanya didalam matan atau didalam sanad.[3] 

d. Ilmu ‘Ilal al- Hadits

Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata, yang dapat mencacatkan hadits, jelasnya ilmu ini membahas tentang sualu ilat yang berupa memutashilkan yang munqathi’, merafa’kan yang mauquf, memasukkan suatu hadits kedalam hadits yang lain.[4] 

e. Ilmu Gharib al- Hadits

Adalah ilmu yang menerangkan ma’na kalimat yang terdapat dalam matan hadits yang sukar diketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum. Yang dibahas oleh ilmu ini adalah lafadz yang musykil dan susunan kalimat yang sukar difahami, tujuanya untuk menghindarkan penafsiran menduga-duga.[5] 

f. Ilmu Nasikh wa al- Mansukh

Adalah ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah dimansukhkan dan yang menasikhkanya. Ilmu ini bermanfa’at untuk pengamalan hadits bila ada dua hadits maqbul yang tanaqudh (bertentangan) yang tidak dapat dikompromikan atau dijama’. Bila dapat dikompromikan, hanya sampai pada tingkat mukhtalif al- Hadis, kedua hadits maqbul tersebut dapat diamalkan. Bila tidak bisa dijama’ (dikompromikan), maka hadits maqbul yang tanaqudh tadi ditarjih atau dinaskh.[6] 

g. Ilmu Talfiq al- Hadits

Adalah ilmu yang membahas tentang cara mengamalkan hadits-hadits yang berlawanan lahirnya. Ilmu ini juga disebut dengan ilmu Mukhtalif al- Hadits. Bila dua hadits maqbul yang lahir maknanya bertentangan dapat dijama’ atau dikompromikan, maka kedua hadits tersebut diamalkan. Cara talfiq al- hadits anatara lain mentakhshish ma’na hadits yang umum, mentaqyidkan hadits yang muthlaq.[7] 

h. Ilmu Tashif wat Tahrif

Adalah ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (mushahhaf) dan bentuknya yang dinamakan muharraf.[8] 

i. Ilmu Asbab Wurud al- Hadits

Adalah ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi SAW menuturkan sabdanya dan masa-masanya Nabi SAW menuturkan.[9] Ilmu ini mempunyai kaitan erat dengan ilmu Tarikh al-Matan dan mempunya kaidah seperti ilmu Asbab Nuzul al-Qur’an. Ilmu asbab wurud al- hadits titik berat pembahasanya pada latar belakang dan sebab lahirnya hadits. 

Manfaat mengetahui asbab al-wurud al-hadits adalah untuk memahami dan menafsirkan hadits serta mengetahui hikmah-hikmah yang berkaitan dengan wurudnya hadits tersebut, atau mengetahui kekhususan konteks ma’na hadits. Cara mengetahui sebab wurudnya hadits adalah dengan melihat aspek riwayat atau sejarah yang berkaitan dengan peristiwa wurudnya hadits. 

j. Ilmu Mushthalah al- Hadits 

Adalah ilmu yang menerangkan tentang pengertian-pengertian (istilah-istilah) yang dipakai oleh ahli-ahli hadits. Sedangkan penulisan kitab-kitab Ilmu Hadits, hal tersebut dimulai dengan munculnya kitab-kitab `Ilal dan Jarh wa Ta`dîl yang merupakan materi utama bagi kajian sanad, di samping juga beberapa kaedah seleksi riwayat semisal yang disebutkan oleh Imam Asy-Syâfi'i dalam buku Ar-Risâlah dan yang disebutkan oleh Imam Muslim dalam pengantar (muqaddimah) buku Shahîh-nya. Setelah itu kemudian muncul kitab-kitab Ulumul Hadits yang lebih luas semisal karya Al-Hâkim dan karya Ar-Râmahurmûzî. 

Penulisan terhadap aneka cabang keilmuan Hadits selanjutnya mendapatkan perhatian besar dari Al-Khathîb Al-Baghdâdy yang menulis Al-Kifâyah dan beberapa kitab Ulumul Hadits secara terpisah. Lalu aneka ragam cabang Ulumul Hadits ini dihimpun, dirangkum, dan dimodifikasi oleh Ibnush Shalâh dalam Muqaddimah-nya. Dan karya-karya ilmu hadits berikutnya lebih sebagai ringkasan, syarah, atau komentar dan tambahan bagi kitab Ibnush Shalah tersebut, dan dengan itu kitab Ulumul Hadits kemudian menjadi dikenal sebagai kitab “Musthalah” karena memang lebih fokus pada pendefinisian terma-terma dibanding kaedah-kaedah inti. Kitab-kitab itu misalnya yang ditulis oleh An-Nawawi, Ibnu Katsir, Al-`Irâqy (w. 806), Ibnu Hajar (w. 852), As-Sakhâwy (w.902), dan As-Suyuthy (w. 911). Di zaman ini, ada pula karya-karya Ulumul Hadits yang senada dengan rumpun kitab Ibnush Shalah (metode Muta'akhkhirin) seperti karya Manna` Al-Qaththân dan Subhî Ash-Shâlih, tapi ada juga yang memperjuangkan kembali metode-metode Mutaqaddimin seperti karya-karya Syekh Hatim Al-`Auny dan Syekh Hamzah Al-Malibâry. 

B. Manfaat / faedah Ulumul Hadits 

Jika dilihat dari segi tujuan masing-masing ilmu, maka ilmu hadis riwayah bertujuan untuk: “memelihara syari’at Islam dan otentitas Sunnah Nabi saw” sementara ilmu hadis dirayah bertujuan untu: “meneliti hadis berdasarkan kaidah-kaidahatau persyaratan-persyaratan dalam periwayatan”. 

Adapun jika kedua ilmu tersebut dilihat dari segi faedahnya, maka faedah mempelajari ilmu hadis riwayah adalah: “menjauhkan kasalahan dalam periwayatan”, sementara faedah mempelajari ilmu hadis dirayah adalah untuk mengetahui mana hadis yang maqbul (diterima) dan mana yang mardud (tertolak). 

Meskipun tampak secara dzahir bahwa anatara Ilmu Hadis Riwayah dan Ilmu Hadis Dirayah berbeda dari tiga sisi yakni; obyek, tujuan, dan faedah- akan tetapi keduanya tidak dapat dipisahkan karena hubungan keduanya merupakan satu ssistem yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain (syaiaini mutalazimaini) atau dengan kata lain ilmu hadis dirayah sebagai in put dan Ilmu Hadis Riwayah sebagai out put.

ENDNOTE

[1]Muhammad Hasbi Ash- Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits,(Bulan Bintang : Jakarta, 1954), h.153
[2]Ibid, h.155
[3]Endang Soetari, Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah (Mimbar Pustaka : Bandung, 2008), h.205
[4]Ibid, h.204
[5]Endang Soetari, Ilmu Hadits Kajian Riwayah dan Dirayah……h.200
[6]Ibid, h.202-203
[7]Ibid, h.203
[8]Ibid, h.205
[9]Ibid, h.201-202

Disusun Oleh Akbar Ramadhan, H. Cecep Muhtadin dan Fuad Hakim
 photo IklanBannerSQBlogRUL.gif
Silahkan Bagi Tulisan Ini :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Silahkan Komentar Sahabat.....

Insya Allah, Suara Anda akan Menjadi Wahana Perbaikan Selanjutnya pada Blog INI, Sukses Selalu SOBAT !!!

Previous Next Home
 
ADMIN : SQ BLOG - wahana ilmu dan amal HASRUL | FB RulHas - SulTra | TWITTER RulHas BS
Copyright © 2014. ZYIAR™ BS - All Rights Reserved
Support : Creating Website | Mas Template
Proudly powered by Blogger