Daftar Isi/Contents SQ BLOG >> KLIK DISINI

Definisi Hadits, Khabar, Naba’, Atsar dan Sunnah

Sabtu, 15 Desember 2012

A. Muqaddimah


Firman Allah SWT: 



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ. 



“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6) 



Rasullullah SAW bersabda: 

فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ اِلَي مَنْ هُوَاَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهِ 

Maka mungkin saja orang yang membawa berita lebih faqih dari orang yang menerima berita, dan mungkin pula orang yang membawa berita tidak lebih faqih dari yang menerima berita. (HR. Tirmidzi dalam kitab Al-‘Ilmu, dikatakan hadits Hasan. Diriwayatkan pula oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad) 

Pada dalil di atas terdapat prinsip yang tegas dalam mengambil kebenaran suatu berita atau kabar demikian pula dengan tata cara penerimaannya, dengan cara menyeleksi, mencermati dan mendalami berita tersebut sebelum menyampaikan kepada yang lain. 

Berdasarkan hal ini, maka suatu berita tidak langsung dapat diterima kebenarannya sebelum diketahui siapa-siapa saja yang menyampaikannya (sanad-nya). Dari sinilah mulai muncul ilmu-ilmu yang membahas tentang penerimaan suatu berita, khususnya dalam penerimaan Hadits yang kemudian dikenal dengan nama Ulumul Hadits atau Ilmu Hadits. 

Definisi Ilmu Hadits sendiri yaitu : الْقَوَاعِـدُ الْمُعَـرِّفَةُ بِحَالِ الرَّوِي وَالْمَرْوِي (Kaidah-kaidah yang mengetahui keadaan perawi dan yang diriwayatkan).[1] Selanjutnya Ilmu Hadits terbagi menjadi dua : Hadits Riwayah dan Hadits Dirayah (mushthalahul hadits). 

Hadits Riwayah adalah suatu ilmu untuk mengetahui cara-cara penukilan, pemeliharaan dan penulisan apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir dan lainnya. Dalam menyampaikan dan menuliskan hadits, hanya dinukil dan dituliskan apa adanya, baik mengenai matan maupun sanadnya. Ilmu ini tidak berkompeten membicarakan apakah matan-nya ada yang janggal atau ber-‘illat, apakah sanad-nya terputus atau bersambung sampai ke Rasulullah SAW. Lebih jauh tidak dibahas hal ihwal dan sifat-sifat perawinya.Faedah mengetahui ilmu ini adalah untuk menghindari adanya kemungkinan salah kutip terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. 

Hadits Dirayah adalah kaidah-kaidah untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan hadits, sifat-sifat rawi dan lain sebagainya. Ilmu hadits dirayah ini disebut juga ilmu Mushthalahul hadits. Kitab yang dianggap paling ‘mapan’ menerangkan ilmu Mushthalahul hadits adalah kitab “Al-Kilafah” karangan Al-Khatib Abu Bakar Al-Baghdady (w. tahun 463 H).Faedahnya untuk menetapkan ke sahihan suatu hadits dan untuk menetapkan apakah hadits tersebut dapat diterima (maqbul) untuk diamalkan atau ditolak (mardud) untuk ditinggalkan. 

Awal perkembangan Ilmu Hadits Dirayahterjadi pada awal abad IVHijriyah. Orang yang pertama menyusun kitab dalam bidang ini adalah Qadli Abu Muhammad Hasan bin Abdurrahman bin Khalad ar-Ramahurmuzi (wafat 360 H) yaitu kitab Al-Muhaddits al-Fâshil Baina Ar-Râwi wa al-Wâ’i. 

B. Definisi Hadits, Khabar, Naba’, Atsar dan Sunnah 

a. Hadits ( الحـد يث )

Pengertian hadits secara harfiah berarti al-Jadîd ( الجديد ) atau baru, bentuk jama’ dari hadîts adalah ahâdîts, lawan katanya qiyâs. Dalam terminologi Islam istilah hadîts berarti melaporkan/mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad SAW. Kata hadîts itu sendiri adalah bukan kata infinitif,[2] melainkan kata benda.[3] 

Namun seiring perjalanan, kata hadîts mengalami perluasan makna, sehingga disinonimkan dengan sunnah, maka bisa berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW. yang dijadikan ketetapan ataupun hukum.[4] Dari sini berkembang pengertian-pengertianistilah hadîts, diantaranyadiartikan sebagai sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir maupun sifat. 

مَا اُضِيْفَ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَـلَّمَ مِنْ قَوْلٍ اَوْ فِعْـلٍ اَوْ تَقْـرِيْرٍ اَوْ صِفَـةٍ[5] 

Sebagian yang lain mendefinisikan hadîts sebagai sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, sifat, keadaan ataupun himmah[6] Nabi SAW. Ada perbedaan pendapat dalam hukum himmah itu sendiri. Menurut Imam Syafi’i bahwa menjalankan himmah itu termasuk sunnah, tetapi Imam Syaukani mengatakan tidak termasuk sunnah karena belum dilaksanakan oleh Rasulullah SAW. 

Contoh hadîts qauliy (perkataan): 

عَن ابْنِ عُمَرَ رَضِيَاللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (( صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى, فَإِذَا خَشِيَ اَحَدُكَمَ الصُبْحَ صَلَّى رًكْعَةً وَاحِدَةً, تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى )). متفق عليه[7]

Contoh hadîts fi’liy (perbuatan): 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّ الضُّحَى أَرْبَعًا, وَيَزِيْدُ مَا شَاء اللهً. رواه مسلم[8]

Contoh hadîts taqririy (ketetapan): 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كًنَّا نُصَلِّى رَكُعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوْبِ الشَّمْسِ, وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرَلنَا, فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَينَا. رواه مسلم[9]
b. Khabar (الخـبر) 

Khabar menurut bahasa berarti an-Nabâ’( النبــأ ) atau berita,[10] bentuk jama’ dari khabar adalah akhbâr. Menurut istilah terdapat 3 pendapat, yaitu:[11] 

1. Sinonim dari hadîts; memiliki arti sama dengan hadîts. 

2. Berbeda dengan hadîts. Hadîtsberasal dari Nabi SAW, sedangkan khabar berasal selain dari Nabi SAW. 

3. Lebih general dari hadîts. Hadîtsberasal dari Nabi SAW, sedangkan khabar adalah yang berasal dari Nabi SAW maupun dari selain Nabi SAW. 

c. Naba’ (النبــأ) 

Menurut bahasa berarti berita. Menurut istilah an-naba’ sinonim dari al-khabar, artinya memiliki definisi yang sama dengan al-khabar. 

d. Atsar (الأثــر) 

Menurut bahasa berarti بَقِيَةُ الشَيْئ yaitu “sisa” atau “jejak”.[12] Menurut istilah terdapat dua pendapat: 

1. Sinonim dari hadîts, dengan kata lain memiliki memiliki pengertian yang sama dengan hadîts. 

2. Memiliki pengertiang yang berbeda dengan hadîts, yaitu berarti sesuatu yang disandarkan kepada para shahabat dan tabi’in, baik berupa perkataan maupun perbuatan. 

Imam Nawawi mengatakan bahwa para ahli hadîts menamakan Hadîts Marfû’dan Hadîts Mauqûf sebagai atsar. 

e. Sunnah (السنــة) 

Menurut bahasa sunnah berarti السِّيْرَةُ المُتْبَعَـةُ yaitu suatu perjalanan yang diikuti, baik itu dinilaisebagai perjalanan yang baik ataupun perjalanan yang buruk.[13] 

Menurut istilah ulama ahli hadîts, sunnah sinonim hadîts atau memiliki pengertian yang sama dengan istilahhadîts yang telah berkembang. Sebagian ‘Ulama’ yang mendefinisikan dengan ungkapan singkat : اَقْوَالُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَفْعَالُهُ وَاَحْوَالُهُ (“Segalaperkataan Nabi SAW, perbuatan beliau dan segala tingkah laku beliau”).[14]  


C. Kesimpulan

Ulumul Hadits merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk hadits, yang terbagi dalam Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah. Melalui Ulumul Hadits ini dapat diketahui kualitas suatu hadîts ditinjau dari berbagai sudut pandang, sehingga dapat diputuskan hadîts tersebut dapat dijadikan dalil dalam agama ataupun kehidupan sehari-hari atau tidak. 

Hadits tersusun dari sanad dan matan (isi hadits). Sanad inilah yang menjadi neraca untuk menimbang derajat atau kualitas suatu hadits. Hadîts tidak dapat dijadikan hujjahjika terdapat persyaratan yang tidak terpenuhi dalam keshahihan suatu hadîts, walaupun mungkin hadits tersebut pada hakikatnya benar, demi lebih berhati-hati dalam menentukan suatu hukum. Terutama pada hadîts-hadîts yang menyinggung masalah aqidah. Namun, dalam hadîts-hadîts sosial selama tidak menyalahi kemashlahatan ummat dan tidak bersinggungan dengan aqidah, walau derajat hadits bukan shahih sebagian pendapat membolehkan untuk dipakai.


Disusun Oleh: Badri, Muh. Mumtas Nur Faqih dan Nasruddin

[1]Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag., Ulumul Hadîs, hlm. 5.MengutipdariAjajal-Khathib, Ushûlal-Hadîts, hal. 33
[2]IbnManthûr,Lisân al-Arab, vol. 2, hal. 350; Kairo: Dar al-Hadith
[3]Abu al-Baqa’al-Kafawi, al-Kuliyât, hal. 370; Al-Risâlah Publishers. Frase terakhir oleh al-Qasimi dalam Qawâid al-Tahdith, hal. 61, Beirut: Dar al-Nafais
[4]"Hadith," Encyclopedia of Islam
[5]Ath-Thahhân, TaysîrMusthalâh Al-Hadîts.., hlm. 15, Surabaya: Al-Haramain
[6]Himmah adalah hasrat Nabi SAW. yang belum terealisir, contohnya hadits riwayat Ibnu Abbas : “Dikala Rasûlullah SAW.berpuasa pada hari ‘Asura dan memerintahkan untuk dipuasai, para sahabat menghadap kepada Nabi, mereka berkata, ‘Ya Rasulullah, bahwa hari ini adalah yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani’, Rasulullah menjawab, ‘Tahun yang akan datang, Insya Allah aku akan berpuasa pada tanggal sembilan’.” (HR Muslim dan Abu Dawud). tetapi Rasulullah tidak sempat merealisasikannya, disebabkan beliau telah wafat.
[7]Ibn Hajar al-‘Asqalâniy, Bulugh al-Maram, hal. 74,hadîts no. 390
[8]Ibid, hal. 78,hadîts no. 415
[9]Ibid, hal. 73,hadîts no. 385
[10]Ath-Thahhân, TaysîrMusthalâhal-Hadîts.., hlm. 15
[11]Ibid. hal 15
[12]Ibid.,hlm. 16
[13]Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag., Ulumul Hadis, hlm. 5
[14]Ibid. hal. 5
 photo IklanBannerSQBlogRUL.gif
Silahkan Bagi Tulisan Ini :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Silahkan Komentar Sahabat.....

Insya Allah, Suara Anda akan Menjadi Wahana Perbaikan Selanjutnya pada Blog INI, Sukses Selalu SOBAT !!!

Previous Next Home
 
ADMIN : SQ BLOG - wahana ilmu dan amal HASRUL | FB RulHas - SulTra | TWITTER RulHas BS
Copyright © 2014. ZYIAR™ BS - All Rights Reserved
Support : Creating Website | Mas Template
Proudly powered by Blogger