Daftar Isi/Contents SQ BLOG >> KLIK DISINI
kajian(*)Quran_Hadis_Sains. Diberdayakan oleh Blogger.

Kajian tentang Tuhan di Zaman Modern

Sabtu, 16 Januari 2016

Salam hangat Sobat SQ Semuanya, menutup pembahasan mengenai filsafat ketuhanan sebelumnya, admin akan menguraikan sekilas pandangan tentang Tuhan di zaman modern sekrang ini, tentunya dalam perspektif filsafat. Seraya mengingatkan beberapa topik terkait sebelumnya, yaitu Bincang-bincang Mengenai TuhanKonsep Tuhan dalam Islam, dan Tuhan Menurut Ilmu Pengetahuan.

Kegelisahan kalangan ilmuwan Barat terhadap Tuhan tidak lagi tersimpan hanya di dalam benak mereka, tetapi sudah diungkapkan ke dalam tulisan yang lebih serius. Sebenarnya, keberadaan dan peran Tuhan pernah dipertanyakan oleh filosof Inggris, Francis Bacon. Kemudian dikembangkan oleh filosof Prancis, August Comte yang dikenal dengan teori positivieme, yang menganggap peran agama dan Tuhan sudah digantikan oleh kemampuan kreatif manusia. Namun kaum Positivis belum memberikan uraian lebih mendalam tentang bagaimana peran agama dan eksistensi Tuhan.[1]

Pada abad ke-17, bahkan sebelumnya, yaitu ketika Renaisans telah terjadi upaya membawa dunia Barat ke arah sekularisme dan penipisan peran agama dalam kehidupan sehari-hari manusia. Akibatnya, lahir sejumlah orang Barat yang secara praktis tidak lagi menganut agama Kristen atau Yahudi. Orang semacam Comte, yang pikiran-pikirannya begitu anti metafisis menjadi jalan mulus menuju ke arah sekularisme dunia Barat. Ditambah dengan filsafat sosial Karl Marx yang menegaskan bahwa agama adalah candu masyarakat yang karenanya harus ditinggalkan. Puncaknya ketika Nietzsche mengeluarkan statemennya bahwa Tuhan telah mati (the God is dead).[2]

Benih kemunculan filsafat Ketuhanan dalam dunia modern mula-mula muncul di negeri Inggris. John Stuart Mill merupakan salah satu tokohnya yang turut mempengaruhi pandangan-pandangan filosof sesudahnya. Pandangan Stuart Mill ditunjang oleh pendapat-pendapat yang datang silih berganti sesudahnya. Konsep ajarannya berdiri di atas satu dasar, yaitu evolusi kemunculan (emergent evolution). Dari penamaan teorinya, para filosof pendukung teori ini mengebangkan teori evolusi yang dicetuskan oleh Darwin. Di antara filosof dalam jalur ini selain John Stuart Mill ialah, Loyd Morgan, Samuel Alexander (yang menggabungkan pemikiran Darwin, Hegel, dan Einstein), dan Marshall Christian Smitz. Konsep Tuhan dalam pandangan ini menyatakan bahwa wujud Tuhan selalu bersama di atas bersama zaman yang abadi, tanpa kesudahan. Selain di Inggris, William James dan Josiah Royce masing-masing mewakili aliran filsafat ketuhanan ini di benua Amerika.[3]

Di belahan Eropa lainnya, tepatnya di Prancis, Henry Bergson merupakan seorang filosof yang memiliki teori evolusi kreatif (Creative Evolition). Teorinya menyatakan bahwa Sang Pencipta (Tuhan) bukanlah seperti yang digambarkan oleh para pemeluk agama dan tidak pula seperti yang dilukiskan oleh para pendukung filsafat mekanisme. Menurut Bergson, kelompok pertama menyerupakan perbuatan Sang Pencipta dengan perbuatan manusia. Sedangkan kelompok kedua, pikiran mereka dikalahkan oleh selubung industri, sehingga mereka menyangka bahwa alam semesta itu seperti mesin-mesin raksasa. Jalan tengah antara dua pendapat tersebut menurut Bergson adalah bahwa kekuatan yang menciptakan atau evolusi pencipta (Creative Evolution) itu ada di dalam alam semesta dan tidak terdapat di luar alam semesta. Kekuatan itu adalah gerakan terus-menerus yang menghadapi kesulitan dari perlawanan kejumudan yang terus-menerus, yaitu kejumudan benda mati.[4]

Selain Inggris dan Prancis, Jerman juga memiliki peranan penting dalam topik ini. Ajaran filsafat dari negeri tersebut yang paling terkenal ialah Phenomenology atau Existentialism yang banyak bertumpu pada ukura-ukuran buat menelaah serangkaian kebenaran dan mengadakan pemisahan antara bidang ilmu, filsafat, dan pengalaman kejiwaan. Di antara filosofnya yang terkenal ialah Friedrich Wilhelm Nietzsche yang menyatakan Tuhan telah mati; Edward van Hatmann yang berpandangan bahwa Tuhan bukanlah suaru Zat dan Ia tidak merasakan diri-Nya sendiri atau Ia tidak memiliki aku yang menjelma pada alam; dan Spengler yang berpendapat bahwa Tuhan tidak lain adalah kehendak.[5]

Para filosof yang berbeda-berbeda pandangan dalam masalah ini bertemu dalam pengukuhan kehendak tentang kebenaran-kebenaran alami dan sifat-sifat Tuhan. Itulah pokok pelajaran yang banyak berisi pandangan-pandangan terkait akal, karena pengukuhan kekuatan dalam pelbagai ajaran Jerman, dan pengukuhan prinsip Ketuhanan di Inggris tidak terjadi secara kebetulan saja. Pada sisi lain, filosof modern mengecam kaum beragama yang memasukkan gambaran manusia ke dalam pemahaman hakikat-hakikat abstrak. Mereka mengaitkan beragam sifat perbuatan yang hanya mungkin dilakukan manusia kepada Tuhan.

Secara umum, mazhab filsafat Ketuhanan dalam dunia modern cenderung materialisme-positivisme. Pandangan dalam mazhab ini menegaskan bahwa ungkpan tentang Tuhan tidak memiliki makna. Maksimal ungkapan-ungkapan itu hanya benar secara logis-gramatikal dan merupakan ekspresi psikologis sang pembicara tetapi tidak memiliki muatan rujukan ataupun objek ontologis.[6] Budaya saintisme yang menjadi prasayarat utama bagi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa mengajarkan manusia hanya untuk memperhatikan dan mengetahui gejala-gejala fisikal dan material saja. Cara memandang dengan metode positivistik ini ternyata berhasil secara mengagumkan. Satu dari konsekuensi niscaya dari metode itu adalah hilangnya kesadaran akan nilai-nilai spritual yang suci yang bersifat transsendental.[7]

Perkembangan dan kemajuan masyarakat modern saat ini yang terus meningkat dan berhasil dalam berbagai aspek, akhirnya berkembang lepas dari kontrol agama. Iptek yang landasan pokoknya bersifat sekuler bagi sebagian besar orang di Barat akhirnya menggantikan posisi agama. Segala kebutuhan agama seolah bisa terpenuhi dengan dan melalui iptek. Namun dalam kurun waktu yang panjang, iptek ternyata menghiantai kepercayaan manusia. Kemajuan iptek justru identik dengan bencana. Kondisi inilah yang tampaknya membuat masyarakat Barat mengalami apa yang disebut Nurcholish Madjid, yang dikutinya dari Baigent sebagai krisis epistemologis, yakni masyarakat Barat tidak lagi mengetahui tentang makna dan tujuan hidup (meaning purpose of live).[8]


Perdebatan apakah Tuhan bisa dipahami dan dijelaskan, atau sebaliknya oleh nalar manusia sesungguhnya sudah merupakan persoalan klasik. Oleh karenanya, pembahasan mengenai hakikat Tuhan sejak dahulu terdapat perbedaan jelas antara religious language dan scientific language. Walaupun sebelumnya telah dijelaskan bahwa para saintis akhirnya turut serta memberikan sumbangsih dalam membuktikan ekssistensi tuhan melalui berbagai sudut pandang analisa ilmu pengetahuan. Namun, masih ada juga di antara mereka yang menghasilkan kesimpulan lain yang mengarah pada kesangsian akan keberadaan Tuhan.


Para pemikir kenamaan seperti Bertrand Russel, Alfred J. Anyer maupun August Comte berpendapat bahwa semua deskripsi yang diletakkan pada Tuhan tidak bisa diverifikasi kebenarannya maupun kesalahannya karena Tuhan diyakini sebagai yang Maha Abstrak yang berada diluar dunia manusia. Bagaimana mungkin manusia menpertahankan pendapatnya mengenai Tuhan kalau sejak awal mereka sudah sepakat bahwa Tuhan jauh di luar wilayah jangkauan manusia? Oleh karenanya, bagi penganut agnostisisme, pernyataan Tuhan ada ataupun tidak ada, keduanya sama saja nilainya karena kedua proposisi itu tidak bisa diverifikasi.[9]

Dari gambaran filsafat Ketuhanan yang terjadi pada zaman modern di atas, melahirkan fenomena menarik dalam beragama di Barat pada dekade terakhir, yaitu:[10]
  1. Pertama, kelompok yang tetap nempertahankan tradisi lamanya tanpa peduli perkembangan apa pun di sekitarnya. Mereka tetap mempertahankan tradisi keagamaan mereka yang diwarisi secara turun-temurun dari leluhur mereka. Di wilayah Timur, kelompok ini dianggap sebagai kelompok mainstream dan mayoritas, tetapi di Barat kelompok ini diposisikan sebagai kelompok sempalan (fringe).
  2. Kedua, mengakui adanya Tuhan tetapi cenderung tidak percaya terhadap intuisi dan pranata agama. Mereka tetap percaya keberadaan Tuhan tetapi tidak mau terikat dengan tradisi keagamaan. Mereka berkenyakinan Tuhan hanya satu untuk semua agama, karena itu bebas untuk mengikuti ritual-ritual kebaktian agama lain.
  3. Ketiga, kelompok Ateis yang memang sudah tidak mau mengakui adanya Tuhan atau tidak mau pusing apakah Tuhan itu ada atau tiada. Kelompok ini sebetulnya juga belum bisa disebut Ateis sejati karena mereka masih tetap respek terhadap kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Mereka masih percaya terhadap kecenderungan suara hati nurani dan bagi mereka itu lebih penting ketimbang ajaran agama atau sabda Tuhan.
  4. Keempat, kelompok yang mengalihkan perhatian dan kegelisahannya pada nilai-nilai ketimuran, khususnya nilai-nilai keislaman. Mereka tidak puas dengan agama yang dianutnya selama ini tetapi mereka tidak berani menjadi Ateis. Mereka juga masih sangat percaya adanya Tuhan dan masih menganggap perlunya agama berperan di dalam kehidupan, meskipun dalam skala yang terbatas.
Sekian, by ADMIN


ENDNOTE


[1] Nasaruddin Umar, Islam Fungsional; Revitalisasi dan Reaktualisasi Nilai-nilai Keislaman (Jakarta: Gramedia, 2014), Cet. I, h. 185.
[2] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 46.
[3] Abbas Mahmud Aqqad, Tuhan Disegala Zaman, terj. M. Adib Bisri dan A. Rasyad dari judul asli “Allah” (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), Cet. I, h. 239-242.
[4] Abbas Mahmud Aqqad, Tuhan Disegala Zaman, terj. M. Adib Bisri dan A. Rasyad dari judul asli “Allah” (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), Cet. I, h. 254-255.
[5] Abbas Mahmud Aqqad, Tuhan Disegala Zaman, h. 256-257.
[6] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 35.
[7] Komaruddin Hidayat dan M. W. Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. h. 45.
[8] Komaruddin Hidayat dan M. W. Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. h. 46-47.
[9] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial. (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 28.
[10] Nasaruddin Umar, Islam Fungsional; Revitalisasi dan Reaktualisasi Nilai-nilai Keislaman (Jakarta: Gramedia, 2014), Cet. I, h. 188-189.

Tuhan Menurut Ilmu Pengetahuan

Selasa, 12 Januari 2016

Salam Sobat SQ, kali ini baru bisa lanjut pembahasan sebelumnya terkait kajian mengenai Tuhan, yaitu Bincang-bincang Mengenai Tuhan dan Konsep Tuhan dalam IslamDalam bahasan kali ini akan mengulas pandangan ilmu pengetahuan tentang Tuhan. Berikut sekilas kajiannya Sobat.

A. KONSEP TUHAN PARA FILOSOF ALAM

Para Filosof Yunani Awal kadang-kadang disebut filosof alam sebab mereka menaruh perhatian pada alam dan proses-prosesnya. Berikut beberapa pandangan filosof alam terkait ketuhanan:

a. Thales; Tuhan ialah air. Bagi Thales, air adalah sebab yang pertama dari segala yang ada dan yang terjadi, juga akhir dari segala yang ada dan yang terjadi itu.[1]
b. Anaximandros; Tuhan ialah sesuatu Yang Asal, yang tak berkeputusan dan Yang tidak berhingga,[2]
c. Anaximenes; Tuahan ialah Udara,[3]
d. Herakleitos; Tuhan ialah Api,[4]

B. KONSEP TUHAN MENURUT FILOSOF YUNANI KUNO

a. Konsep Tuhan Menurut Socrates

Sistem Socrates untuk membangunkan pengetahuan manusia tentang Tuhan memakai dua jalan. Pertama, berdasar pada bukti-bukti alam. Kedua, dengan alas an-alasan sejarah. Melalui bukti-bukti alam dengan membentangkan pristiwa-pristiwa alam itu sendiri, sedangkan melalui alas an-alasan sejarah dengan mengemukakan tabiat manusia yang dengan sendirinya tertarik kepada adanya Tuhan yang menjadikan, mengatur dan memelihara manusia. Dalam hal ini, Socrates mengemukakan bahwa Tuhan itu sangat besar perhatiannya kepada manusia. Lebih jauh diterangkan oleh Socrates, bahwa Tuhan pencipta alam tidaklah memperhatikan manusia saja. Bahkan Ia adakan pula roh bagi manusia.[5]

b. Konsep Tuhan Menurut Plato

Sebagai murid utama Socrates, ia mengembangkan doktrin gurunya disamping menyempurnakan pemikiran-pemikirannya. Menurut Plato, segala keadaan di dunia ini tidak kekal. Karena itu, dunia yang ditempati manusia ini adalah dunia bayangan. Sedangkan dunia cita-cita adalah dunia yang kekal, yang tidak berubah, yang selalu dicari manusia yang berfikir.[6]

Dari sinilah, lahir pandangan konsep Tuhan menurut Plato yang dikenal dengan konsep dunia ide. Menurutnya, alam ada dua, yaitu alam akal dan alam lahir. Gambar-gambar tubuh dan segala yang ada dalam dunia ini adalah ibarat kaca yang menagkap gambar-gambar yang lahir. Dengan demikian, filsafat ketuhanan Plato menekankan untuk menyelami diri-sendiri, sehingga ia akan menemukan citra Tuhan terpantul di dalam ala batinnya sendiri.[7]

c. Konsep Tuhan Menurut Aristoteles

Aristoteles adalah pencetus pertama kali argument kosmologis dengan gagasannya mengenai Penyebab pertama atau Penggerak yang tidak bergerak. Tuhan menggerakkan alam bukan sebagai penyebab efisien, tapi sebagai penyebab final. Ia menyatkan bahwa Tuahn menggerakkan karena dicintai dan segala sesuatu di alam semesta bergerak pula menuju penggerak yang sempurnah tersebut. Teori kosmologis Aristoteles ini kemudian dikembangakan oleh Al-Kindi menjadi dalil Huduts atau argument kabaruan sebagaimana dijelaskan sebelumnya.[8]

C. KONSEP TUHAN DALAM PERSPEKTIF ILMU PENGETAHUAN

a. Sains; Sebuah Pendekatan Memahami Kebesaran Tuhan

Pengetahuan alam, sebetulnya tidak memberikan suatu kesimpulan telanjang kepada para pembahasas masalah-masalah Ketuhanan. Karena objek kajiannya hanya membicarakan hal yang tidak essensial dari wujud-wujud dan tidak sampai mengulas hakikat wujud itu yang memang tidak termasuk ke dalam objek percobaan ilmu tersebut. Namun, sarjana ilmu alam berhak mengemukakan pendapatnya tentang masalah ini sesuai pertimbangan akal, dalil, dana naluri yang sadar.[9]

Albert Einstein misalnya, pernah berkata. “orang-orang yang memiliki kenyakinan agama yang besar disagala zaman mengimami agama tanpa bertumpu pada satu aliran dan tidak membayangkan Tuhan menurut sosok manusia. Bagaimana mungkin rasa keagamaan yang universal itu tanpa membayangkan dalam satu bentuk tertentu? Saya melihat bahwa peranan tertinggi sesuatu profesi ia menggugah perasaan tersebut dan mempertahankannya pada khalayak yang siap menerimanya”. Ungkapan Enstein tersebut menunjukkan keimanannya terhadap eksistensi Tuhan.[10]

Selain Albert Einstein, Sir Oliver Lodge juga beriman terhadap Tuhan dan roh serta menyadari manfaat sembahyang atau berdo’a. Maurice Bucaille, seorang ilmuwan prancis yang juga sangat percaya dengan kekuatan Tuhan. Dalam berbagai risetnya, selalu berdasarkan aturan agama dan petunjuk-petunjuk wahyu, diantaranya Kitab suci al-Quran dan Hadis. 

b. DNA; Kehadiran Sesuatu yang Agung

Kazuo Murakami, seorang ilmuwan DNA kontemporer asal Jepang menyatakan, saya terpaksa mengakui bahwa rahasia keajaiban DNA adalah suatu keajaiban yang jauh melebihi pengertian atau kapasitas manusia. Hal ini membawa saya pada keputusan akan adanya suatu yang lebih besar. Selama lebih dari sepuluh tahun saya menyebutnya sebagai “Sesuatu Yang Agung”.[11]

Menurut Kazuo Murakami, walaupun kita tidak dapat melihatnya, berlangsungnya kehidupan yang terus menerus menunjukkan bahwa kuasa ini ada. Dengan bekerja dalam penelitian genetic, perlahan membuat saya betapa pentingnya memperhatikan kanyataan bahwa kita hidup di dunia ini berkat adanya keberadaan ini, yang telah mendahului keberadaan kita semua.[12]

Admin menyadari bahwa uraian di atas masih sangat terbatas, namun semoga dapat memberikan pemahaman atau setidaknya gambaran umum sekilas diskusi ini.


ENDNOTE

[1] Jostein Gaarder, Dunia Sophie terj. Rahmani Astuti dari judul asli “Sophie’s World” (Bandung: Mizan, 2012), h. 71.
[2] Samudra, Azhari Aziz dan Setia Budi, Hakekat Akal Jasmani dan Rohani Bagian 1 (t.tp.: Yayasan Majelis Ta’lim HDH, 2004), Cet. I, h. 25.
[3] Jostein Gaarder, Dunia Sophie, h. 72.
[4] Samudra, Azhari Aziz dan Setia Budi, Hakekat Akal Jasmani dan Rohani Bagian 1, h. 31.
[5] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan (Bandung: Alma’arif, 1984), Cet. II, h. 49-50.
[6] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan, h. 51-52.
[7] Zaprulkan, Filsafat Islam; Sebuah Kajian Tematik (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), Cet. I, h. 77.
[8] Zaprulkan, Filsafat Islam; Sebuah Kajian Tematik (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), Cet. I, h. 78.
[9] Abbas Mahmud Aqqad,  Tuhan Disegala Zaman, terj. M. Adib Bisri dan A. Rasyad dari judul asli “Allah” (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), Cet. I, h. 267-268.
[10] Abbas Mahmud Aqqad,  Tuhan Disegala Zaman, h. 273
[11] Kazuo Murakami, The Divine Message of the DNA; Tuhan dalam Gen Kita, terj. Winny Prasetyowati dari judul asli “The Divine Code of Live: Awaken Your Genes & Discover Hiden Talents” (Bandung: Mizan, 2007), Cet. III, h. 166.
[12] Kazuo Murakami, The Divine Message of the DNA; Tuhan dalam Gen Kita, h. 169.


Baca Juga:

Konsep Tuhan dalam Islam

Selasa, 29 Desember 2015

Setalah postingan admin sebelumnya sebagai pendahuluan dalam topik ini mengenai Bincang-bincang Mengenai Tuhan. Postingan berikut di bawah ini adalah kelanjutan dari bahasan tersebut. Sobat perlu admin utarakan, mungkin bahasan ini kurang relevan bagi kaum awam, iya benar adanya sebab tulisan ini admin lebih khususkan bagi kalangan akademisi. Lalu dimana urgennya, sobat dalam era modern ini, kajian mengenai Tuhan perlu dikemukakan kembali dalam menghadapi perkembangan dunia modern yang relatif materialisme, sekuler dan liberal. Mungkin disinilah salah satu maksud postingan ini.

Pembahasan kali ini, Konsep Tuhan dalam Islam, berikut paparannya sobat:

>> Tuhan dalam Perspektif Islam

Dalam al-Quran, nama Tuhan dihadirkan dengan nama Allah disamping terdapat juga nama-nama lain yang dikenal dengan istilah Asma al-Husna. Nama Allah sering dinamakan ism al-jalalah atau ism al-jam’, yaitu nama yang mencakup atau mewadahi semua nama-nama Tuhan yang lain. Dengan begitu, maka kata Allah mengacu pada Tuhan dan ke-Absolutan-Nya. Suatu zat yang maha Akbar dan Gaib yang hakikat kualitas-Nya tidak mungkin dideskripsikan oleh penalaran manusia.[1]

Senada dengan keterangan di atas, Quraish Shihab juga menegaskan bahwa kata Allah merupakan nama Tuhan yang paling populer. Kata Allah jika disebutkan, maka sudah mencakup semua nama-nama-Nya yang lain. Sedangkan, jika mengucapkan nama-Nya yang lain , misalnya al-Rahman, al-Malik, dan sebagainya, maka ia hanya menggambarkan sifat Rahmat dan sifat Kepemilikan-Nya.[2] Secara tegas, Tuhan yang Maha Esa itu sendiri yang menamai dirin-Nya Allah sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran surah Maryam:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي. ﴿سورة طه: ١٤﴾

Artinya: “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembhalah Aku.” (Q.S. Thaha [20]: 14)

Dalam ayat lain:

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا. ﴿سورة مريم: ٦٥﴾

Artinya: “Apakah engkau mengetahui ada sesuatu yang bernama seperti itu?.” (Q.S. Maryam [19]: 65)

Kata Allah sendiri sudah dikenal jauh sebelum Islam datang di Arab. Namun Allah dalam pengertian orang Arab pra-Islam, berbeda dengan konteks Allah dalam Islam. Menurut Winnet, seperti dikutip al-Faruqi dalam “The Cultural Atlas of Islam”, Allah bagi orang Arab pra-Islam dikenal sebagai dewa yang mengairi bumi sehingga menyuburkan pertanian dan tumbuh-tumbuhan serta ternak. Sedangkan dalam Islam, Allah dikenal sebagai Tuhan yang Maha Esa, tempat berlindung segala yang ada. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Juga tidak ada satu apa pun yang menyerupai-Nya.[3] Keterangan ini menunjukkan kata Allah telah lama dikenal dalam masyarakat Arab dan mereka menyadari akan keberadaannya. Hal ini disebutkan dalam ayat al-Quran:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ. ﴿سورة العنكبوت: ٦١﴾

Artinya: Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (Q.S. al-Ankabut [29]: 61)

Dalam ayat berikutnya:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ. ﴿سورة العنكبوت: ٦٣﴾

Artinya: Dan Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya). (Q.S. al-Ankabut [29]: 63)

Mengenai asal kata “Allah”, para ulama dan pakar bahasa telah mendiskusikan kata tersebut sekilas apakah ia memiliki akar kata atau tidak. Banyak ulama yang berpendapat bahwa kata Allah asalnya adalah ilah (اله) yang dibubuhi huruf alif dan lam menjadi Al-Ilah (الاله). Dengan demikian, Allah adalah nama khusus karena tidak dikenal bentuk jamknya. Sedangkan, kata ilah (اله) sendiri adalah nama yang bersifat umum dan dapat berbentuk jama’ (plural), yaitu menjadi Alihah (الهة). Alif dan lam yang dibubuhkan pada kata Ilah berfungsi menunjukkan bahwa kata yang dibubuhi itu merupakan suatu yang telah dikenal dan benak.[4]

Dalam perkembangan lebih jauh dengan alas an mempermudah, hamzah (ا) yang berada antara dua lam yang dibaca (i) pada kata al-Ilah (الاله) tidak dibaca lagi sehingga berbunyi Allah (الله). Sejak itulah, kata ini seakan-akan kata ini merupakan kata baru yang tidak memiliki akar kata dan juga menjadi nama khusus bagi Pencipta dan Pengatur alam raya yang wajib wujud-Nya. Menurut Ibnu Miskawaih Tuhan adalah zat yang tidak berjisim, azali, dan pencipta. Tuhan Esa dalam segala aspek. Ia tidak terbagi-bagi dan tidak mengandung kejamakan dan tidak satupun yang setara dengan-Nya, Ia ada tanpa diadakan dan ada-Nya tidak bergantung kepada yang lain sementara yang lain membutuhkan-Nya.[5]

Kata Allah memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh kata lain. Ia adalah kata yang sempurna huruf-huruf dan maknanya serta memiliki kekhususan berkaitan dengan rahasianya sehingga sementara ulama menyatakan bahwa kata itulah yang dinamai Ism Allah al-Azam (nama Allah yang paling mulia). Susunan kata Allah tersebut dapat membentuk kata Lillah (لله) jika menghapus huruf awalnya dalam arti milik bagi Allah. Kemudian, hapus huruf awal dari kata Lillah (لله) itu akan terbaca Lahu (له) dalam arti bagi-Nya. Selanjutnya hapus lagi huruf awal dari Lahu (له), akan terdengar dengan ucapan Hu (ه) yang berarti Dia (menunjuk Allah) dan bila ini pun dipersingkat akan dapat terdengar kata Ah yang sepintas atau pada lahirnya mengandung makna keluhan, tetapi pad hakikatnya adalah seruan permohonan kepada Allah.[6]

Sehubungan dengan nama dan sifat-sifat Allah, Ahlusunnah wa al-Jama’ah yang dipelopori oleh Imam Abu Hasan Ali Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi berbeda tajam dengan pandangan kaum Mu’tazilah dalam permasalahan ini. Kaum Mu’tazilah mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, Tuhan mendengar dengan Zat-Nya, Tuhan melihat dengan Zat-Nya, dan Tuhan berkata dengan Zat-Nya. Mereka berargumen bahwa kalau Tuhan memiliki sifat maka itu berarti Tuhan dua, yaitu zat dan sifat.[7] Sejalan dengan pandangan ini, Ibn Arabi berkata, “Allah sebagai Zat yang Absolut dan Maha Gaib, sesungguhnya tidak memerlukan nama.”[8] Disamping itu, Ibn Arabi juga membicarakan nama-nama Tuhan sebagai sebab-sebab instrumental yang digunakan Tuhan di dalam semua aktivitas penciptaan di dunia.[9] Uraian ini akan disinggung secara luas lagi pada pembahasan berikutnya dalam, “Tuhan Menurut Filsafat Islam”. 

>> Mencari Tuhan dengan Bimbingan dan Petunjuk Allah

Manusia memiliki kecenderungan primordial untuk selalu mencari Tuhan dengan menelusuri jejak-jejaknya. Tuhan juga mengenalkan Diri pada manusia. Tetapi karena terdapat jarak yang jauh antara Tuhan dan manusia, maka jarak itu lalu dijembatani dengan nama-nama serta tanda-tanda yang dalam bahasa Arab juga disebut, asma, ayat, dan alam. Asma biasanya muncul dalam wacana filafat dan teologi, ayat biasa dipahami sebagai informasi dan pengenalan diri Tuhan melalui wahyu (Kitab Suci), sedangkan alam ialah tanda-tanda kekuasaan dan kehadiran Tuhan melalui ciptaan-Nya berupa alam raya. [10]

Kisah Nabi Ibrahim a.s adalah salah satu contoh yang sangat menarik yang dilukiskan al-Quran dalam masalah ini. Beliau pada mulanya layaknya sebagai seorang manusia biasa, dia juga mencari-cari Tuhannya. Dalam surah al-An’am dijelaskan:

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ . فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ . فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ. ﴿سورة الأنعام: ٧٦-٧٨﴾

Artinya: “Ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (Q.S. al-An’am [6]: 76-78)

Dari ayat di atas, apakah Nabi Ibrahim hanya sekedar bertanya dalam hati kemudian Allah memberikan petunjuk? Tentu saja tidak demikian, karena Ibrahim selalu memikirkan, maka kemudian Allah menurunkan petunjuk.[11] Sehingga keluarlah dalam hati Ibrahim seperti ayat berikut:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. ﴿سورة الأنعام: ٧٩﴾

Artinya: “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan.” (Q.S. al-An’am [6]: 79)

Pertanyaan selanjutnya, mengapa Allah memberikan petunjuk kepada Nabi Ibrahim, bukan kepada yang lain. Hal ini dijelaskan Allah dengan singkat:

إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ. ﴿سورة الصافات: ٨٤﴾

Artinya: “(lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.” (Q.S. al-An’am [6]: 79)

Jadi jawabannya, karena dia memiliki hati yang suci. Allah kemudian memberikan petunjuk dan membukakan pandangan ma’rifatullah hingga akhirnya ia kembali kepada kaumnya untuk memberinya peringatan kepada jalan yang benar.[12] Kisah nabi Ibrahim berbeda dengan kisah Nabi Adam a.s. Pada mulanya di surge, Adam a.s adalah seorang yang beriman. Oleh karena melanggar perintah Allah, maka nabi Adam a.s diturunkan dari surge ke bumi. Sebagai akibatnya, lepaslah pakaian rohani dan imannya kembali kepada Allah. Sanksi itu harus dijalani sampai 200 tahun, untuk mendapatkan kembali iman dan pakaian rohani. Terdapat perbedaan di dalam mencari Tuhan di antara keduanya. Maksud mencari Tuhan bagi nabi Adam a.s tersebut ialah mencari keridhoan-Nya kembali. Sedangkan bagi nabi Ibrahim a.s adalah mengenal Tuhan yang memang belum ia kenal sebelumnya.[13]

>>   Pembuktian Tuhan Menurut Filsafat Islam

Mempersoalkan Tuhan dan keimanan lewat filsafat dalam dunia Islam juga banyak terjadi, walaupun dengan cara dan problema yang berlainan. Ajaran Islam yang pokok tercakup dalam dalam sebuah kata pendek saja, yaitu Tauhid. Konsepsi Tuhan menurut tauhid ialah bahwa Tuhan Maha Esa dan tak dapat dipersepsikan. Hal ini sejalan dengan firman Allah: 

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ. ﴿سورة الأنعام: ١٠٣﴾ 

Artinya: Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui.” (Q.S. al-An’am [6]: 103) 

Semua pemikir Islam berpegang ke sana sebagai dasar. Di antara mereka adalah Al-Kindi, Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibn Sina, pada abad-abad ke-10 dan ke-12, sampai kepada Abduh dan Iqbal pada Abad kita sekarang.[14] Berikut beberapa filsuf Islam yang memiliki konsep ketuhanan: 

a. Konsep Tuhan Menurut Al-Kindi

Al-Kindi berpendapat bahwa alam itu temporal dan berkomposisi, yang karenanya ia membutuhkan Pencipta yang menciptakannya. Hasil pandangan tersebut merupakan argument kosmologis Aristoteles yang dibungkus dengan istilah Arab, dalil al-Huduts atau argument kebaruan oleh Al-Kindi. Ia mengungkapkan bahwa alam semesta ini, betapa pun luasnya adalah terbatas. Karena terbatas, alam tidak mungkin tidak memiliki awal yang tidak terbatas. Oleh karena itu, tidak mungkin alam semesta bersifat azali (tak mempunyai awal). Berarti alam semesta ini baru (huduts).[15]

Bagi Al-Kindi, segala yang baru pastilah dicipta (muhdats). Karenanya, mengatakan bahwa alam itu baru adalah sama dengan mengatakan bahwa ala mini dicipta. Dengan demikian, sesuatu yang baru seperti ala mini, karena tidak bisa terbayangkan bisa muncul sendiri, memastikan adanya sebab yang memunculkannya dan itulah Tuhan. Dalam bahasa filosofis, Tuhan disebut dengan sebab pertama.[16]

b. Konsep Tuhan Menurut Ibn Rusyd

Dalam bukunya, Manahij al-Addillah, Ibn Rusy berusahan membuktikan adanya Allah Allah dengan apa yang disebut dalil Inayah. Menurut Ibn Rusyd, penciptaan yang menakjubkan dari segala yang ada di alam semesta, seperti penciptaan kehidupan organic, persepsi indrawi, dan pengenalan intelektual, merupakan bukti adanya Tuhan melalui bukti penciptaan yang menakjubkan atau keserasian. Terciptanya siang dan malam, matahari dan bulan, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan hujan, yang semuanya sesuai dengan kehidupan manusia dan makhluk-mahkluk lain yang berpijak pada prinsip keteraturan, atas dasar ilmu dan kebijaksanaan. Tatanan alam tersebut yang ditampilkan melalui harmoni yang dapat dilihat pada bagian-bagiannya dan pada benda-benda yang ada di dalamnya. Ia tidak hanya harmoni permukaan dan lahir saja tetapi juga harmoni dalam batin dan intinya. Harmoni ini bukan kebetulan, tetapi merupakan ciptaan Tuhan yang Maha Pengatur dan Bijak.[17]

c. Konsep Tuhan Menurut Al-Farabi dan Ibn Sina

Dalam masalah pembuktian adanya Allah, Al-Farabi dan Ibn Sina menempuh jalan lain. Mereka membedakan wujud dari esensi, dan menetapkan bahwa wujud sesuatu bukan merupakan bagian dari esensinya. Sebab, wujud merupakan salah satu aksidensia bagi subtansi bukan sebagai unsure pengadanya. Prinsip demikian berlaku bagi selain Yang Maha Esa, yang wujudnya tidak terpisah dari substansiny-Nya. Karena Ia adalah yang pertama dan harus ada dengan sendiri-Nya. Berdasarkan pemikiran ini. Al-Farabi dan Ibn Sina sampai pada kesimpulan bahwa kita tidak membutuhkan pembukyian yang panjang itu untuk menetapkan eksistensi Allah, dan kita cukup mengetahui Zat-Nya untuk menerima eksistensi-Nya sekaligus. Pada puncaknya, mereka berkesimpulan bahwa Allah adalah Zat yang harus ada karena diri-Nya sendiri (wajib al-wujud bi zatih) dan merupakan sebab pertama bagi segala entitas. Wujud-Nya merupakan yang paling sempurna, Maha Suci dari segala bentuk, materi, aksi, dan efisiensi.[18]

d. Konsep Tuhan Menurut Muhammad Abduh

Muhammad Abduh mempergunakan metode pembagian hukum akal, yaitu mungkin, mustahil dan wajjib. Diantara hukum-hukum yang mungkin bagi zatnya ialah bahwa ia tidak mungkin ada kecuali dengan suatu sebab. Sebagaimana yang mungkin itu memerlukan sebab dalam permulaan wujudnya. Akhirnya, Muhammad Abduh sampailah pada kesimpulan adanya Zat Yang Wajib Adanya sebagai penyebab utama dari segala zat yang masuk dalam kategori mungkin.


by: HASRUL

ENDNOTE

[1] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 32.
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Quran (Jakarta: Lentera Hati, 2012), Cet. V, h. 20
[3] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 32.
[4] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Quran (Jakarta: Lentera Hati, 2012), Cet. V,  h. 21-22.
[5] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam 9 (Jakarta: Raja Grofinda Bersada, t.t, h. 129-130.
[6] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Quran (Jakarta: Lentera Hati, 2012), Cet. V,  h. 23-24.
[7] Sirajudddin Abbas, I’tiqad Ahlusunnah Wal Jama’ah (Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, 2008), Cet. VIII, h. 207
[8] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 33.
[9] A.E. Affifi, Filsafat Mistis ibn ‘Arabi, terj. Sjahrir Mawi dan Nandi Rahman dari judul asli “A Mistical Philosopy of Muhyidin ibn ‘Arabi”. (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1995), Cet. II, h. 55
[10] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat, h. 34-35.
[11] Samudra, Azhari Aziz dan Setia Budi, Hakekat Akal Jasmani dan Rohani Bagian 1 (t.tp.: Yayasan Majelis Ta’lim HDH, 2004), Cet. I, h. 38.
[12] Samudra, Azhari Aziz dan Setia Budi, Hakekat Akal Jasmani dan Rohani Bagian 1, h. 39-40.
[13] Samudra, Azhari Aziz dan Setia Budi, Hakekat Akal Jasmani dan Rohani Bagian 1 (t.tp.: Yayasan Majelis Ta’lim HDH, 2004), Cet. I, h. 44-45.
[14] Ali Audah, Dari Khasanah Dunia Islam (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), Cet. I, h. 305.
[15] Zaprulkan, Filsafat Islam; Sebuah Kajian Tematik (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), Cet. I, h. 78-79.
[16] Zaprulkan, Filsafat Islam; Sebuah Kajian Tematik, h. 79.
[17] Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, terj. Y. Wahyudi Asmin dari judul asli “Fi al-Falsafah Islamiyyah: Manhaj wa Tatbiqub al-Juz al-Sani” (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), Cet. I, h. 119
[18] Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, h. 122-23.

Bincang-bincang Mengenai Tuhan

Salam Sobat SQ Blog, dimana pun berada, moga baik dan sehat selalu, amin..! Admin setelah beberapa lama jeda memberikan postingan blog ini, malam ini kembali membagikan satu pembahasan baru dalam blog ini. Isinya sich relatif berat, sedikit menyita pikiran sebab menyinggung mengenai filsafat, yaitu pembicaraan mengenai Tuhan. Tulisan ini admin telah presentasikan dalam mata kuliah filsafat umum beberapa waktu lalu di bawah bimbingan Prof. Dr. Zainun Kamal, F, M.A.

Sebelum panjang lebar, sobat semuanya apakah termasuk penggemar filsafat atau sebaliknya? Jika tidak ya juga tidak apa-apa. Mengutip salah satu istilah dalam filsafat, "aku berpikir, karena itu aku ada." Jadi sobat semuanya, semoga aja kita semuaya termasuk orang yang senantiasa berpikir, dan filsafat adalah  salah satu ruang pelampiasannya. hehe...

Kembali ke topik, perbincangan mengenai Tuhan. Tulisan ini admin kelompokkan ke dalam tiga pembahasan yaitu:
  1. Pendahuluan; Bincang-bincang mengenai Tuhan
  2. Konsep Tuhan dalam Islam
  3. Konsep Tuhan dalam Ilmu Pengetahuan
Pada kesempatan kali ini, ulasan pertama adalah sebuah Pendahuluan dengan topik Bincang-bincang Mengenai Tuhan. Berikut uraiannya sobat:

>> Topik Tuhan dalam Sejarah

Perkembangan dan pertumbuhan manusia dari kecil hingga besar turut serta diiringi dengan rasa ingin tahu yang terus bergejolak. Dalam lubuk hati yang dalam, memancar kecenderungan untuk tahu berbagai rahasia yang masih merupakan misteri yang terselubung. Dari arus pertanyaan yang mengalir dalam bisikan hati itu, terdapat suatu cetusan yang mempertanyakan tentang penguasa tertinggi alam raya ini yang harus terjawab. Pada tahap ini, bukan saja naluri yang bergejolak tetapi otak dan logika mulai untuk membentuk pengertian dan mengambil kesimpulan tentang adanya Tuhan.[1]

Demikianlah fitrah manusia bergejolak mencari dan merindukan Tuhan, mulai dari bentuk yang dangkal dan bersahaja berupa perasaan sampai ke tingkat tinggi berupa penggunaan akal (filsafat). Berbagai cara ditempuh orang, sepanjang sejarah manusia, karena ingin mengetahui; Adakah Tuhan? Di mana Dia? Siapa Dia? Bagaimana? Para Nabi Nabi sudah datang member tuntunan melalui agama. Manusia tak pernah puas. Ingin mencari sendiri melalui akal pikiran. Dalam sejarah filsafat sejak ribuan tahun yang silam, yang juga dikenal sejak masa filsafat sofisma Yunani, sudah mempersoalkan Tuhan dari segi filsafat dan sampai sekarang.[2]

Sehubungan hal ini, Abbas Mahmud Aqqad dalam bukunya menyebutkan bahwa awal mulanya orang-orang kuno menganggap adanya Tuhan dengan kekuasaan yang terbatas, karena mereka mempercayai banyak Tuhan atau adanya dua Tuhan. Mereka saling berlaga dan kalah-mengalahkan, dalam perannya masing-masing sebagai Tuhan (dewa) kebaikan dan Tuhan keburukan, atau Tuhan cahaya dan Tuhan Kegelapan.[3] Asumsi ini dipahami bahwa kenyakinan terhadap Tuhan di awali dalam bentuk paham politeisme.

Keterangan di atas ditanggapi dengan mengutipWilhem Schmidt dalam bukunya The Origin og the Idea of God, Armstrong berpendapat bahwa paham monoteisme muncul lebih dahulu. Paham monoteisme ini sudah dikenal sejal dahulu sebelum orang-orang kemudian beralih menyembah Tuhan-tuhan yang banyak (politeisme). Dengan demikian ajaran monoteisme yang didakwakan oleh agama-agama semitik sesungguhnya bukanlah hal yang baru, melainkan mempertegas dan memperjelas kembali paham yang pernah tumbuh tetapi karena berbagai faktor lalu menjadi samar-samar. Dalam sejarahnya, manusia menyembah Tuhan yang Maha Esa dan mutlak itu dengan berbagai nama dan istilah, namun secara subtansial beragam nama itu menunjuk kepada Zat yang sama.[4]

Terlepas dari perbedaan tersebut, apakah monoteisme muncul lebih awal baru kemudian terjadi perkembangan ke arah politeisme dan berakhir pada monoteisme, namun dari perbedaan keduanya dapat dipastikan bahwa manusia telah memiliki naluri bertuhan sejak awal. Boleh jadi fitrah ini sama sekali tertutup kabut kegelapan sehingga nampak manusia tidak mau tahu siapa penciptanya, namun kekuatan fitrah ini tidak dapat dihapuskan sama sekali. Dia sewaktu-waktu muncul ke permukaan lautan kesadaran memanifestasikan kecenderungannya merindukan Tuhannya yang begitu baik budi. Dan betapa bahagianya para hamba yang disambut mesra oleh penciptanya dalam bentuk petunjuk yang diwahyukan-Nya melalui Rasul-rasul-Nya. Disinilah terdapat perpaduan antara naluri, akal, dan wahyu yang membuahkan ma’rifah terhadap Tuhan dengan sebenar-benarnya.[5]

Sejalan dengan keterangan di atas, Hamka mengungkapkan bahwa orang yang menolak atau membantah agama sebagai petunjuk dari Tuhan, maka dia sebenarnya membantah jiwa murninya sendiri yang fitrah.[6] Dengan demikian, dalam sejarah pemikiran manusia, sejak awal manusia sudah mampu menangkap tentang adanya satu kekuatan yang mengatasi dan maha kuat, yang diyakininya sebagai pencipta dan penguasa kehidupan umat manusia. Ini artinya bahwa pengetahuan tentang adanya satu Tuhan telah secara sadar dimiliki oleh setiap orang. Inilah kemudian yang menjadikan manusia disebut sebagai homo religious.[7]

>> Lahirnya Filsafat Ketuhanan

Filsafat ketuhanan atau teologi filsafat adalah hikmah (kebijaksanaan) menggunakan akal pemikiran dalam menyelidiki Ada dan Esa-Nya Tuhan. Para filsuf mengemukakan kesimpulannya bahwa faham ketuhanan bukan hanya suatu dogma belaka atau suatu kepercayaan yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya melalui akal fikiran, melainkan suatu kepercayaan yang berakar pada pengetahuan yang benar.[8] Quraish Shihab dalam mencari padanan kata “dogma” merujuk pada kata “usthurah” yang berarti uraian yang tidak memiliki dasar. Sungguhpun demikian, beliau menyadari bahwa kata tersebut tidak terlalu tepat, karena dogma merupakan ajaran yang harus diterima sebagai kebenaran sehingga tidak boleh dibantah lagi atau didiskusikan apapun alasannya.[9]

Tegasnya, ketuhanan adalah suatu kebenaran yang logis yang dapat dibuktikan melalui kaidah-kaidah logika. Namun dapat dinyatakan bahwa ini hanyalah salah satu pilihan dalam permasalahan ini. Sebab akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan dengan hal-hal yang gaib. Walaupun tidak dipungkiri akan peranannya dalam mendiskusikan akan Ada dan Esa-Nya Tuhan. Dalam konteks al-Quran, sesungguhnya bukan akal yang lemah dan tidak sanggup, namun kesucian akan dan hati yang diperlukan ketika melakukan proses pencarian Tuhan. Dalam ilmu tentang eksistensi Tuhan dan penyingkapan tentang Rohani terdapat 3 macam ilmu,[10] yaitu:
  • Ilmu yang rasional (rational science), yaitu ilmu yang berdasarkan rasio, logis dan dialektika;
  • Ilmu yang irasional (irrational science), yaitu ilmu yang sulit dijangkau oleh akal dan diluar pengetahuan manusia. Ilmu ini bukan di artikan sebagai tidak rasional, tetapi sulit dicerna akal. Tetapi bila ilmu tersebut telah dapat diungkapkan. Maka derajatnya turun dari irasional menjadi transraisional; dan
  • Ilmu transraisonal, yaitu ilmu dapat dicerna akal, tetapi sulit untuk menggambarkannya. Wilayah cakupannya antara metafisis dan logika.
Pembagian tingkatan ilmu di atas menunjukkan akan keterbatasan akal dalam beberapa hal khususnya hal-hal yang menyangkut perkara gaib. Dengan demikian, akal memiliki wilayahnya yang tidak dapat dilampauinya. Wilayahnya adalah alam fisika, sedangkan alam metafisika adalah wilayah agama. Namun, baik akal maupun agama harus saling mengakui dan tidak boleh bertentangan. Begitu dia bertentangan, maka ada salah satunya yang keliru. Namun, sekali lagi harus digarisbawahi bahwa ada perbedaan antara sesuatu yang bertentangan dengan akal dan sesuatu yang tidak atau belum dimengerti akal.[11] Inilah yang dimaksud ilmu irasional seperti disebutkan di atas. Oleh karena itu, harus ditekankan bahwa ajaran agama tidak satu pun yang bertenatangan dengan agama, namun ada yang tidak dipahami oleh akal.

>> Ruang Lingkup Filsafat Ketuhanan

Diskusi tentang Tuhan merupakan salah satu cabang dari objek kajian dalam filsafat. Konsepsi mengenai Tuhan adalah Zat yang ada secara mutlak, yakni zat yang wajib adanya, tidak tergantung kepada apa dan siapa pun juga. Adanya tidak berpemulaan dan tidak berpenghabisan, Ia terus menerus ada karena adanya dengan pasti. Ia merupakan asal adanya segala sesuatu. Ini disebutkan orang dengan istilah “Tuhan”, dalam bahasa Yunani disebutThe-odicea dan dalam Bahasa Arab disebut “Allah” atau “Ilahi”.[12]

Suatu istilah yang lazim dipergunakan dalam ilmu Ketuhanan antara lain perkataan “teologi”. Teologi terdiri dari kata “theos” yang berarti Tuhan dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi teologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu Ketuhanan. Dalam encyclopaedia Everyman’s menyebutkan tentang teologi dengan. “pengetahuan tentang Tuhan dan manusia dalam pertaliannya dengan Tuhan”. Dalam ranah ini, filsafat memiliki peranan penting terhadap agama, yaitu dengan mensistematisasikan, membetulakan dan memastikan ajaran agama yang berdasarkan wahyu.[13]

Walaupun demikian. Terdapat pendapat-pendapat yeng memandangnya kurang tepat karena seorang ahli teologi dapat melakukan penyelidikannya secara bebas tanpa terikat oleh sesuatu agama. Karena itu memandang lebih tepat kalau dikatakan kalau teologi dapat dihayati oleh agama dan dapat juga tidak bercorak agama tetapi bercorak filsafat (natural teologi atau philosophical teologi). Untuk mengetahui lapangan pembahasannya secara khusus biasanya perkataan “teologi” dikaitkan dengan keterangan kualifikasi, misalnya teologi filsafat, teologi masa kini, teologi Kristen, teologi Katholik, teologi wahyu, teologi pikiran, teologi islam dan lain-lain. Tegasnya, teologi adalah ilmu yang membahas Ketuhanan dan pertaliannya dengan manusia, baik disandarkan kepada wahyu maupun disandarlam kepada penyelidikan akal-pikiran (rational theology).[14]

Perbedaan antara filsafat ketuhanan dengan Agama didapati di dalam system yang dipergunakan. Agama mengajarkan manusia mengenal Tuhannya atas dasar wahyu (Kitab Suci) yang kebenarannya dapat dipuji dengan akal fikiran. Sebaliknya, filsafat ketuhanan mengajarkan manusia mengenal Tuhan melalui akal-fikiran semata-mata yang kemudian kebenarannya didapatkan sesuai dengan wahyu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa baik agama maupun filsafat Ketuhanan sama-sama bertolak dari pangkan pelajaran mengenai Tuhan, tetapi jalan yang ditempuh berbeda. Masing-masing menempuh cara dan jalannya sendiri, namun keduanya akan bertemu kembali di tempat yang dituju dengan kesimpulan yang sama; Tuhan Ada dan Maha Esa.[15]

SEKIAN

Oleh: Hasrul

Nantikan 2 topik terkait berkut:
Konsep Tuhan dalam Islam
Konsep Tuhan dalam Ilmu Pengetahuan

ENDNOTE:


[1] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan (Bandung: Alma’arif, 1984), Cet. II, h. 10.
[2] Ali Audah, Dari Khasanah Dunia Islam (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), Cet. I, h. 304-305.
[3] Abbas Mahmud Aqqad, Tuhan Disegala Zaman, terj. M. Adib Bisri dan A. Rasyad dari judul asli “Allah” (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), Cet. I, h. 236.
[4] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 24-25.
[5] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan (Bandung: Alma’arif, 1984), Cet. II, h. 10.
[6] M. Abduh Almanar, Pemikiran Hamka; Kajian filsafat dan Tasawuf (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1993), Cet. I, h. 25
[7] Komaruddin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perennial (Jakarta: Paramadina, 1995), Cet. I, h. 36.
[8] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan, h. 20.
[9] M. Quraish Shihab, Logika Agama; Batas-batas Akal dan Kedudukan Wahyu dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2005), Cet. II, h. 85
[10] Samudra, Azhari Aziz dan Setia Budi, Hakekat Akal Jasmani dan Rohani Bagian 1 (t.tp.: Yayasan Majelis Ta’lim HDH, 2004), Cet. I, h. 15-16.
[11] M. Quraish Shihab, Logika Agama; Batas-batas Akal dan Kedudukan Wahyu dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2005), Cet. II, h. 92-93
[12] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan (Bandung: Alma’arif, 1984), Cet. II, h. 18.
[13] Abdul Halim, Teologi Islam Rasional; Apresiasi Terhadap Wacana dan Praktis Harun Nasution (Jakarta: Ciputat Pers, 2001), Cet. I, h. 135
[14] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan (Bandung: Alma’arif, 1984), Cet. II, h. 21-22.
[15] Hamzah Ya’qub, Filsafat Ketuhanan, h. 24-25.
Previous Home
 
ADMIN : SQ BLOG - wahana ilmu dan amal HASRUL | FB RulHas - SulTra | TWITTER RulHas BS
Copyright © 1437 H / 2016 M. SQ BLOG - All Rights Reserved
Support : Creating Website | Mas Template
Proudly powered by Blogger