Daftar Isi/Contents SQ BLOG >> KLIK DISINI
kajian(*)Quran_Hadis_Sains. Diberdayakan oleh Blogger.

Esensi Akhlak dalam Masyarakat dan Keberlangsungan Umat

Sabtu, 19 April 2014

Akhlak adalah bagian original dari ajaran agama yang turut menentukan warna masyarakat. Pembinaan sikap dan tindakan merupakan hal yang diperlukan untuk menata umat yang bermoral. Semua aspek manusia menjadi titik berat pembinaan itu, baik lahir batin, perbuatan kecil dan besar, maupun pribadi dan komunitas. Pembinaan yang sistematik dan terus menerus harus ditempuh agar sosialisasi sikap dan tindakan dapat menjadi sebuah kebutuhan dalam masyarakat.

A. RUANG LINGKUP AKHLAK

Kata akhlak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa Arab yang biasa berartikan tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama, asal katanya tidak ditemukan dalam al-Quran. Al-Quran hanya menyebutkan bentuk tunggalnya, yaitu khuluq sebagaimana disebutkan dalam surah al-Syu’ara ayat 137 dan surah al-Qalam ayat 4. (Quraish Shihab, 2007: 253) Dengan demikian, kata akhlak yang merupakan jamak dari kata khuluq merupakan isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak mempunyai akar kata.

Kemudian, jika diperhatikan lebih lanjut bahwa kata khuluq yang berakar dari kata khaluqa membentuk pula makna al-Khaliq (pencipta) dan al-Makhluq (ciptaan). Ini menunjukkan bahwa akhlak itu pada garis besarnya terdiri atas akhlak terhadap Allah SWT dan akhlak terhadap sesama makhluk. (Jurnal Kordinat, 2002: 82) Sehubungan hal ini, berikut dimensi akhlak menurut imam al-Ghazali (Muh. Ardani, 2005: 28):
  • Dimendsi diri, yakni orang dengan dirinya dan Tuhannya seperti ibadah dan shalat,
  • Dimensi sosial, yakni masyarakat, pemerintah dan pergaulannya dengan sesamanya,
  • Dimensi metafisis, yakni aqidah dan pegangan dasarnya.
Akhlak sangat berkaitan dengan moral. Hubungan diantara keduanya dapat dianalisis dari seluruh ajaran yang terdapat dalam agama berorientasi utama pada pembentukan moral. Perintah mengerjakan shalat ditujukan agar terhindar dari perutan keji dan mungkar. Keterkaitan selanjutnya dapat dilihat dari anjuran mengeluarkan zakat ditujukan untuk menumbuhkan kepedulian sosial. Bahkan, jika di dalam al-Quran terdapat kisah para Nabi atau orang-orang yang durhaka maka tujuannya adalah untuk membina moral. (Said aqil Husin al-Munawar, 2005: 29-30)

Secara filosofis, nilai-nilai moral yang lahir dari kajian filsafat nilai atau etika merupakan tolak ukur prilaku manusia dan berbagai aspek kehidupannya. Sumber-sumbernya bisa merupakan hasil pemikiran, adat istiadat, ideologi bahkan dari agama. Dalam konteks etika pendidikan Islam, maka sumber utamanya adalah al-Quran dan Sunnah Nabi Saw. hanya saja, perlu ditegaskan bahwa ahlak dalam Islam tidak identik dengan budi pekerti atau moral, meskipun akhlak mencakup keduanya. (Jurnal al-Burhan, 2013: 3) Akhlak dalam Islam mencakup beberapa dimensi sebagaimana telah disebutkan di atas.

B. TERM MASYARAKAT MENURUT AL-QURAN

Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu kecil atau besar yang terikat oleh satuan, adat, ritus atau hukum khas, dan hidup dalam hidup bersama. Ada beberapa kata yang digunakan al-Quran untuk menunjuk kepada masyarakat atau kumpulan manusia. Antara lain; qawm, ummah, syu'ub, dan qabail. Al-Quran banyak sekali berbicara tentang masyarakat. Ini disebabkan karena fungsi utama Kitab Suci ini adalah mendorong lahirnya perubahan-perubahan positif dalam masyarakat. (Quraish Shihab, 2007: 323)

Al-Quran sarat dengan uraian tentang hukum-hukum yang mengatur lahir, tumbuh, dan runtuhnya suatu masyarakat. Hal ini bergantung dengan sistem nilai yang dianutnya karena mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat yang bersangkutan. Pada tahap inilah sebuah masyarakat akan dihadapkan pada dua bentuk perubahan, yaitu, perubahan masyarakat dari kondisi baik menjadi buruk atau sebaliknya. Mengenai faktor penyebab perubahan ini, al-Quran lebih mengunggulkan faktor mental dan moral dari pada pranata-pranta sosial-ekonomi. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ekonomi yang kuat akan menjadi salah satu faktor terjadinya perubahan. Hanya saja, kebutaan spiritual biasanya akan tersebar luas di kalangan mereka yang memiliki kekuasaan materi dan politik untuk jangka waktu yang lama. (Ahmad Khusnul Hakim, 2011: 132) Keadaan tersebut berpotensi menimbulkan kekuasaan tanpa rasa keadilan dan kejujuran.

C. TERM UMAT MENURUT AL-QURAN

Kata umat terambil dari kata amma yang berarti menuju, menempu dan meneladani. Menurut Ali Syari’ati bahwa kata ini mengandung arti “kemajuan” yang di dalamnya terkandung empat arti, yaitu usaha, gerakan, kamajuan dan tujuan. Dengan demikian, kepemimpinan dan keteladanan, jalan dan tempat yang dilalui tercakup pula dalam istilah umat. (Ahmad Khusnul Hakim, 2011: 89)

Menurut Quraish Shihab, pilihan kata umat untuk menunjuk bangsa tidaklah meleset. Sebab, lahirnya suatu bangsa diperlukan adanya sekian banyak kesamaan yang terhimpun pada satu kelompok manusia, misalnya kesamaan cita-cit, sejarah, wilayah, bahasa, asal usul dan lain-lain. Kata umat dalam arti bangsa juga menjadi pilihan Ensklopedia Filsafat karya akademisi Rusia. (Quraish Shihab, 2011: 692)

Kata umat dalam al-Quran sering dirangkaikan dengan kata “ajal” yang bermakna ajal kolektif. Secara umum, ajal kolektif dapat dipahami sebagai batas akhir eksistensi komunitas masyarakat bukan individu. Menurut sayyid Qutb, ajal kolektif atau akhir eksistensi suatu umat kadang-kadang berupa kehancuran total yang bersifat indrawi, seperti bencana, gemap bumi, tsunami dan sejenisnya. Namun akhir eksistensi suatu umat bisa juga bersifat non indrawi. Artinya, secara lahiriyah tidak mengalami kahancuran secara fisik, tetapi mereka telah kehilangan eksistensinya seperti kasus orde baru. (Ahmad Khusnul H., 2011: 90)

Dengan demikian sobat SQ, akhlak khususnya para pemegang peranan penting dalam suatu negara akan menentukan eksistensi negara bersangkutan. Perlu ditekankan bahwa penekanan utamannya ada hubungan antara makhluk, baik sesama manusia dengan mencerminkan rasa keadilan, kasih-sayang, penuh tanggung jawab dan begitu pun terhadap lingkungan dengan tetap melestarikannya. Oleh karena itu, boleh jadi suatu negara mayoritas Islam, menyatakan dirinya beriman kepada yang ESA tetapi akhlak masyarakatnya jauh dari nilai-nilai Islam juga akan mendapatkan azab dan kehilangan eksistensiya sebagaimana sunnatullah umat-umat sebelumnya. Sebaliknya, mungkin saja suatu negara penduduknya mayoritas non-Muslim tetapi kehidupan negaranya menempatkan segala sesuatunya sebagaimana mestinya, penuh rasa keadilan, bertanggung jawab terhadap sesama, menumbuhkan rasa kasih sayang akan nampak tentram dan sejahtera dalam kehidupan dunianya.

Hal inilah yang melanda mayoritas dunia Islam saat ini, terlalu mengagung-agungkan ajarannya dan membiarkan orang lain yang menerapkannya dan hanya menjadi penonton setia tanpa ada upaya menjadi pemain. Akhirnya kita berharap, mudah-mudahan wajah-wajah pemimpin kita di masa yang akan datang benar-benar memiliki kapasitas akhlak sesuai dengan ajaran Islam, yaitu permata yang tak tergoyahkan dengan harta, wanita dan apapun itu. Soo,.. Semoga dalam PILPRES 2014 juli mendatang kita berdoa agar dapat berjalan sukses dan dapat menghasilkan pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab, Amin !         

Daftar Bacaan
  • Shihab, Quraisy. Membumikan al-Quran: Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan, Jilid 2, Cet. I, Tangerang: Lentera Hati, 2011
  • Hakim, A Husnul. Mengintip Takdir Ilahi: Mengungkap makna sunnatullah dalam al-Quran, Depok: Lingkar Studi al-Quran, 2011
  • Shihab, Quraisy. Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Cet. XVIII, Bandung: Mizan, 2007
  • Jurnal al-Burhan, Volume XIII, No. 1, Oktober 2013, Jakarta: Institut PTIQ, 2013
  • Jurnal Kordinat, Volume III, No. 1, April 2002, Jakarta: KOPERTAIS, 2002
  • Aqil Husin, Said. Aktualisasi NIlai-nilai al-Quran dalam Sistem Pendidikan Islam, Cet. II, Tangerang: Ciputat Press, 2005
  • Ardani, Muhammad. Akhlak-Tasawuf: Nilai-nilai Akhlak/Budi Pekerti dalam Ibadat dan Tasawuf, Cet. II, Jakarta: Karya Mulia, 2005

By. 
Hasrul
(Mahasiswa IPTIQ Jakarta)




Baca juga;
Refleksi Akhlak Suatu Bangsa

Kampus-ku Rumah al-Quran-ku

Kamis, 17 April 2014

Salam SQ-BLOG, dimana pun berada !!! Pagi ini, pengen sedikit berbagai satu sisi admin, yach itu tidak terlalu spesial tetapi bagiku merupakan sebuah permata yang terus menerangiku. Disanalah admin banyak menimbah banyak hal yang sangat berharga. Penuh kehangatan dan akan terus memberi harapan untuk dapat memberikan yang terbaik. Perjuagan menempunya bukanlah hal yang sangat mudah karena menurutku itu akan lebih muda dilakukan di tempat lain. Tetapi, tempat yang satu ini benar-benar memberi harapanku walaupun terasa berat menjaninya..

Heheeee, sobat SQ-BLOG nggak usah di ambil hati, admin yakin semua insan pasti memiliki harapan dan hal serupa yang admin rasakan. Jadi mari kita rileks aja kembali ke topik kita kali ini. Topik ini admin angkat buka karena ada apa2 tetapi semata-mata pengen berbagi seperti yang admin ungkap di atas, yach sisi ini ialah dimana admin menemukan permata berharga yaitu di Rumah al-Quran-ku. Hem.. ini bukanlah sebuah istana apalagi kerajaan tetapi hanyalah sebuah kampus tempat admin menimbah berbagai ilmu khususnya al-Quran.

Ini menurutku sangat spesial yang jadi admin akan berbagai dengan sahabat SQ-BLOG, kampus itu tiada lain adalah IPTIQ Jakarta. Sekali lagi ini tidak ada maksud apa tetapi semata-mata demi kebaikan, baik bagi admin mapun kepada semua sobat. Hehehe... Aku yakin, di dunia ini banyak rumah al-Quran sebagaimana yang admin maksudkan tetapi setidakanya admin telah berbagai salah satu kepada semua sobat. Bukankah pemilik sejatinya adalah Satu. Hem... nhe dia alamat rumah al-Quranku !!!


SEKILAS RUMAH AL-QURANKU




INFO JOIN TAHUN INI - 2014




INFO LEBIH LANJUT
KLIK DISINI

PREVIEW ASRAMA INSTITUT PTIQ JAKARTA



BEBERAPA MEMORI MAHASISWA USHULUDDIN ANGKATAN 2010



Bagaimana sobat, tertarik join dengan rumah al-Quran kami, dialah Institut PTIQ Jakarta yang terus berkiprah dalam dunia al-Quran dan juga hadis. Oh iya, Institut PTIQ ini khusus untuk putra, untuk putrinya ialah Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta. Untuk info lebih lanjut Institut PTIQ Jakarta silahkan kunjungi situsnya di [ www.ptiq.ac.id ] atau langsung klik DISINI.

Sekian dulu sobat, lain kesempatan kita akan banyak bicara lebih banyak lagi tentang rumah al-Quran-ku ini, Institut PTIQ Jakarta !!!

Refleksi Akhlak Suatu Bangsa

Sabtu, 05 April 2014

Salam Sahabat SQ-BLOG, Permasalahan krisis akhlak yang timbul saat ini ternyata sangat kompleks. Krisis tersebut telah merasuk ke berbagai komponen masyarakat mulai dari politisi, birokrat, pendidik, pemikir, pengusaha bahkan hingga rakya miskin. Jika krisis ini terus berlangsung, maka ia membawa implikasi terhadap stabilitas sosial, politik, ekonomi dan ruang kehidupan. Menurut Yusuf Qardhawy bahwa Krisis akhlak atau moral sama artinya dengan krisis akal manusia.

Menilik beberapa aspek kesejarahan umat-umat terdahulu melalui kisah-kisah mereka yang dihancurkan seyogyanya menjadi ibrah bagi umat saat ini. Sebab-sebab kehancuran mereka yang paling dominan adalah sisi mental dan moral yang melahirkan penyimpangan prilaku. Konsep kehancuran umat-umat tersebut dalam al-Quran disebut dengan sunnatullah, bukan dengan istilah takdir yang selama ini banyak disalah pahami. Dengan demikian, upaya membangun kembali sebuah masyarakat atau bangsa seharusnya bukan di arahkan kepada pembangunan fisik-material.

Berikut beberapa ilustrasi kehancuran umat-umat terdahulu yang mengalami kehancuran yang di awali dengan penyelewengan akhlak atau moral berdasarkan informasi al-Quran: (Ahmad Khusnul Hakim, 2011: 262-263)
  1. Kaum Nabi Nuh, pelecehan harkat dan martabat manusia kemudian di azab dengan banjir besar;
  2. Kaum Ad (Hud), keangkuhan intelektual kemudian di azab dengan gempa bumi disertai angina yang sangat kencang;
  3. Kaum Tsamud (Shaleh), budaya hedonistic kemudian dihancurkan dengan kilat, petir dan gledek yang sangat dahsyat;
  4. Kaum Sodom (Luth), penyimpangan seksual kemudian disiksa dengan bumi terbalik;
  5. Kaum Madyan (Syu’aib), melakukan kejahatan ekonomi kemudian di azab dengan gempa bumi disertai kilat;
  6. Fir’aun dan kaumnya, arogansi kekuasaan kemudian ditenggelamkan di laut merah;

Prilaku-prilaku buruk tersebut telah berjalan secara massif selama bertahun-tahun sehingga menjadi budaya masyarakat. Sekedar sebuah perbandingan, bangsa Indonesia yang dikawal Orde Baru akhirnya dihancurkan Allah, yakni kehilangan eksistensi. Hal ini bukan karena krisis yang berkepanjangan, akan tetapi yang benar adalah bahwa terjadinya krisis yang menjadikan bangsa Indonesia terpuruk dan Orde Baru akibat prilaku buruk yang berjalan cukup lama sehingga membudaya di tengah-tengah masyarakat. Meski sesungguhnya prilaku-prilaku buruk yang pernah terjadi pada umat-umat masa lalu juga ada di bangsa ini, namun yang menjadi sebab utamanya (prima causa) adalah KKN. Virus KKN telah menjangkiti bangsa Indonesia, baik ditingkat daerah sampai di pusat. Makanya, bangsa Indonesia secara umum sebenarnya layak di anggap sebagai bangsa yang kufur Ni’mat.

Pada tataran sosial inilah bangsa Indonesia saat ini memiliki kesamaan dengan karakter umat-umat terdahulu. Akibatnya, mendapat respon yang sama juga meski dengan bentuk yang berbeda sesuai kehendak Allah. Bertolak dari term ini, maka solusi utama yang dapat dilakukan ialah pendidikan akhlak dalam semua aspek masyarakat. Melalui pendidikan ini diharapkan dapat mewujudkan dan melahirkan pribadi yang bermental akhlak yang mulia. Pada tataran inilah, tananan sosial dapat membawa kesejahteraan bagi umat yang bersangkutan.

Oleh : Hasrul 
Mahasiswa IPTIQ Jakarta
Sabtu, 5 April 2014

Daftar Bacaan:
  • Ahmad Husnul Hakim, Mengintip Takdir Ilahi: Mengungkap makna sunnatullah dalam al-Quran, Depok: Lingkar Studi al-Quran, 2011
  •  Yusuf Qardhawy, Anatomi Masyarakat Islam, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1999

Tazkiyatun Nafs

Senin, 10 Februari 2014

Artikel Oleh:
Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta

Nafs - Secara lateral atau harfiah, nafs berarti “esensi”, dan “esensi sesuatu” disebut “jiwa” sesuatu, atau “realitas” (haqiqah) nya. Dalam terminologi Aristotelian, kata itu berarti “jiwa” , entah jiwa yang bersifat materiel, seperti jiwa nabati dan jiwa hewani, atau bersifat abstrak, seperti jiwa benda samawi dan jiwa rasional manusia. Dalam terminologi etika, nafs berarti khayalan dan angan-angan palsu dari ego manusia yang terpisah dan independen. Kata ini juga berarti jiwa jasmani atau hawa nafsu­­, tempat nafsu berbagai hasrat dan keinginan, Kaum sufi memahaminya dalam artian terahir ini.[1]

Al-Ghazali dalam bukunya Pilar-pilar Rohani menyebutkan bahwa nafs merupakan gabungan dari dua makna (polisme): pertama, yang menghimpun dua kekuatan amarah dan syahwat dalam diri manusia. Penggunaan kata ini sudah lazim dikalangan kaum sufi. Mereka mengartikan nafsu sebagai asal yang menghimpun sifat-sifat tercela manusia. Mereka mengatakan, “Mengendalikan nafsu dan syahwat merupakan sebuah keharusan.” Hal itu ditunjukkan oleh sabda Rasulullah saw, “Musuhmu yang paling besar adalah nafsumu yang berada dalam dirimu. Kedua, luthf yang telah kami sebutkan, yaitu hakikat, diri, dan esensi manusia. Nafs, yang dipandang mampu melakukan penyucian, adalah nafs yang memiliki sifat-sifat hewani yang bernama nafs al-ammarah atau jiwa yang selalu meyuruh kepada kejahatan. Nafs ini biasanya mempunyayi kecenderungan pada kejahatan serta menyuruh kita berbuat jahat. [2] Allah berfirman:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

…sungguh, jiwa (manusia) menyuruh pada kejahatan,…[3]

Apabila jiwa ini disucikan dan mulai menjahui kejahatan, maka ia mulai mencela (dan dengan demikian memperbaiki) dirinya sendiri. Kemudian ia disebut an-nafs al-lawwamah atau jiwa yang mencela.

… dan aku bersumpah demi jiwa yang mencela dirinya sendiri…

Manakala jiwa ini benar-benar sudah disucikan dan mencapai kebahagiaan atau cinta Allah, maka iapun mengembangkan fakultas atau kemampuannya untuk berbuat baik dan benar, dan bukan lagi menjadi sumber kejahatan. Ia sudah memperoleh sifat-sifat malakutinya, serta melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah. Yang tidak pernah menolak dari melakukan perintah-perintah yang mereka terima dari Allah, tapi mereka mengerjakan apa yang mereka diperintahkan kepada mereka. Nafs ini kemudian menjadi sumber yang darinya mengalir semua amal kebaikan dan pikiran-pikiran baik. Demikianlah Khawaj Baha’uddin Naqsyaband mengatakan:

Kini, aku memiliki dari sedemikian sehingga jika aku tidak mematuhi perintah-perinyahnya, maka yang demikian itu berarti bahwa aku tidak mematuhi Allah.

Disini khawaja menyinggung-nyinggung jiwa tersebut diatas. Jiwa itu disebut an-nafs al-muthma’innah atau jiwa yang tenang, yang disebut-sebut dalam al-Quran demikian:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

…Wahai jiwa yang tenang kembalilah! kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai olehnya…[4]

Meski dicatat bahwa jiwa tungal sajalah yang diseru dan dipanggil dengan nama-nama yang berbeda, dengan menunjukkan tahap-tahap perkembangnnya yang berbeda serta menegaskan berbagai macam sifatnya. Begitu pula, dalam terminology dokter, jiwa yang sama, seperti embun lembut, disebut jiwa hewani dalam qalbu, jiwa sensual dalam hati, dan jiwa fisik dalam otak. Perubahan nama-nama itu disebabkan oleh perbedaan sifat-sifat, sementara objek yang dinamainya sama belaka.

Pada dasarnya dalam kalangan para salik dan sufi, tarekat merupakan organisasi yang memiliki tujuan yang satu, yaitu taqarrub kepada Allah.[5] Akan tetapi sebagai organisasi para salik yang kebanyakan diikuti masyarakat awam, dan para talib al-mubtadin, maka akhirnya dalam tarekat terdapat tujuan-tujuan lain yang diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pertama dan utama tersebut. Sehingga secara garis besar dalam tarekat terdapat tiga tujuan yang masing-masing melahirkan tata cara dan jenis-jenis amaliyah kesufian. Diantara ketiga tujuan pokok tersebut ialah Tazkiyat an-nafs:

Tazkiyat al-Nafs - Tazkiyat al-Nafs atau pencucian jiwa adalah suatu upaya atau pengkondisian jiwa agar merasa tenang, tentram dan senang berdekatan dengan Allah (ibadah), dengan penyucian jiwa dari semua kotoran dan penyakit hati atau penyakit jiwa. Tujuan ini merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang salik atau ahli tarekat. Bahkan dalam tradisi tarekat, tazkiyat al-Nafs ini dianggap sebagai tujuan pokok. Dengan bersihnya jiwa dari berbagai macam penyakitnya akan secara otomatis menjadikan seseorang dekat kepada Allah. Proses dan sekaligus tujuan ini dilaksanakan dengan merujuk kepada firman Allah Swt:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Artinya: Dan demi jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan celakalah bagi orang yang mengotorinya. 

Tazkiyat al-Nafs ini pada tataran prakteknya, kemudian melahirkan beberapa metode yang merupakan amalan-amalan kesufian, seperti zikir, ‘ataqah, menetapi syari’at, dan mewiridkan amalan-amalan sunnah serta berperilaku zuhud dan wara’. [6]

a. Zikr

Zikr berasal dari perkataan ‘’zikrullah’’. Ia merupakan amalan khas yang mesti ada dalam setiap tarekat. Yang dimaksud dengan zikr dalam suatu tarekat ialah mengingat dan menyebut nama Allah, baik secara lisan maupun secara batin (jahri dan sirri atau khafi). Di dalam tarekat, zikr diyakini sebagai cara yang paling efektif dan sfisien untuk membersihkan jiwa dari segalam macam kotoran dan penyakit-penyakitnya. 

b. ‘Ataqah atau fida’ akbar 

‘Ataqah atau penebusan ini dilakukan dalam rangka membersihkan jiwa dari kotoran atau penyaki-peyakit jiwa. Bahkan cara ini dilakukan oleh sebagian tarekat sebagai penebus harga syurga, atau penebus pengaruh jiwa yang tidak baik (untuk mematikan nafsu). 

Bentuk dari cara ini atau ‘ataqah adalah amalan yang dilakukan secara serius seperti membaca surah al-Ikhlas sebanyak 100.000 atau membaca kalimat tahlil sebanyak 70.000 kali, dalam rangkaian penebusan nafsu amarah atau nafu-nafsu yang lain dan biasanya dilaksankan oleh masyarakat santri pulau jawa untuk orang yang sudah meninggal dunia. 

c. Mengamalkan syariat

Dalam tarekat yang kebanyakan merupakan jam’iyyah para sufi suni, menetapi syari’at merupakan bagian dari tasawuf (meniti jalan mendekati kepada Tuhan). Karena menurut keyakinan para sufi sunni, justru prilaku kesufian itu dilaksanakan dalam rangka mendukung tegaknya syari’at. 

d. Melaksanakan amalan-amalan sunnah

Diantara cara untuk membersihkan jiwa, yang diyakini dapat membantu untuk membersihkan jiwa dari segala macam kotoran dan penyakit-penyakitnya adalam amalan-amalan sunnah. Sedangkan dari amalan- amalan tersebut yang diyakini memiliki dampak besar terhadap proses dan sekaligus hasil dari tatkiyat al-nafs adalam membaca al-Quran dan menghayati isi kandungannya, melaksanakan sholat malam, berzikir disepanjang hari, memperbanyak puasa sunnah serta bergaul dengan orang-orang yang shaleh. 

e. Berprilaku zuhud dan wara’

Kedua prilaku sufharistik ini akan sangat mendukung upaya tazkiyat al-nafs, karena prilaku zuhud adalah tidak ada ketergantungan hati pada harta, dan wara’ adalah sikap hidup yang selektif, orang yang berprilaku demikian tidak berbuat sesuatu, kecuali benar-benar halal dan benar-benar dibutuhkan. Dan rakus terhadap harta akan mengotori jiwa demikian juga banyak berbuat yang tidak baik, memakan yang syubhat dan berkata sia-sia akan memperbanyak dosa dan menajauhkan diri dari Allah, karena melupakan Allah.[7]

Upaya penyucian jiwa - Roh atau jiwa juga bisa menjadi kotor akibat memakan makanan haram, lisan yang mengeluarkan kata-kata lucah dan ugkapan-ungkapan yang menyakiti isi hati orang, telinga yang mendengar fitnah dan mengupat orang, tangan yang melakukan perbuatan yang tidak baik, kaki yang pergi ketempat maksiat atau mengikuti langkah-langkah orang zalim, kemaluan yang melakukan zina dan sebaginya.[1] Maka butuh penyucian diri untuk membersihkan kotoran tersebut melalui jalan yang sangat sulit dan mustahil dilakukan oleh manusia tanpa mendapatkan karunia dari Allah. Oleh karena itu ada dua hal yang harus dilakukan yaitu bersungguh-sungguh dalam menyucikan diri dan berdoa kepada Allah agar diberikan kemampuan dalam meyucikan diri serta konsisten dalam pelaksanaannya. Sebagai mana dikatakan oleh Dr. Mir Valiuddin dalam bukunya Contemplative Disciplines in Sufism: 

Duhai! Barang siapa tidak berusaha keras, maka ia tidak akan pernah mendapatkan pembendaharaan.[2]

Ada beberapa upaya untuk menyucikan diri yaitu memaafkan dan melapangkan hati terhadap orang yang melakukan perbuatan jelek kepada kita, tidak mengikuti langkah-langkah setan karena setan adalah zat yang selalu mengajak kepada perbuatan keji dan kemungkaran, tidak senang menyebarkan kejelekan yang dilakukan orang-orang beriman dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan keji baik secara langsung ataupun tidak, menjaga lisan dari menuduh orang lain atau mengatakan sesuatu yang menyakiti hati orang-orang yang beriman, kecuali memiliki bukti-bukti yang kuat. Inilah beberapa perkara yang berkaitan dengan menyucikan diri (tazkiyatun nafs) yang kita petik dari beberapa ayat al-Quran. 

Objek tazkiyat al-nafs - Said hawwa dalam bukunya Tazkiyatun Nafs membagikan kriteria penyakit-penyakit yang harus disucikan dari diri manusia. 

1. Penyakit-penyakit hati yang disebabkan perbuatan syirik dan cabang-cabangnya. Allah berfirman yang artinya:’’Dan perumpamaan kalimat yang buruk [3] seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (QS.Ibrahim: 28). Sesungguhnya perbuatan syirik memiliki cabang-cabang yang cukup banyak, diawali dari menyembah selain Allah, yaitu kepada perbuatan-perbuatan yang sesat dan perilaku-perilaku yang jelek seperti dengki, sombong, sekutu dengan setan sehingga upaya utama yang harus dilakukan dalam penyucian diri ialah menghilangkan kemusyrikan dan cabang-cabangnya dalam hati. 

2. Terkadang, hati seseorang ditutupi oleh kegelapan yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan keji seperti munafik, kufur, fasik, keraguan atas kebenaran dan dosa-dosa lainnya. Oleh karenanya upaya yang harus dilakukan dalam penyucian diri ialah dengan menghilangkan semua kegelapan yang ada dalam hati yaitu dengan memasukkan cahaya ilahi sehingga hati nya bercahaya dengan kebenaran. 

3. Dalam setiap jiwa manusia terdapat syahwat, sedangkan syahwat memiliki kategori yang cukup banyak, diantaranya adalah syahwat secara lahiriah (hissi) dan syahwat secara maknawi. Syahwat secara kahiriah misalnya senang makan dan minum. Syhwat secara ma’nawiah misalnya pendendam, senang dengan kedudukan, mau menang sendiri. Sebagian dari syahwat itu ada yang diperbolehkan seperti keinginan untuk menikah agar melaksanakan syahwat berhubungan badan dengan lawan jenis dan ada sebagian syahwat yang diharamkan seperti syahwat untuk berjudi, berzina, korupsi dan lainnya. Oleh karena itu, syahwat-syahwat yang diharamkan atau yang dikerjakan itu mengandung hukum haram, maka ini merupan bagian yang harus dihilangkan dalam upaya menyucikan diri (tazkiyatun nafs). 

4. Adapun bagian yang harus dibersihkan dalam upaya penyucian diri selanjutnya yaitu penyucian diri dari penyakit hati dan jiwa seseorang yang terkadang mengalami penyakit, seperti sakitnya badan, sakit yang terdapat dalam hati, seperi sombong, suka membanggakan diri, dengki, menipu, dan dendam. 

Ini lah 4 objek penyucian jiwa yang harus di bersihkan, Barang siapa yang megetahui beberapa poin diatas, maka ia akan mengetahui bagaimana pentingnya penyucian diri (tazkiyatum nafs). SEKIAN.


DAFTAR PUSTAKA
  • Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, Bandung; Pustaka Hidayah, 1996.
  • Penerjamah, Irwan kurniawan, diterjemahkan dari Rawdah ath-Thalibin wa Umdah as- Salikin (Pilar-Pilar Rohani) karya Al-Ghazali, Jakarta: Lentera, 1998
  • Wahib Mu’thi, dalam bukunya, Tarekat sejarah Timbulnya, Macam-Macam, dan Ajaran-Ajaran Tasawuf Bandung: Pustaka Hidayah, 1996
  • Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, Surabaya: Dunia Ilmu, 1998
  • Syeh Abdul Qadir al- Jailani, Kesufian Ahli Sufi Singapura: Pustaka National PTE LTD, 1999.
  • Said Hawwa, Tazkiyatun Nafs, penerbit: Darus- Salam, 2005.

ENDNOTE

[1] Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, (Bandung; Pustaka Hidayah, 1996), cet. Pertama, hal. 46-47.
[2] Penerjamah, Irwan kurniawan, diterjemahkan dari Rawdah ath-Thalibin wa Umdah as- Salikin (Pilar-Pilar Rohani) karya Al-Ghazali, (Jakarta: Lentera, 1998), cet.1, hal. 41.
[3] QS. 12:53.
[4] QS. 89:27-30.
[5] Karena sebenarnya istilah tarekat sendiri terambil dari kata Tariqat atau metode. Yaitu jalan untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Sebagaimana dikutip oleh, Drs Kharisudin Aqib, M.Ag. dari A. Wahib Mu’thi, dalam bukunya, Tarekat sejarah Timbulnya, Macam-Macam, dan Ajaran-Ajaran Tasawuf (cet. 1; bandung: Pustaka Hidayah, 1996), hal. 45.
[6] Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998), cet.1, hal. 36.
[7] Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998), cet.1, hal. 37.
[8] Syeh Abdul Qadir al- Jailani, Kesufian Ahli Sufi (Singapura: Pustaka National PTE LTD, 1999), cet. 1, hal. 142.
[9] Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, (Bandung; Pustaka Hidayah, 1996), cet. Pertama, hal. 48.
[10]  Said Hawwa, Tazkiyatun Nafs, (penerbit: Darus- Salam, 2005), cet.3, hal. 193-195.
Previous Home
 
ADMIN : SQ BLOG - wahana ilmu dan amal HASRUL | FB RulHas - SulTra | TWITTER RulHas BS
Copyright © 2014. ZYIAR™ BS - All Rights Reserved
Support : Creating Website | Mas Template
Proudly powered by Blogger