Daftar Isi/Contents SQ BLOG >> KLIK DISINI
kajian(*)Quran_Hadis_Sains. Diberdayakan oleh Blogger.

Kampus-ku Rumah al-Quran-ku

Kamis, 17 April 2014

Salam SQ-BLOG, dimana pun berada !!! Pagi ini, pengen sedikit berbagai satu sisi admin, yach itu tidak terlalu spesial tetapi bagiku merupakan sebuah permata yang terus menerangiku. Disanalah admin banyak menimbah banyak hal yang sangat berharga. Penuh kehangatan dan akan terus memberi harapan untuk dapat memberikan yang terbaik. Perjuagan menempunya bukanlah hal yang sangat mudah karena menurutku itu akan lebih muda dilakukan di tempat lain. Tetapi, tempat yang satu ini benar-benar memberi harapanku walaupun terasa berat menjaninya..

Heheeee, sobat SQ-BLOG nggak usah di ambil hati, admin yakin semua insan pasti memiliki harapan dan hal serupa yang admin rasakan. Jadi mari kita rileks aja kembali ke topik kita kali ini. Topik ini admin angkat buka karena ada apa2 tetapi semata-mata pengen berbagi seperti yang admin ungkap di atas, yach sisi ini ialah dimana admin menemukan permata berharga yaitu di Rumah al-Quran-ku. Hem.. ini bukanlah sebuah istana apalagi kerajaan tetapi hanyalah sebuah kampus tempat admin menimbah berbagai ilmu khususnya al-Quran.

Ini menurutku sangat spesial yang jadi admin akan berbagai dengan sahabat SQ-BLOG, kampus itu tiada lain adalah IPTIQ Jakarta. Sekali lagi ini tidak ada maksud apa tetapi semata-mata demi kebaikan, baik bagi admin mapun kepada semua sobat. Hehehe... Aku yakin, di dunia ini banyak rumah al-Quran sebagaimana yang admin maksudkan tetapi setidakanya admin telah berbagai salah satu kepada semua sobat. Bukankah pemilik sejatinya adalah Satu. Hem... nhe dia alamat rumah al-Quranku !!!


SEKILAS RUMAH AL-QURANKU




INFO JOIN TAHUN INI - 2014




INFO LEBIH LANJUT
KLIK DISINI

PREVIEW ASRAMA INSTITUT PTIQ JAKARTA



BEBERAPA MEMORI MAHASISWA USHULUDDIN ANGKATAN 2010



Bagaimana sobat, tertarik join dengan rumah al-Quran kami, dialah Institut PTIQ Jakarta yang terus berkiprah dalam dunia al-Quran dan juga hadis. Oh iya, Institut PTIQ ini khusus untuk putra, untuk putrinya ialah Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta. Untuk info lebih lanjut Institut PTIQ Jakarta silahkan kunjungi situsnya di [ www.ptiq.ac.id ] atau langsung klik DISINI.

Sekian dulu sobat, lain kesempatan kita akan banyak bicara lebih banyak lagi tentang rumah al-Quran-ku ini, Institut PTIQ Jakarta !!!

Refleksi Akhlak Suatu Bangsa

Sabtu, 05 April 2014

Salam Sahabat SQ-BLOG, Permasalahan krisis akhlak yang timbul saat ini ternyata sangat kompleks. Krisis tersebut telah merasuk ke berbagai komponen masyarakat mulai dari politisi, birokrat, pendidik, pemikir, pengusaha bahkan hingga rakya miskin. Jika krisis ini terus berlangsung, maka ia membawa implikasi terhadap stabilitas sosial, politik, ekonomi dan ruang kehidupan. Menurut Yusuf Qardhawy bahwa Krisis akhlak atau moral sama artinya dengan krisis akal manusia.

Menilik beberapa aspek kesejarahan umat-umat terdahulu melalui kisah-kisah mereka yang dihancurkan seyogyanya menjadi ibrah bagi umat saat ini. Sebab-sebab kehancuran mereka yang paling dominan adalah sisi mental dan moral yang melahirkan penyimpangan prilaku. Konsep kehancuran umat-umat tersebut dalam al-Quran disebut dengan sunnatullah, bukan dengan istilah takdir yang selama ini banyak disalah pahami. Dengan demikian, upaya membangun kembali sebuah masyarakat atau bangsa seharusnya bukan di arahkan kepada pembangunan fisik-material.

Berikut beberapa ilustrasi kehancuran umat-umat terdahulu yang mengalami kehancuran yang di awali dengan penyelewengan akhlak atau moral berdasarkan informasi al-Quran: (Ahmad Khusnul Hakim, 2011: 262-263)
  1. Kaum Nabi Nuh, pelecehan harkat dan martabat manusia kemudian di azab dengan banjir besar;
  2. Kaum Ad (Hud), keangkuhan intelektual kemudian di azab dengan gempa bumi disertai angina yang sangat kencang;
  3. Kaum Tsamud (Shaleh), budaya hedonistic kemudian dihancurkan dengan kilat, petir dan gledek yang sangat dahsyat;
  4. Kaum Sodom (Luth), penyimpangan seksual kemudian disiksa dengan bumi terbalik;
  5. Kaum Madyan (Syu’aib), melakukan kejahatan ekonomi kemudian di azab dengan gempa bumi disertai kilat;
  6. Fir’aun dan kaumnya, arogansi kekuasaan kemudian ditenggelamkan di laut merah;

Prilaku-prilaku buruk tersebut telah berjalan secara massif selama bertahun-tahun sehingga menjadi budaya masyarakat. Sekedar sebuah perbandingan, bangsa Indonesia yang dikawal Orde Baru akhirnya dihancurkan Allah, yakni kehilangan eksistensi. Hal ini bukan karena krisis yang berkepanjangan, akan tetapi yang benar adalah bahwa terjadinya krisis yang menjadikan bangsa Indonesia terpuruk dan Orde Baru akibat prilaku buruk yang berjalan cukup lama sehingga membudaya di tengah-tengah masyarakat. Meski sesungguhnya prilaku-prilaku buruk yang pernah terjadi pada umat-umat masa lalu juga ada di bangsa ini, namun yang menjadi sebab utamanya (prima causa) adalah KKN. Virus KKN telah menjangkiti bangsa Indonesia, baik ditingkat daerah sampai di pusat. Makanya, bangsa Indonesia secara umum sebenarnya layak di anggap sebagai bangsa yang kufur Ni’mat.

Pada tataran sosial inilah bangsa Indonesia saat ini memiliki kesamaan dengan karakter umat-umat terdahulu. Akibatnya, mendapat respon yang sama juga meski dengan bentuk yang berbeda sesuai kehendak Allah. Bertolak dari term ini, maka solusi utama yang dapat dilakukan ialah pendidikan akhlak dalam semua aspek masyarakat. Melalui pendidikan ini diharapkan dapat mewujudkan dan melahirkan pribadi yang bermental akhlak yang mulia. Pada tataran inilah, tananan sosial dapat membawa kesejahteraan bagi umat yang bersangkutan.

Oleh : Hasrul 
Mahasiswa IPTIQ Jakarta
Sabtu, 5 April 2014

Daftar Bacaan:
  • Ahmad Husnul Hakim, Mengintip Takdir Ilahi: Mengungkap makna sunnatullah dalam al-Quran, Depok: Lingkar Studi al-Quran, 2011
  •  Yusuf Qardhawy, Anatomi Masyarakat Islam, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1999

Tazkiyatun Nafs

Senin, 10 Februari 2014

Artikel Oleh:
Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta

Nafs - Secara lateral atau harfiah, nafs berarti “esensi”, dan “esensi sesuatu” disebut “jiwa” sesuatu, atau “realitas” (haqiqah) nya. Dalam terminologi Aristotelian, kata itu berarti “jiwa” , entah jiwa yang bersifat materiel, seperti jiwa nabati dan jiwa hewani, atau bersifat abstrak, seperti jiwa benda samawi dan jiwa rasional manusia. Dalam terminologi etika, nafs berarti khayalan dan angan-angan palsu dari ego manusia yang terpisah dan independen. Kata ini juga berarti jiwa jasmani atau hawa nafsu­­, tempat nafsu berbagai hasrat dan keinginan, Kaum sufi memahaminya dalam artian terahir ini.[1]

Al-Ghazali dalam bukunya Pilar-pilar Rohani menyebutkan bahwa nafs merupakan gabungan dari dua makna (polisme): pertama, yang menghimpun dua kekuatan amarah dan syahwat dalam diri manusia. Penggunaan kata ini sudah lazim dikalangan kaum sufi. Mereka mengartikan nafsu sebagai asal yang menghimpun sifat-sifat tercela manusia. Mereka mengatakan, “Mengendalikan nafsu dan syahwat merupakan sebuah keharusan.” Hal itu ditunjukkan oleh sabda Rasulullah saw, “Musuhmu yang paling besar adalah nafsumu yang berada dalam dirimu. Kedua, luthf yang telah kami sebutkan, yaitu hakikat, diri, dan esensi manusia. Nafs, yang dipandang mampu melakukan penyucian, adalah nafs yang memiliki sifat-sifat hewani yang bernama nafs al-ammarah atau jiwa yang selalu meyuruh kepada kejahatan. Nafs ini biasanya mempunyayi kecenderungan pada kejahatan serta menyuruh kita berbuat jahat. [2] Allah berfirman:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

…sungguh, jiwa (manusia) menyuruh pada kejahatan,…[3]

Apabila jiwa ini disucikan dan mulai menjahui kejahatan, maka ia mulai mencela (dan dengan demikian memperbaiki) dirinya sendiri. Kemudian ia disebut an-nafs al-lawwamah atau jiwa yang mencela.

… dan aku bersumpah demi jiwa yang mencela dirinya sendiri…

Manakala jiwa ini benar-benar sudah disucikan dan mencapai kebahagiaan atau cinta Allah, maka iapun mengembangkan fakultas atau kemampuannya untuk berbuat baik dan benar, dan bukan lagi menjadi sumber kejahatan. Ia sudah memperoleh sifat-sifat malakutinya, serta melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah. Yang tidak pernah menolak dari melakukan perintah-perintah yang mereka terima dari Allah, tapi mereka mengerjakan apa yang mereka diperintahkan kepada mereka. Nafs ini kemudian menjadi sumber yang darinya mengalir semua amal kebaikan dan pikiran-pikiran baik. Demikianlah Khawaj Baha’uddin Naqsyaband mengatakan:

Kini, aku memiliki dari sedemikian sehingga jika aku tidak mematuhi perintah-perinyahnya, maka yang demikian itu berarti bahwa aku tidak mematuhi Allah.

Disini khawaja menyinggung-nyinggung jiwa tersebut diatas. Jiwa itu disebut an-nafs al-muthma’innah atau jiwa yang tenang, yang disebut-sebut dalam al-Quran demikian:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

…Wahai jiwa yang tenang kembalilah! kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai olehnya…[4]

Meski dicatat bahwa jiwa tungal sajalah yang diseru dan dipanggil dengan nama-nama yang berbeda, dengan menunjukkan tahap-tahap perkembangnnya yang berbeda serta menegaskan berbagai macam sifatnya. Begitu pula, dalam terminology dokter, jiwa yang sama, seperti embun lembut, disebut jiwa hewani dalam qalbu, jiwa sensual dalam hati, dan jiwa fisik dalam otak. Perubahan nama-nama itu disebabkan oleh perbedaan sifat-sifat, sementara objek yang dinamainya sama belaka.

Pada dasarnya dalam kalangan para salik dan sufi, tarekat merupakan organisasi yang memiliki tujuan yang satu, yaitu taqarrub kepada Allah.[5] Akan tetapi sebagai organisasi para salik yang kebanyakan diikuti masyarakat awam, dan para talib al-mubtadin, maka akhirnya dalam tarekat terdapat tujuan-tujuan lain yang diharapkan dapat mendukung tercapainya tujuan pertama dan utama tersebut. Sehingga secara garis besar dalam tarekat terdapat tiga tujuan yang masing-masing melahirkan tata cara dan jenis-jenis amaliyah kesufian. Diantara ketiga tujuan pokok tersebut ialah Tazkiyat an-nafs:

Tazkiyat al-Nafs - Tazkiyat al-Nafs atau pencucian jiwa adalah suatu upaya atau pengkondisian jiwa agar merasa tenang, tentram dan senang berdekatan dengan Allah (ibadah), dengan penyucian jiwa dari semua kotoran dan penyakit hati atau penyakit jiwa. Tujuan ini merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang salik atau ahli tarekat. Bahkan dalam tradisi tarekat, tazkiyat al-Nafs ini dianggap sebagai tujuan pokok. Dengan bersihnya jiwa dari berbagai macam penyakitnya akan secara otomatis menjadikan seseorang dekat kepada Allah. Proses dan sekaligus tujuan ini dilaksanakan dengan merujuk kepada firman Allah Swt:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Artinya: Dan demi jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan celakalah bagi orang yang mengotorinya. 

Tazkiyat al-Nafs ini pada tataran prakteknya, kemudian melahirkan beberapa metode yang merupakan amalan-amalan kesufian, seperti zikir, ‘ataqah, menetapi syari’at, dan mewiridkan amalan-amalan sunnah serta berperilaku zuhud dan wara’. [6]

a. Zikr

Zikr berasal dari perkataan ‘’zikrullah’’. Ia merupakan amalan khas yang mesti ada dalam setiap tarekat. Yang dimaksud dengan zikr dalam suatu tarekat ialah mengingat dan menyebut nama Allah, baik secara lisan maupun secara batin (jahri dan sirri atau khafi). Di dalam tarekat, zikr diyakini sebagai cara yang paling efektif dan sfisien untuk membersihkan jiwa dari segalam macam kotoran dan penyakit-penyakitnya. 

b. ‘Ataqah atau fida’ akbar 

‘Ataqah atau penebusan ini dilakukan dalam rangka membersihkan jiwa dari kotoran atau penyaki-peyakit jiwa. Bahkan cara ini dilakukan oleh sebagian tarekat sebagai penebus harga syurga, atau penebus pengaruh jiwa yang tidak baik (untuk mematikan nafsu). 

Bentuk dari cara ini atau ‘ataqah adalah amalan yang dilakukan secara serius seperti membaca surah al-Ikhlas sebanyak 100.000 atau membaca kalimat tahlil sebanyak 70.000 kali, dalam rangkaian penebusan nafsu amarah atau nafu-nafsu yang lain dan biasanya dilaksankan oleh masyarakat santri pulau jawa untuk orang yang sudah meninggal dunia. 

c. Mengamalkan syariat

Dalam tarekat yang kebanyakan merupakan jam’iyyah para sufi suni, menetapi syari’at merupakan bagian dari tasawuf (meniti jalan mendekati kepada Tuhan). Karena menurut keyakinan para sufi sunni, justru prilaku kesufian itu dilaksanakan dalam rangka mendukung tegaknya syari’at. 

d. Melaksanakan amalan-amalan sunnah

Diantara cara untuk membersihkan jiwa, yang diyakini dapat membantu untuk membersihkan jiwa dari segala macam kotoran dan penyakit-penyakitnya adalam amalan-amalan sunnah. Sedangkan dari amalan- amalan tersebut yang diyakini memiliki dampak besar terhadap proses dan sekaligus hasil dari tatkiyat al-nafs adalam membaca al-Quran dan menghayati isi kandungannya, melaksanakan sholat malam, berzikir disepanjang hari, memperbanyak puasa sunnah serta bergaul dengan orang-orang yang shaleh. 

e. Berprilaku zuhud dan wara’

Kedua prilaku sufharistik ini akan sangat mendukung upaya tazkiyat al-nafs, karena prilaku zuhud adalah tidak ada ketergantungan hati pada harta, dan wara’ adalah sikap hidup yang selektif, orang yang berprilaku demikian tidak berbuat sesuatu, kecuali benar-benar halal dan benar-benar dibutuhkan. Dan rakus terhadap harta akan mengotori jiwa demikian juga banyak berbuat yang tidak baik, memakan yang syubhat dan berkata sia-sia akan memperbanyak dosa dan menajauhkan diri dari Allah, karena melupakan Allah.[7]

Upaya penyucian jiwa - Roh atau jiwa juga bisa menjadi kotor akibat memakan makanan haram, lisan yang mengeluarkan kata-kata lucah dan ugkapan-ungkapan yang menyakiti isi hati orang, telinga yang mendengar fitnah dan mengupat orang, tangan yang melakukan perbuatan yang tidak baik, kaki yang pergi ketempat maksiat atau mengikuti langkah-langkah orang zalim, kemaluan yang melakukan zina dan sebaginya.[1] Maka butuh penyucian diri untuk membersihkan kotoran tersebut melalui jalan yang sangat sulit dan mustahil dilakukan oleh manusia tanpa mendapatkan karunia dari Allah. Oleh karena itu ada dua hal yang harus dilakukan yaitu bersungguh-sungguh dalam menyucikan diri dan berdoa kepada Allah agar diberikan kemampuan dalam meyucikan diri serta konsisten dalam pelaksanaannya. Sebagai mana dikatakan oleh Dr. Mir Valiuddin dalam bukunya Contemplative Disciplines in Sufism: 

Duhai! Barang siapa tidak berusaha keras, maka ia tidak akan pernah mendapatkan pembendaharaan.[2]

Ada beberapa upaya untuk menyucikan diri yaitu memaafkan dan melapangkan hati terhadap orang yang melakukan perbuatan jelek kepada kita, tidak mengikuti langkah-langkah setan karena setan adalah zat yang selalu mengajak kepada perbuatan keji dan kemungkaran, tidak senang menyebarkan kejelekan yang dilakukan orang-orang beriman dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan keji baik secara langsung ataupun tidak, menjaga lisan dari menuduh orang lain atau mengatakan sesuatu yang menyakiti hati orang-orang yang beriman, kecuali memiliki bukti-bukti yang kuat. Inilah beberapa perkara yang berkaitan dengan menyucikan diri (tazkiyatun nafs) yang kita petik dari beberapa ayat al-Quran. 

Objek tazkiyat al-nafs - Said hawwa dalam bukunya Tazkiyatun Nafs membagikan kriteria penyakit-penyakit yang harus disucikan dari diri manusia. 

1. Penyakit-penyakit hati yang disebabkan perbuatan syirik dan cabang-cabangnya. Allah berfirman yang artinya:’’Dan perumpamaan kalimat yang buruk [3] seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (QS.Ibrahim: 28). Sesungguhnya perbuatan syirik memiliki cabang-cabang yang cukup banyak, diawali dari menyembah selain Allah, yaitu kepada perbuatan-perbuatan yang sesat dan perilaku-perilaku yang jelek seperti dengki, sombong, sekutu dengan setan sehingga upaya utama yang harus dilakukan dalam penyucian diri ialah menghilangkan kemusyrikan dan cabang-cabangnya dalam hati. 

2. Terkadang, hati seseorang ditutupi oleh kegelapan yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan keji seperti munafik, kufur, fasik, keraguan atas kebenaran dan dosa-dosa lainnya. Oleh karenanya upaya yang harus dilakukan dalam penyucian diri ialah dengan menghilangkan semua kegelapan yang ada dalam hati yaitu dengan memasukkan cahaya ilahi sehingga hati nya bercahaya dengan kebenaran. 

3. Dalam setiap jiwa manusia terdapat syahwat, sedangkan syahwat memiliki kategori yang cukup banyak, diantaranya adalah syahwat secara lahiriah (hissi) dan syahwat secara maknawi. Syahwat secara kahiriah misalnya senang makan dan minum. Syhwat secara ma’nawiah misalnya pendendam, senang dengan kedudukan, mau menang sendiri. Sebagian dari syahwat itu ada yang diperbolehkan seperti keinginan untuk menikah agar melaksanakan syahwat berhubungan badan dengan lawan jenis dan ada sebagian syahwat yang diharamkan seperti syahwat untuk berjudi, berzina, korupsi dan lainnya. Oleh karena itu, syahwat-syahwat yang diharamkan atau yang dikerjakan itu mengandung hukum haram, maka ini merupan bagian yang harus dihilangkan dalam upaya menyucikan diri (tazkiyatun nafs). 

4. Adapun bagian yang harus dibersihkan dalam upaya penyucian diri selanjutnya yaitu penyucian diri dari penyakit hati dan jiwa seseorang yang terkadang mengalami penyakit, seperti sakitnya badan, sakit yang terdapat dalam hati, seperi sombong, suka membanggakan diri, dengki, menipu, dan dendam. 

Ini lah 4 objek penyucian jiwa yang harus di bersihkan, Barang siapa yang megetahui beberapa poin diatas, maka ia akan mengetahui bagaimana pentingnya penyucian diri (tazkiyatum nafs). SEKIAN.


DAFTAR PUSTAKA
  • Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, Bandung; Pustaka Hidayah, 1996.
  • Penerjamah, Irwan kurniawan, diterjemahkan dari Rawdah ath-Thalibin wa Umdah as- Salikin (Pilar-Pilar Rohani) karya Al-Ghazali, Jakarta: Lentera, 1998
  • Wahib Mu’thi, dalam bukunya, Tarekat sejarah Timbulnya, Macam-Macam, dan Ajaran-Ajaran Tasawuf Bandung: Pustaka Hidayah, 1996
  • Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, Surabaya: Dunia Ilmu, 1998
  • Syeh Abdul Qadir al- Jailani, Kesufian Ahli Sufi Singapura: Pustaka National PTE LTD, 1999.
  • Said Hawwa, Tazkiyatun Nafs, penerbit: Darus- Salam, 2005.

ENDNOTE

[1] Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, (Bandung; Pustaka Hidayah, 1996), cet. Pertama, hal. 46-47.
[2] Penerjamah, Irwan kurniawan, diterjemahkan dari Rawdah ath-Thalibin wa Umdah as- Salikin (Pilar-Pilar Rohani) karya Al-Ghazali, (Jakarta: Lentera, 1998), cet.1, hal. 41.
[3] QS. 12:53.
[4] QS. 89:27-30.
[5] Karena sebenarnya istilah tarekat sendiri terambil dari kata Tariqat atau metode. Yaitu jalan untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Sebagaimana dikutip oleh, Drs Kharisudin Aqib, M.Ag. dari A. Wahib Mu’thi, dalam bukunya, Tarekat sejarah Timbulnya, Macam-Macam, dan Ajaran-Ajaran Tasawuf (cet. 1; bandung: Pustaka Hidayah, 1996), hal. 45.
[6] Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998), cet.1, hal. 36.
[7] Drs. Kharisudin Aqib, M.Ag, Al-Hikmah, (Surabaya: Dunia Ilmu, 1998), cet.1, hal. 37.
[8] Syeh Abdul Qadir al- Jailani, Kesufian Ahli Sufi (Singapura: Pustaka National PTE LTD, 1999), cet. 1, hal. 142.
[9] Penerjamah M.S.Nasrullah, diterjemahkan dari Contemplative Disciplines in Sufism, karya: Dr. Mir Valiuddin, (Bandung; Pustaka Hidayah, 1996), cet. Pertama, hal. 48.
[10]  Said Hawwa, Tazkiyatun Nafs, (penerbit: Darus- Salam, 2005), cet.3, hal. 193-195.

Putra dan Putri Rasulullah Saw

Banyak riwayat yang berbeda tentang berapa jumlah putra-putri Rasulullah Saw. Ada yang mengatakan 6 atau 7 atau 11 dan 12. Menurut pendapat yang paling shahih ialah yang mengatakan 7 anak; 3 putra dan 4 putri. Semua putra-putri Rasulullah Saw terlahir dari Sayyidah Khadijah al-Kubra Ra. kecuali Sayyid Ibrohim, yang terlahir dari Mariyah Al Qibthiyyah Ra. Berikut uraiananya sobat !


1) Al-Qosim bin Muhammad

Ia merupakan putra pertama Rasulullah Saw dan beliau dijuluki dengan Abul Qosim, ia hidup hingga mampu berjalan kemudian meninggal dunia dalam usia 2 tahun.

Tidak boleh orang berkunyah ‘Abul Qosim’ berdasarkan Hadits Saw, “Hendaklah kalian bernama dengan nama-namaku tetapi jangan berkunyah dengan kunyahku (Abul Qosim).” (HR. Bukhori no. 3537 dll). 

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Pendapat yang benar bernama dengan nama Nabi itu diperbolehkan. Sedangkan berkunyah dengan kunyah Nabi itu terlarang. Berkunyah dengan kunyah Nabi saat beliau masih hidup itu terlarang lagi. Terkumpulnya nama dan kunyah Nabi pada diri seseorang juga terlarang.” (Zaadul Ma’ad, 2/317, Muassasah Ar-Risalah). 

Beliau juga mengatakan, “Kunyah adalah salah satu bentuk penghormatan terhadap orang yang diberi kunyah… diantara petunjuk Nabi adalah memberi kepada orang yang sudah punya ataupun yang tidak punya anak. Tidak terdapat Hadits yang melarang berkunyah dengan nama tertentu, kecuali berkunyah dengan nama Abul Qasim.” (Zaadul Maad, 2/314). 


Imam Ibnu Muflih berkata, “Diperbolehkan berkunyah meskipun belum memiliki anak.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih 3/152, Muassasah Ar-Risalah).

2) Zainab binti Muhammad (Wafat 8 H)

Zainab adalah putri tertua Rasulullah Saw. Beliau telah menikahkannya dengan sepupu beliau, yaitu Abul ‘Ash bin Rabi’ sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, atau ketika Islam belum tersebar di tengah-tengah mereka. lbu Abul ‘Ash adalah Halah binti Khuwaylid, bibi Zainab dari pihak ibu. Dari pernikahannya dengan Abul ‘Ash mereka mempunyai dua orang anak: Ali dan Umamah. Ali meninggal ketika masih kanak-kanak dan Umamah tumbuh dewasa dan kemudian menikah dengan Ali bin Abi Thalib. setelah wafatnya Fatimah.

Setelah berumah tangga, Zainab tinggal bersama Abul ‘Ash bin Rabi’ suaminya. Hingga pada suatu ketika, pada saat suaminya pergi bekerja, Zainab mengunjungi ibunya. Dan ia dapatkan keluarganya telah mendapatkan suatu karunia dengan diangkatnya, ayahnya, Muhammad . menjadi Nabi akhir jaman. Zainab mendengarkan keterangan tentang Islam dari ibunya, Khadijah.. Keterangan ini membuat hatinya lembut dan menerima hidayah Islam. Dan keislamannya ini ia pegang dengan teguh, walaupun ia belum menerangkan keislamannya kepada suaminya, Abul ‘Ash. Sedangkan Abul ‘Ash bin Rabi’ adalah termasuk orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai peniaga. Ia sering meninggalkan Zainab untuk keperluan dagangnya. la sudah mendengar tentang pengakuan Muhammad sebagai Nabi .. Namun, ia tidak mengetahui bahwa istrinya, Zainab sudah memeluk Islam. Pada tahun ke-6 setelah hijrah Nabi . ke Madinah.

Abul ‘Ash bin Rabi’ pergi ke Syria beserta kafilah-kafilah Quraisy untuk berdagang. Ketika Rasulullah . mendengar bahwa ada kafilah Quraisy yang sedang kembali dari Syria, beliau mengirim Zaid bin Haritsah ra. bersama 313 pasukan muslimin untuk menyerang kafilah Quraisy ini. Mereka menghadang kafilah ini di dekat Al-is di Badar pada bulan jumadil Awal. Mereka menangkap kafilah itu dan barang-barang yang dibawanya serta menahan beberapa orang dari kafilah itu, termasuk Abul ‘Ash bin Rabi’. Ketika penduduk Mekkah datang unluk menebus para tawanan, maka saudara laki-laki Abul ‘Ash, yaitu Amar bin Rabi’, telah datang untuk menebus dirinya. Ketika itu, Zainab istri Abul ‘Ash masih tinggal di Mekkah. la pun telah mendengar berita serangan kaum muslimin atas kafilah-kafilah Quraisy termasuk berita tertawannya Abul ‘Ash.

Berita ini sangat meiiyedihkannya. Lalu ia mengirimkan kalungnya yang terbuat dari batu onyx Zafar hadiah dari ibunya, Khadijah binti Khuwaylid ra.. Zafar adalah sebuah gunung di Yaman. Khadijah binti Khuwaylid telah memberikan kalung itu kepada Zainab ketika ia akan menikah dengan Abul ‘Ash bin Rabi’. Dan kali ini, Zainab mengirimkan kalung itu sebagai tebusan atas suaminya, Abul ‘Ash. Kalung itu sampai di tangan Rasulullah . Ketika beliau . melihat kalung itu, beliau segera mengenalinya. Dan kalung itu mengingatkan beliau kepada istrinya yang sangat ia sayangi, Khadijah. Beliau berkata, ‘Seorang Mukmin adatah penolong bagi orang Mukmin lainnya. Setidaknya mereka memberikan perlindungan. Kita lindungi orang yang dilindungi oleh Zainab. jika kalian bisa mencari jalan untuk niembebaskan Abul ‘Ash kepada Zainab dan mengembalikan kalungnya itu kepadanya, maka lakukaniah.’ Mereka menjawab, ‘Baik, ya Rasulullah ‘ Maka mereka segera membebaskan Abul ‘Ash dan mengembalikan kalung itu kepada Zainab.

Kemudian Rasulullah . menyuruh Abul ‘Ash agar berjanji untuk membiarkan Zainab bergabung bersama Rasulullah . Dia pun berjanji dan memenuhi janjinya itu. Ketika Rasulullah . pulang ke rumahnya, Zainab datang menemuinya dan meminta untuk mengembalikan kepada Abul ‘Ash apa yang pernah diambil darinya. Beliau mengabulkannya. Pada kesempatan itu, Beliau pun telah melarang Zainab agar tidak mendatangi Abul ‘Ash, karena dia tidak halal bagi Zainab selama dia masih kafir. lalu Abul ‘Ash kembali ke Mekkah dan menyelesaikan semua kewajibannya. Kemudian dia masuk Islam dan kembali kepada Rasulullah sebagai seorang Muslim. Dia berhijrah pada bulan Muharram, 7 Hijriyah. Maka Rasulullah pun mengembalikan Zainab kepadanya, berdasarkan pernikahannya yang pertama.

Zainab wafat pada tahun 8 Hijriyah. Orang-orang yang memandikan jenazahnya ketika itu, antara lain ialah; Ummu Aiman, Saudah binti Zam’ah, Ummu Athiyah dan Ummu Salamah.. Rasulullah. berpesan kepada mereka yang akan memandikan jenazahnya ketika itu, ‘Basuhiah dia dalam jumlah yang ganjil, 3 atau 5 kali atau iebih jika kalian merasa lebih baik begitu. Mulailah dari sisi kanan dan anggota-anggota wudhu. Mandikan dia dengan air dan bunga. Bubuhi sedikit kapur barus pada air siraman yang terakhir. Jika kalian sudah selesai beritahukaniah kepadaku.’ Ketika itu, rambut jenazah dikepang meniadi tiga kepangan, di samping dan di depan lalu dikebelakangkan. Setelah selesai dari memandikan jenazah, Ummu Athiyah memberitahukan kepada Nabi . Lalu Nabi memberikan selimutnya dan berkata, ‘Kafanilah dia dengan kain ini.’

3) Ruqayyah Binti Rasulullah (Wafat 2 H)

Ruqayyah telah menikah dengan Utbah bin Abu lahab sebelum masa kenabian. Sebenarnya hat itu sangat tidak disukai oleh Khadijah.. Karena ia telah mengenal perilaku ibu Utbah, yaitu Umrnu jamil binti Harb, yang terkenal berperangai buruk dan jahat. ta khawatir putrinya akan memperoleh sifat-sifat buruk dari ibu mertuanya tersebut. Dan ketika Rasulullah . telah diangkat menjadi Nabi, maka Abu Lahablah, orang yang paling memusuhi Rasulullah . dan Islam. Abu Lahab telah banyak menghasut orang-orang Mekkah agar memusuhi Nabi . dan para sahabat . Begitu pufa istrinya, Ummu Jamil yang senantiasa berusaha mencelakakan Rasulullah . dan memfitnahnya. Atas perilaku Abu lahab dan permusuhannya yang keras terhadap Rasulullah ., maka Allah telah menurunkan wahyu-Nya, ‘Maka celakalah kedua tangan Abu lahab, (Al lahab: 1)

Setelah ayat ini turun, maka Abu lahab berkata kepada kedua orang putranya, Utbah dan Utaibah, ‘Kepalaku tidak haial bagi kepalamu selama kamu tidak menceraikan Putri Muhammad.’ Atas perintah bapaknya itu, maka Utbah mericeraikan istrinya tanpa alasan. Setelah bercerai dengan Utbah, kemudian Ruqayyah dinikahkan oleh Rasulullah . dengan Utsman bin Affan. Hati Ruqayyah pun berseri-seri dengan pernikahannya ini. Karena Utsman adalah seorang Muslim yang beriman teguh, berbudi luhur, tampan, kaya raya, dan dari golongan bangan Quraisy. Setelah pernikahan itu, penderitaan kaum muslimin bertambah berat, dengan tekanan dan penindasan dari kafirin Quraisy. Ketika semakin hari penderitaan kaum muslimin, termasuk keluarga Rasulutlah . bertambah berat, maka dengan berat hati Nabi . mengijinkan Utsman beserta keluarganya dan beberapa muslim lainnya untuk berhijrah ke negeri Habasyah. Ketika itu Rasulullah . bersabda, ‘Pergilah ke negeri Habasyah, karena di sana ada seorang raja yang terkenal baik budinya, tidak suka menganiaya siapapun, Di sana adalah bumi yang melindungi kebenaran. Pergilah kalian ke sana. Sehingga Allah akan membebaskan kalian dari penderitaan ini.’

Maka berangkatlah satu kafilah untuk berhijrah dengan diketuai oleh Utsman bin Affan. Rasulullah . bersabda tentang mereka, Mereka adalah orang yang pertama kali hijrah karena Allah setelah Nabi Luth as.’ Setibanya di Habasyah mereka memperoleh perlakuan yang sangat baik dari Raja Habasyah. Mereka hidup tenang dan tenteram, hingga datanglah berita bahwa keadaan kaum muslimin di Mekkah telah aman. Mendengar berita tersebut, disertai kerinduan kepada kampung halaman, maka Utsman memutuskan bahwa kafilah muslimin yang dipimpimnya itu akan kembali lagi ke kampung halamannya di Mekkah. Mereka pun kembali. Namun apa yang dijumpai adalah berbeda dengan apa yang mereka dengar ketika di Habasyah. Pada masa itu, mereka mendapati keadaan kaum muslimin yang mendapatkan penderitaan lebih parah lagi. Pembantaian dan penyiksaan atas kaum muslimin semakin meningkat. Sehingga rombongan ini tidak berani memasuki Mekkah pada siang hari. Ketika malam telah menyelimuti kota Mekkah, barulah mereka mengunjungi rumah masingmasing yang dirasa aman. Ruqayyah pun masuk ke rumahnya, melepas rindu terhadap orang tua dan saudara-saudaranya.

Namun ketika matanya beredar ke sekeliling rumah, ia tidak menjumpai satu sosok manusia yang sangat ia rindukan. la bertanya, ‘Mana ibu?….. mana ibu?….’ Saudara-saudaranya terdiam tidak menjawab. Maka Ruqayyah pun sadar, orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu telah tiada. Ruqayyah menangis. Hatinya sangat bergetar, bumi pun rasanya berputar atas kepergiannya. Penderitaan hatinya, ternyata tidak berhenti sampai di situ. Tidak lama berselang, anak lelaki satu-satunya, yaitu Abdullah yang lahir ketika hijrah pertama, telah meninggal dunia pula. Padahal nama Abdullah adalah kunyah bagi Utsman ra., yaitu Abu Abdullah. Abdullah masih berusia dua tahun, ketika seekor ayam jantan mematuk mukanya sehingga mukanya bengkak, maka Allah mencabut nyawanya. Ruqayyah tidak mempunyai anak lagi setelah itu.

Dia hijrah ke Madinah setelah Rasulullah j. hijrah. Ketika Rasulullah . bersiap-siap untuk perang Badar, Ruqayyah jatuh sakit, sehingga Rasulullah . menyuruh Utsman bin Affan agar tetap tinggal di Madinah untuk merawatnya. Namun maut telah menjemput Ruqayyah ketika Rasulullah . masih berada di medan Badar pada bulan Ramadhan. Kemudian berita wafatnya ini dikabarkan oleh Zaid bin Haritsah ke Badar. Dan kemenangan kaum muslimin yang dibawa oleh Rasulullah . beserta pasukannya dari Badar, ketika masuk ke kota Madinah, telah disambut dengan berita penguburan Ruqayyah. Pada saat wafatnya Ruqayyah, Rasulullah . berkata, Bergabunglah dengan pendahulu kita, Utsman bin Maz’un.’ Para wanita menangisi kepergian Ruqayyah. Sehingga Umar bin Khattab. datang kepada para wanita itu dan memukuli mereka dengan cambuknya agar mereka tidak keterlaluan dalam menangisi jenazah Ruqayyah. Akan tetapi Rasulullah . menahan tangan Umar. dan berkata, ‘Biarkaniah mereka menangis, ya Umar. Tetapi hati-hatilah dengan bisikan syaitan. Yang datang dari hati dan mata adalah dari Allah dan merupakan rahmat. Yang datang dari tangan dan lidah adalah dari syaitan.’

4) Ummu Kultsum Binti Muhammad (Wafat 9 H)

Ummu Kultsum adalah adik Ruqayyah, putri Rasulullah . Ia telah menikah dengan Utaibah bin Abu Lahab, saudara Utbah yang telah menikahi Ruqayyah, sebelurn mereka mengenal Islam. Lalu ketika Rasulullah . telah diangkat menjadi Nabi, ia dan saudara-saudaranya memeluk Islam dengan lapang dada. Dan dakwah Nabi. Yang selalu ditentang oleh Abu lahab beserta keluarganya ini, menyebabkan Allah telah mewahyukan kepada Nabi. Firman-Nya yang berbunyi, Maka celakalah kedua tangan Abu lahab’(Al-lahab: 1) ‘ Setelah turun ayat ini, Abu lahab berkata kepads Utaibah anaknya, “Kepalaku tidak halal bagi kepalamu selama kamu tidak menceraikan putri Nabi. Maka dia pun menceraikan istrinya, Ummu Kultsum begitu saja. Utaibah mendatangi Nabi dan mengatakan kata-kata yang menyakitkan hati Rasulullah. Atas periakuan itu, maka Rasulullah telah berdoa kepada Allah, agar mengirimkan anjing-anjing-Nya untuk membinasakan Utaibah. Dan apa yang telah didoakan oleh Nabi terhadap Utaibah itu benar-benar teriadi.

Dalam suatu perjalanan, seekor singa yang ganas telah memilih Utaibah di antara teman-temannya untuk diterkam kepalanya. Utaibah mati dalam keadaan yang sangat mengerikan. Setelah bercerai, maka Ummu Kultsum kembali tinggal bersama Rasulullah di Mekkah. Dia ikut hijrah ke Madinah ketika Rasulullah berhijrah, kemudian tinggal di sana bersama keluarga Rasulullah. Ruqayyah dan Ummu Kultsum adalah dua orang saudara yang perjalanan hidup mereka hampir sama. Mereka berdua terlahir dari bapak yang sama, ibu yang sama, suami mereka pun kakak beradik yang namanya mempunyai arti yang sama; Utbah dan Utaibah, mempunyai mertua yang sama, masuk Islam pada hari yang sama, bercerai pada hari yang sama, dan setelah perceraian itu, mereka mempunyai suami yang sama pula.

Ketika Ruqayyah meninggal dunia, maka Utsman bin Affan. menikahi Ummu Kultsum yang masih perawan yang belum terjamah oleb Utaibah. Pada waktu itu adalah bulan Rabi’ul-Awwal, tahun ke-3 Hijriyah. Dan keduanya baru berkumpul pada bulan Jumadits-Tsani. Mereka hidup bersama sampai Ummu Kultsum meninggal dunia tanpa mendapatkan seorang anak pun. Ummu Kultsum meninggal dunia pada bulan Sya’ban tahun ke-9 Hijriyah. Rasulullah berkata, Seandainya aku mempunyai sepuluh orang putri, maka aku akan tetap menikahkan mereka dengan Utsman.’ Ummu Kultsum adalah seorang wanita yang cantik. la senang memakai jubah sutra yang bergaris. Pada hari wafatnya, jenazahnya telah dimandikan oleh Asma’ binti Umais dan Shafiah binti Abdul Muthalib. Jenazahnya ditempatkan di atas sebuah keranda yang terbuat dari batang polgon palem yang baru dipotong. Dan pada saat penguburannya, Rasulullah duduk di dekat kuburan Ummu Kultsum dengan berlinangan air mata. Beliau berkata, siapa di antara kalian yang tidak bercampur dengan istrinya tadi malam?’ Abu Thalhah ra. berkata, ‘Aku, ya Rasulullah ‘ lalu Beliau menyuruhnya, “Turunlah kamu.” Maka Abu Thalhah turun dan menguburkan Ummu Kultsum.

5) Fatimah Az Zahra Binti Rasulullah (Wafat 11 H)

Kelahiran Fahimah disambut gembira oleh Rasulullah Saw dengan memberikan nama Fathimah dan julakannya Az-Zahra, sedangkan kunyahnya adalah Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya). Ia putri yang mirip dengan ayahnya, Ia tumbuh dewasa dan ketika menginjak usia 5 tahun terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya yaitu turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban oleh ayahnya. Dan ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya.sampai cobaan yang berat dengan meninggal ibunya Khadijah. Ia sangat pun sedih dengan kematian ibunya.

Pada saat kaum muslimin hijrah ke madinah, Fathima dan kakanya Ummu Kulsum tetap tinggal di Makkah sampai Nabi mengutus orang untuk menjemputnya.Setelah Rasulullah Saw menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar, para sahabat berusaha meminag Fathimah. Abu Bakar dan Umar maju lebih dahulu untuk meminang tapi nabi menolak dengan lemah lembut.Lalau Ali bin Abi Thalib dating kepada Rasulullah untuk melamar, lalu ketika nabi bertanya, “Apakah engkau mempunyai sesuatu ?”, Tidak ada ya Rasulullah,” jawabku. “ Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu,” Tanya beliau. “ Masih ada padaku wahai Rasulullah,” jawabku. “Berikan itu kepadanya (Fatihmah) sebagai mahar,”.kata beliau. 

Lalu Ali bergegas pulang dan membawa baju besinya, lalu Nabi menyuruh menjualnya dan baju besi itu dijual kepada Utsman bin Affat seharga 470 dirham, kemudian diberikan kepada Rasulullah dan diserahkan kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin. Kaum muslim merasa gembira atas perkawinan Fathimah dan Ali bin Abi Thalib, setelah setahun menikah lalu dikaruniai anak bernama Al-Hasan dan saat Hasan genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke 4 H.

Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:” Sungguh Fathima bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah bearti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fathimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.” Setelah Rasulullah Saw menjalankan haji wada’ dan ketika ia melihat Fathima, beliau menemuinya dengan ramah sambil berkata,” Selamat datang wahai putriku”. Lalu Beliau menyuruh duduk disamping kanannya dan membisikan sesuatu, sehingga Fathimah menangis dengan tangisan yang keras, tak kala Fathimah sedih lalu Beliau membisikan sesuatu kepadanya yang menyebabkan Fathimah tersenyum. 

Takala Aisyah bertanya tentang apa yang dibisiknnya lalu Fathimah menjawab,” Saya tak ingin membuka rahasia”. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah bertanya lagi kepada Fathimah tentang apa yang dibisikan Rasulullah kepadanya sehingga membuat Fathimah menangis dan tersenyum. Lalu Fathimah menjawab,” Adapun yang Beliau kepada saya pertama kali adalah beliau memberitahu bahwa sesungguhnya Jibril telah membacakan al-Qura’an dengan hapalan kepada beliau setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun 2 kali, lalu Beliau berkata “Sungguh saya melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik baiknya Salaf (pendahulu) untukmu adalah Aku.”. Maka akupun menangis yang engkau lihat saat kesedihanku. Dan saat Beliau membisikan yang kedua kali, Beliau berkata,” Wahai Fathimah apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita wanita penghuni surga dan engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku”. Kemudian saya tertawa.

Takala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Fathimah jatuh sakit, namaun ia merasa gembira karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama kemudian iapun beralih ke sisi Tuhannya pada malam selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.

6) Abdullah

Ada yang menyebutkan bahwa ia dilahirkan pada masa keislaman. Namun ada pula yang menyebutkan bahwa itu sebelum masa keislaman, lalu ia meninggal dunia dalam usia yang masih kecil. Ia merupakan putra terakhir Nabi dari Khadijah. Atas pendapat pertama di atas, lebih menegaskan bahwa seluruh putra dan putri Khadijah lahir sebelum masa kenabian, kecuali Abdullah. Karena itulah, Abdullah kemudian dijuluki ath-Thayyib (yang balk) dan ath-Thahir (yang suci).

7) Ibrahim

Ia dilahirkan di Madinah dari budak perempuan milik Nabi yakni Mariyah Al-Qibthiyyah pada bulan Jumadil Ula atau pada bulan Jumadil Akhir tahun ke 9 Hijriyyah. Dan ia meninggal dunia pada tanggal 29 Syawal di tahun ke 10 Hijriyyah, yakni pada hari terjadinya gerhana matahari di Madinah dalam usia menyusui, yakni dalam umur 16 atau 18 bulan. Lalu dikebumikan di Baqi'. Nabi pernah berkata, "Sungguh akan ada yang menyusuinya di surga untuk menyempurnakan masa susuannya."

Sumber: 
Buku Dzaujatur Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh
dalam Ebook compiled by ::. Abdus Salam Al-Indunisy
Previous Home
 
ADMIN : SQ BLOG - wahana ilmu dan amal HASRUL | FB RulHas - SulTra | TWITTER RulHas BS
Copyright © 2014. ZYIAR™ BS - All Rights Reserved
Support : Creating Website | Mas Template
Proudly powered by Blogger