Daftar Isi/Contents SQ BLOG >> KLIK DISINI
kajian(*)Quran_Hadis_Sains. Diberdayakan oleh Blogger.

Peran Akhlak dalam Membina Kesejahteraan

Kamis, 11 September 2014

SALAM - SOBAT SQ, jumpa lagi !! Kali ini sekilas urgensi akhlak menuju kesejahteraan dalam masyarakat. Sejahtera menurut Kamu Besar Bahasa Indonesia adalah aman, sentosa, makmur, terlepas dari segala macam gangguan, kesukaran dan sebagainya. Masyarakat yang sejahtera identik dengan kesejahteraaan sosial. Al-Quran menggunakan beberapa istilah yang berarti kesejahteraan sosial, diantaranya al-Falah yang menjadi tujuan akhir dalam kehidupan manusia di dunia ini. (Asep Usman Ismail, 2012: 1-2) 

Sebagian pakar mengaitkan lahirnya akhlak sebagai keniscayaan dari kedudukan manusia sebagai makhluk sosial. Kebutuhan manusia sedemikian banyak sehingga dia harus bekerja sama dan menjalin hubungan harmonis dengan selainnya agar terpenuhi aneka kebutuhan tersebut. Dari sini setiap individu dituntut sejak dini mampu melakukan hubungan baik agar dapat terjalin hubungan harmonis dan dapat pula terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya untuk hidup bermasyarakat. (Quraish Shihab, 2011: 740) 

Kehidupan sosial masyarakat dalam perspektif akhlak dan moral seperti fungsinya dalam perspektif akidah, pemahaman, dan syiar ritual lainnya. Ini menunjukkan peranan penting masyarakat yang berakhlak dalam menciptakan generasi yang memilki solidaritas tinggi terhadap sesama. Menurut Yusuf Qardhawy, masyarakat dalam kaitannya dengan akhlak berperan dalam tiga aspek, (Yusuf Qardhawy, 1999: 91-92) yaitu: 

1) Aspek pengarahan, aspek ini berperan dalam mengatur sisi penerbitan, propaganda dan berbagai media penerangan (informasi) dan percerdasan serta berbagai media dakwah dan penyuluhan; 

2) Aspek pemantapan, sisi ini berjalan melalui pengajaran jangka panjang pendidikan yang berakar mendalam pada lingkup keluarga, sekolah dan universitas; 

3) Aspek perlindungan; aspek ini berjalan melalui kontrol kritis berupa opini umum masyarakat dengan memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, anti terhadap tindak penyelewengan dan membersihkan iklim masyarakat dari polusi moral. 

Melalui optimalisasi fungsi masyarakat yang terdiri dari aspek pengarahan, pemantapan dan perlindungan, maka akan tercipta kehidupan yang bermoral, yaitu kehidupan yang dijalankan bukan atas kepentingan materi, tendensi politis, dominasi golongan lemah dan pertimbangan militer belaka. Maka dalam masyarakat ini, tidak ada dikotomi antara ilmu dan moral, seni dan moral, ekonomi dan moral, politik dan moral, perang dan moral. Oleh karena itu, moral atau akhlak merupakan unsur dominan yang menguasai semua urusan kehidupan dan prilakunya, kecil dan besarnya maupun individual dan komunitasnya. 

Kesejahteraan sosial dimulai dari perjuagan mewujudkan dan menumbuhsuburkan aspek-aspek akidah dan akhlak pada diri pribadi. Sebab, dari diri pribadi yang seimbang akan lahir masyarakat yang seimbang. Semua dimensi masyarkat harus dalam pengawasan dan menjadi tanggung jawab bersama. Semua awal perubahan hanya terletak dalam diri setiap insan di dalam masyarakat. Firman Allah dalam surah al-Imran menegaskan sebab keunggulan umat Nabi Muhammad Saw dengan firmannya: 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruf kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. (Q.S. al-Imran: 110) Ayat diatas menegaskan akan keunggulan umat Islam disebabkan oleh kepedulian mereka terhadap masyarakat secara umum sehingga mereka tampil melakukan kontrol sosial, khususnya dalam pendidikan akhlak. Indikasi krisis akhlak dapat dilihat dengan berkembangnya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang dikhawatirkan akan membahayakan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, gejala tersebut harus dihindari denga n segala cara, diantaranya adalah melalui perbaikan dan pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak dalam masyarkat berhadapan dengan sesuatu yang terdalam dari wujud manusia sehingga tidak mudah untuk dilakukan, tidak nyata hasilnya dan tidak dapat dicapai dalam waktu yang pendek. (Amir Syarifuddin, 2005: 256-257)

Rujukan
  • Shihab, Quraisy. Membumikan al-Quran: Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan, Jilid 2, Cet. I, Tangerang: Lentera Hati, 2011
  • Qardhawy, Yusuf. Anatomi Masyarakat Islam, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1999
  • Syarifuddin, Amir. “Meretas Kebekuan Ijtihad: Isu-isu Penting Hukum Islam Kontemporer di Indonesia”, Cet. V, Tangerang: Ciputat Press, 2005
  • Usman Ismail, Asep. Al-Quran dan Kesejahteraan Sosial, Cet. I, Tangerang: Lentera Hati, 2012
Baca Juga:

Ancaman Berlaku Buruk kepada Pembantu

Minggu, 04 Mei 2014

Sabda Nabi Saw:

وحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ : كُنْتُ أَضْرِبُ غُلَامًا لِي فَسَمِعْتُ مِنْ خَلْفِي صَوْتًا اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ لَلَّهُ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَيْهِ فَالْتَفَتُّ فَإِذَا هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُوَ حُرٌّ لِوَجْهِ اللَّهِ فَقَالَ أَمَا لَوْ لَمْ تَفْعَلْ لَلَفَحَتْكَ النَّارُ أَوْ لَمَسَّتْكَ النَّارُ . (رواه مسلم)

Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami Abu KuraibMuhammad bin A’la’i, telah menceritakan kepada kamiAbu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami A’masyu dari Ibrahi at-Thaimiy dari bapaknya dari Abu Mas’ud al-Anshary, dia berkata : “Saya telah memukul sahaya kami lalu saya mendengar suara dari belakang (ketahuilah wahai Abu Mas’ud “Sesungguhnya Allah lebih Berkuasa atas dirimu daripada kamu sendiri atas Sahaya itu”). Maka saya pun menoleh, kiranya itu suara Rasulullah SAW, Saya lalu berkata: “dia bebas Lillahi. Maka Rasulullah SAW Pun berkata : “jika Kamu tidak berbuat demikian niscaya api neraka akan membakarmu.[1]

Berdasarkan hadis diatas, memberikan isyarat yang jelas tentang larangan berbuat semena-mena kepada pembantu atau pihak lain yang semisal dengannya. Mengenai konsep kekuasaan, secara fundamental Islam berbeda dari semua sistem lainnya. Kekuasaan dalam Islam Mutlak ada pada Allah. Kekuasaan bukan milik Kerajaan, Negara, Majikan atau bahkan Presiden sekalipun.[2] Islam mengajarkan kesetaraan semua gender tanpa ada perbedaanya kecuali kualitas takwa yang membedakannya. Oleh sebab itu, islam memberikan perhatian besar untuk berlaku baik terhadap semua makhluk dumuka bumi ini.

... رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿ آل عمران: ۱۹۱﴾

Artinya: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Pada sebuah riwayat, bahwa seorang laki-laki mendudukkan budak perempuannya di atas tungku sehingga membakar pantatnya, maka Umar memerdekakannya dan memukul laki-laki tersebut. Riwayat ini dikemukakn oleh Ahmad dalam riwayat Abu Mansur. Pristiwa ini menunjukkan bahwa perlakuan buruk terhadap budak (merusak bagian anggota badan pada budak) memiliki konsekuensi perubahan status budak tersebut menjadi Merdeka.[3]

Mengenai perusakan pada anggota badan seorang Budak terdapat perbedaan pendapat. Apakah kemerdekaan itu langsung terjadi karena perusakan itu? disebutkan dalam al-Bahri dari Ali, Al-Hadi, Al-Muayyid Billah dan para ulama Irak, bahwa kemerdekaan itu tidak langsung terjadi, akan tetapi tuannya diperintahkan untuk memerdekakan. Apabila ia menolak maka diberlakukan oleh hakim. Malik, al-Laits, Daud dan al-Auza’i mengatakan, “Langsung merdeka karena perusakan itu.” Disebutkan di dalam al-Bahr juga, bahwa budak itu merdeka (yang dibayar oleh pelakunya) dan harganya diberikan diberikan kepada pemiliknya. Juga, disebutkan di dalam al-Ikhtiyarat: bila pemilik memaksa budaknya melakukan perbuatan keji, maka budak itu merdeka karena pemaksaannya itu. Ini salah satu pendapat di dalam madzhab kami (Pensyarah).[4]

Daftar Bacaan:
  • An-Naisabury, Muslim Abu Husain Al-Qusairy, Syarah Hadis Muslim, Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997 
  • Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1997 
  • Alu Mubarak, Syaikh Faishal bin Abdul Azis, Nailul Uathar, Jakarta Selatan : Pustaka Azzam, 2006, Cet. I

ENDNOTE

[1]  Imam Muslim Abu Husain Al-Qusairy An-Naisabury, Syarah Hadis Muslim (Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997), Bab صُحْبَةِ الْمَمَالِيكِ وَكَفَّارَةِ مَنْ لَطَمَ عَبْدَهُ , Juz 3, Hal. 1280
[2] Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam (Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1997), Hal. 344
[3] Faishal bin Abdul Azis Al-Mubarak, Nailul Uathar (Jakarta Selatan : Pustaka Azzam, 2006), Bab Orang yang Merusak Tubuh Budaknya, maka Budaknya Merdeka, Cet. I, Hal 382
[4] Ibid, Hal. 384

Dosa Menahan Gaji Pembantu

Kamis, 01 Mei 2014

Sabda Nabi Saw:


حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجَرْمِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبْجَرَ الْكِنَانِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ خَيْثَمَةَ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو إِذْ جَاءَهُ قَهْرَمَانٌ لَهُ فَدَخَلَ فَقَالَ أَعْطَيْتَ الرَّقِيقَ قُوتَهُمْ قَالَ لَا قَالَ فَانْطَلِقْ فَأَعْطِهِمْ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ . (رواه مسلم)

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Said bin Muhammad Al-Jarmiy, telah mencerikan kepada kami Abdul Rahman bi Abdul Malik bin Abjar Al-Kinany dari Bapaknya dari Thalhah bin Musharrif dari Khaisamah, dia berkata : “kami duduk bersam Abdullah bin Amr dan ia didatangi penjaga gudangnya. Penjaga gudang itu kemudian masuk dan Abdullah bin Amr berkat kepadanya : “apakah engkau telah memberi makan kepada para budak ?” Ia menjawab: “Belum”. Ia berkata lagi : “berangkatlah dan berilah mereka makan, karena sesungguhnya rasulullah SAW telah bersabda (cukuplah seseorang berdosa karena menahan makanan dari orang yang seharusnya ia beri makan”.[1]

Pensyarah Rahimahullah Ta’ala mengatakan: Hadits di atas menunjukkan wajibnya memberi nafkah kepada budak yang dimiliki dan ini merupakan ijma’ ulama. Konteks hadits Abdullah bin Amr bahwa tuan pemilik budak tidak mesti memberi makan budaknya dengan dengan makanan seperti yang dimakannya, akan tetapi yang wajib adalah mencukupi kebutuhan makannya dengan baik.[2]

Pada keterangan hadits lain, terdapat sebuah dalil haramnya menahan (mengurung) kucing dan binatang lainnya tanpa diberi makan dan minum, karena hal itu berrti menyiksa makhluk Allah (Muttafaq ‘Alaih). Pemahaman konteks hadits ini berhubungan dengan larangan bagi seorang tuan yang tidak memberi makan pada budaknya.[3]

Penjelasan lain mengenai larangan menahan gaji atau upah pembantu disebutkan dalam sebuah hadis Qudsi Berikut:

حَدَّثَنِى بِشْرُ بْنُ مَرْحُومٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « قَالَ اللَّهُ ثَلاَثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، رَجُلٌ أَعْطَى بِى ثُمَّ غَدَرَ ، وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ ، وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ ، وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ » . (رواه البخاري و أحمد)

Keterangan hadis diatas bahwa salah satu golongan yang menjadi musuh Allah pada hari kiamat ialah orang yang tidak memberikan upah kepada orang yang dipekerjakannya. Pensyarah Rahimahullah Ta’ala mengatakan: Firman Allah dalam hadits Qudsi di atas (tetapi ia tidak memberikan upahnya), arti ini semakna dengan seseorang yang menjual orang merdeka lalu memakan hasil penjualannya karena ia telah mengambil manfaatnya tanpa memberikan upahnya. Jadi seolah-olah ia memakannya dan karena ia telah mempekerjakannya tanpa upah, maka seolah-olah ia telah memperbudaknya. Sabda beliau (akan tetapi, pekerja berhak menerima upah setelah ia menyelesaikan pekerjaanya), menunjukkan bahwa upah itu berhak diterima karena selesainya suatu pekerjaan yang telah dilakukan oleh seseorang.[4]


Daftar Bacaan:

  • An-Naisabury, Muslim Abu Husain Al-Qusairy, Syarah Hadis Muslim, Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997
  • Alu Mubarak, Syaikh Faishal bin Abdul Azis, Nailul Uathar, Jakarta Selatan : Pustaka Azzam, 2006, Cet. I


ENDNOTE


[1]  Imam Muslim Abu Husain Al-Qusairy An-Naisabury, Syarah Hadis Muslim (Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997), Bab فَضْلِ النَّفَقَةِ عَلَى الْعِيَالِ وَالْمَمْلُوكِ وَإِثْمِ مَنْ ضَيَّعَهُمْ أَوْ حَبَسَ نَفَقَتَهُمْ عَنْهُمْ , Juz 5, Hal. 161
[2]  Faishal bin Abdul Azis Al-Mubarak, Nailul Uathar (Jakarta Selatan : Pustaka Azzam, 2006), Bab Nafkah Hambah Sahaya dan Bersikap Baik Terhadapnya, Cet. I, Hal 700
[3] Ibid, Hal 700-702
[4] Ibid, Hal. 208-209

Memuliakan Pembantu

Sabda Nabi Saw:


حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ وَاصِلٍ الأَحْدَبِ عَنِ الْمَعْرُورِ قَالَ لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ، وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ ، وَعَلَى غُلاَمِهِ حُلَّةٌ ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ ، فَقَالَ إِنِّى سَابَبْتُ رَجُلاً فَشَكَانَي إِلَى النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ لِي النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ، أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ ؟ ثُمَّ قَالَ : إِنَّ إِخْوَانَكُمْ خَوَلُكُمْ ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ ، وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ » . (رواه البخاري)

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, dia berkata, telah mencerikan kepada kami Syu’bah dari Washil Al-Ahdab dari Ma’rur berkata : “saya bertemu Abu Dzar di Rabadzah dan ia mengenakan Hullah begitu juga budaknya. Kami bertanya kepadanya mengenai hal itu, maka dia berkata : “Sesungguhnya Aku mencaci seseorang lalu orang itu mengadukanku kepada Nabi SAW. Maka Nabi SAW bersabda kepadaku : “Apakah engkau mencelanya dengan mencaci Ibunya? Kemudian beliau bersabda : “sunggguhnya saudara-saudara kamu adalah pelayan kamu. Allah telah menjadikan mereka dibawah kekuasaan kamu. Barang siapa yang saudaranya berada didalam kekuasaanya, maka hendaklah memberinya makan dari apa yang dia makan dan memberinya minum dari apa yang dia minum. Janganlah kamu membebani mereka dengan apa yang mereka tidak mampu mereka lakukan. Apabila kamu membebani mereka dengan apa yang diluar kemampuan mereka, maka bantulah”.[1]

a) Keterangan Sumber Hadis

Mengenai hadis diatas, disebutkan di dalam Shahih Bukhari pada kitab Al-Itqu bab sabda Nabi SAW, “budak adalah saudara-saudara kamu, maka berilah mereka makan dari apa yang kamu makan”. Makna kalimat judul bab ini disebutkan oleh Imam Bukhari dari Hadis Abu Dzar. Kami telah meriwayatkan dalam kitab Al-Iman oleh Ibnu Mandah dengan lafash إِنَّ إِخْوَانَكُمْ، فَمَنْ لاَء مَكُمْ مِنْهُمْ فَلْيُطْعِمُوْهُمْ مِمَّا تَأْكُلُوْنَ وَاكْسُوْهُمْ مِمَّا تَكْسُوْنَ) : Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kamu. Barang siapa melayani kamu diantara mereka, maka berilah makan dari apa yang kamu makan dan berilah pakaian dari apa yang kamu pakai).[2]

Abu daud meriwayatkan dari jalur Muwarriq dari Abu Dzar dengan lafash من لاَء مَكُمْ مِنْ مُمْلُوكِكُمْ فَلْيُطْعِمُوْهُمْ مِمَّا تَأْكُلُوْنَ وَاكْسُوْهُمْ مِمَّا تَلْبَسُونَ) : Barang siapa melayani kamu diantara budak-baudak kamu, maka berilah mereka makan dari apa yang kamu makan dan berilah mereka pakaian dari apa yang kamu pakai).[3]

Imam Bukhari meriwaytkan dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad dari jalur Salam bin Amr dari seorang laki-laki dari kalangan Sahabat dari Nabi SAW, beliau bersabda : “أَرِقَاؤُكُمْ إِخْوَانُكُمْ : Budak-budak kamu adalah saudara-saudara kamu”. Dan dari Hadis Abu Al-Yasr (yakni Ka’ab bin Amr Al-Anshari dari Nabi SAW “ أَطْعِمُوْهُمْ مِمَّا تُطْعِمُوْنَ وَاكْسُوْهُمْ مِمَّا تَلْبَسُوْنَ : berilah mereka makan dari apa yang kamu makan dan berilah mereka pakaian dari apa yang kamu pakai”. Kemudian riwayat ini dikutif oleh Imam Muslim.[4]

b) Keterangan Hadis Mengenai Penyebutan Saudara

Lafas خَوَلَ / Khawal adalah pelayan. Dinamakan demikian karena sifat mereka adalah memperbaiki urusan. Dari sinilah sehingga perawat kebun dinamakan Al-Khauli. Ada pula yang mengatakan bahwa Khaul adalah bentuk jamak dari kata Khail yang artinya penggembala. Pendapat lain mengatakan bahwa takhwilnya adalah kepemilikan seperti ungkapan خَوَّلَكَ اللهُ كَذَا) : Allah menjadikanmu memiliki hal ini).[5]

Firman Allah SWT:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا ﴿ سورة النساء : ٣٦﴾

Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. 

Maksud penyebutan ayat diatas terdapat pada firmannya (وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ : dan hamba sahayamu). Hal ini menunjukkan bahwa hamba sahaya serta istilah lain yang sinonim dengannya adalah orang-orang yang diperintahkan untuk diperlakukan dengan baik sebagaimana saudara dan orang-orang yang dekat dalam hidup kita sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas.[6]

Mengenai hadis di atas, diriwayatkan juga Oleh Imam Muslim di dalam Kitab Shahihnya: 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ عَنِ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ مَرَرْنَا بِأَبِى ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ وَعَلَى غُلاَمِهِ مِثْلُهُ فَقُلْنَا يَا أَبَا ذَرٍّ لَوْ جَمَعْتَ بَيْنَهُمَا كَانَتْ حُلَّةً. فَقَالَ إِنَّهُ كَانَ بَيْنِى وَبَيْنَ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَانِى كَلاَمٌ وَكَانَتْ أَمُّهُ أَعْجَمِيَّةً فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ فَشَكَانِى إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَلَقِيتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ سَبَّ الرِّجَالَ سَبُّوا أَبَاهُ وَأُمُّهُ. قَالَ « يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ هُمْ إِخْوَانُكُمْ جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَأَطْعِمُوهُمْ مِمَّا تَأْكُلُونَ وَأَلْبِسُوهُمْ مِمَّا تَلْبَسُونَ وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ ». (رواه مسلم)

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu bakar Bin Abi Sya’bah, telah mencerikan kepada kami Waki’, Telah menceritakan kepada kami Amsyu bin Maqruri Bin Suwaid, dia berkata : “kami melewati Abu Dzar di Rabadzah dan ia mengenakan Burdun begitu juga budaknya. Abu Dzar ra berkata : “pernah terjadi kata-kata kasar antara saya dan saudara saya yang Ibunya bukan bangsa Arab (Sahaya), saya hinakan ia dari segi Ibunya. Lalu dia mengadu kepada Rasulullah SAW. Maka setelah saya bberjumpa Rasulullah SAW, Beliau berkata : “Kamu ini orang yang memilliki sifat Jahiliyah, hai Abu Dzarr”. Kata Saya: Barang siapa yang memaki-maki orang tentu bapak dan ibunya akan dimaki-maki pula.[7] Berkata Beliau : “Sesungguhnya kamu ini orang yang mamiliki sifat jahiliyah, sahaya-sahaya itu adalah saudara kamu pula yang kebetulan dibawah tangan kamu. Maka berilah makan seperti kamu makan, berilah pakian seperti kamu pakai, dan janganlah mereka dipaksa bekerja lebih dari tenaga mereka, jika akan dipaksaka juga mereka harus kamu bantu”.[8]

Matan hadis diatas (H.R. Muslim) memuliki kesamaan makna dengan hadis sebelumnya (H.R. Bukhari). Oleh karena itu, mengenai beberapa penjelasannya dapat merujuk pada uraian sebelumnya. Hanya saja, pada matan H.R. Shahih Muslim disertai tambahan إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ) : Sesungguhhnya engkau seseorang yang memiliki sifat jahiliyah). Peringkasan pada H.R. Bukhari berasal dari Adam (Guru Imam Bukhari), sebab Al-Baihaqi telah meriwayatkan dari jalur lain dari adam sama seperti itu.

c) Keterangan Beberapa Istilah

Berikut beberapa istilah penting dalam hadis diatas:[9]
  1. Rabadzah : Suatu tempat dekat dari Madinah
  2. Hullah : Pakaian yang menutup semua badan
  3. Gulam : Hamba atau Budak
  4. Rajulan : Bilal Al-Habsyi 
d) Ibrah kandungan Hadis

Berdasarkan uraian hadis diatas, terdapat beberapa Ibrah atau pelajaran yang terkandung di dalamnya, diantaranya sebagai berikut:
  1. Larangan mencaci-maki budak dan mencela mereka dengan mengungkit siapa yang melahirkan mereka,
  2. Dorongan untuk berbuat baik dan lemah lembut kepada mereka,
  3. Termasuk dalam hukum budak ini adalah yang semakna dengannya, seperti orang sewaan dan lainnya,
  4. Tidak boleh merasa lebih tinggi dan melemahkan sesama muslim,
  5. Senantiasa memelihara amar ma’ruf nahi munkar,
  6. Menggunakan kata saudara kepada budak. Apabila yang dimaksud dengan kata ini adalah kekerabatan, maka ia berada dalam konteks majas karena semuanya berasal dari Adam.

Daftar Bacaan:
  • Al-Bukhari, Al-Imam Abu Abdullah Muhammad Bin Ismail, Shahih Bukhari, Semarang : CV. Asy-Syifa, 2003
  • An-Naisabury, Muslim Abu Husain Al-Qusairy, Syarah Hadis Muslim, Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997
  • Ibnu Hajar Al-asqalani, Al-Imam Al-Hafish, Fathul Bari’ (Pustaka Azzam : Jakarta Selatan), 2005, Cet I

ENDNOTE


[1]  Imam Bukhari, Shahih Bukhari (Semarang : CV. Asy-Syifa, 2003), Bab Sabda Nabi SAW “para budak itu adalah saudara-saudaramu maka berikanlah mereka makan seperti kamu yang kamu makan”, Juz III, hal 561
[2] Ibnu Hajar Al-asqalani, Fathul  Bari’ (Jakarta  Selatan : Pustaka Azzam, 2005), Bab  sabda Nabi SAW, “budak adalah  saudara-saudara kamu, maka berilah mereka makan dari apa yang kamu makan”., Juz  14, Cet I,  Hal 245
[3]  Ibid, Hal. 245
[4] Ibid, Hal. 245, Bab  sabda Nabi SAW, “budak adalah saudara-saudara kamu, maka berilah mereka makan dari apa yang kamu makan”.
[5] Ibid, Hal. 246-247
[6]  Ibid, Hal. 247
[7] Abu Dzar terlabih dahulu dimaki-maki saudaranya itu.
[8] Imam Muslim Abu Husain Al-Qusairy An-Naisabury, Syarah Hadis Muslim (: Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997), Juz 3, Hal. 1282
[9] Ibid, Hal. 1282
Previous Home
 
ADMIN : SQ BLOG - wahana ilmu dan amal HASRUL | FB RulHas - SulTra | TWITTER RulHas BS
Copyright © 2014. ZYIAR™ BS - All Rights Reserved
Support : Creating Website | Mas Template
Proudly powered by Blogger