Daftar Isi/Contents SQ BLOG >> KLIK DISINI
kajian(*)Quran_Hadis_Sains. Diberdayakan oleh Blogger.

Mukjizat Ilmi???

Senin, 24 November 2014

Pagi, sobat SQ Blog dimana pun berada, tafsir (pengungkapan dan penjelasa), apalagi ilmu (mengetahui) dalam disisplin imu sudah tidak asing lagi, lalu bagamana dengan Tafsir Ilmi? infonya silahkan baca, klik disini. Dalam ranah ini, satu hal yang saling terkait ialah Mukjizat Ilmi. Lalu apa itu mukjizat ilmi, ini dia sekilas statusnya,...

Mukjizat ilmi (i’jaz ilmi) merupakan sisi kemukjizatan dalam al-Quran maupun Hadis dari segi pemberitaan. Kemukjizatan dari segi ini meliputi pemberitaan kisah-kisah masa lalu, informasi pristiwa-pristiwa yang akan datang, dan isyarat-isyarat ilmiah (sains). Namun, pembahasan ini hanya memaparkan topik isyarat-isyarat ilmiah yang lebih dikenal dengan mukjizat ilmi. Menurut Manna’ Khalil al-Qattan, mukjizat ilmi bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan. Tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berpikir dan mengunakan akal.[1]

Jadi, mukjizat ilmi ada pada esensi-esensi ilmiah yang mengarahkan pemikiran manusia padanya dalam rangka membangun nilai keimanan. Pada konteks ini, al-Quran dan Hadis menginginkan tindakan nyata seperti menganalisis, merenung, dan meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan bagi umat Islam. Rasyid Al-Mubarak mengatakan: “Kata berpikir bukanlah kata yang diwariskan zaman jahiliyyah sehingga ia begitu terkenal dan populer, tetapi kata itu merupakan perintah yang dibebankan pada manusia.”[2] Perintah tersebut di antaranya dalam ayat berikut:

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ ﴿سورة سبأ: ٤٦﴾

Artinya: “Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras”. (Q.S. al-Nahl [34]: 46)

Ini selaras dengan mukjizat yang diberikan kepada nabi Muhammad Saw, yaitu al-Quran yang bersifat aqlani (akli) yang terus menantang sepanjang masa. Walaupun, demikian, terdapat juga beberapa mukjizat nabi yang bersifat hizzi (indrawi) yang keluarbiasaanya hanya dapat dijangkau dan disaksikan langsung oleh masyarakat tempat nabi menyampaikan risalahnya. Mukjizat al-Quran dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana pun dan kapan pun.[3] Ini artinya al-Quran merupakan mukjizat abadi nabi Muhammad Saw.

Pada uraian ini perlu diketengahkan bahwa al-Quran merupakan wahyu sekaligus mukjizat, keduanya tidak terpisahkan. Baik wahyu maupun mukjizat adalah anugerah Ilahi yang diberikan kepada para nabi dan Rasul. Namun, mukjizat para nabi sebelumnya adalah realitas selain wahyu, adapun mukjizat nabi Muhammad Saw, yaitu al-Quran selain sebagai wahyu juga merupakan mukjizat.[4] Ini mengindikasikan bahwa wahyu dan mukjizat adalah dua realitas yang berbeda. Dalam al-Quran, wahyu memiliki beberapa makna, di antaranya; firman Allah kepada rasul-Nya, instruksi Allah kepada Malaikat, ilham, insting, isyarat (tanda/simbol), dan bisikan setan.[5] Adapun makna mukjizat dalam al-Quran, yaitu; ayat (tanda), bayyinah, burhan, sultan, dan bashirah.[6] Nampak jelas perbedaan penggunaan keduanya yang menunjukkan esensi yang dikandungnya juga berbeda. Dapat dipahami bahwa al-Quran dalam realitasnya sebagai wahyu sekaligus mukjizat menegaskan ajaran-ajaran yang dikandungnya akan senantiasa memancarkan nilai-nilai kemukjizatan. 

Perintah untuk menghayati dan memikirkan alam raya termaktub dalam al-Quran dan Hadis sebagai landasan berpikir. Setelah melalui proses yang panjang, kerangka inilah yang kemudian melahirkan tafsir ilmi seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa dalam al-Quran maupun Hadis mengandung isyarat-iyarat ilmiah yang telah disampaikan oleh nabi sejak 14 abad silam ketika ilmu pengetahuan sama sekali belum berkembang. Hal ini membuktikan akan nubuwah Muhammad Saw.

Adapun, penyebutan isyarat-isyarat ilmiah tersebut yang mengarahkan pemikiran manusia untuk mengkaji dan mengungkapnya adalah ranah dari sisi mukjizat ilmiah pada al-Quran dan Hadis. Menurut Zaqlul Rakib Muhammad, jika tafsir ilmi meniscayakan penggunaan setiap metode pengetahuan dan teori-teori ilmiah yang ada, maka adapun mukjizat ilmiah harus menggunakan ketetapan-ketetapan ilmiah yang sudah pasti. Sebab, maksud dari mukjizat ilmi tidak lain adalah penegasan bahwa al-Quran yang diturunkan kepada nabi mengandung informasi tentang hakikat ilmiah.[7]

Pada sisi lain, sebagian ulama memandang bahwa letak kemukjizatan ilmiah terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan akal. Sehingga, berbagai informasi ilmiah al-Quran maupun Hadis yang saat ini dapat dibuktikan dengan sains, mereka lebih memilih menyebutnya sebagai bukti kebenaran al-Quran ataupun bukti-bukti kenabian. Muhammad Al-Ghazali adalah salah satu ulama yang berpikir demikian. Beliau memandang bahwa letak mukjizat ilmi ada pada esensi-esensi ilmiah yang mengarahkan pemikiran manusia padanya untuk menjadi bahan renungan yang bermuara pada sebuah kenyakinan teguh kepada Allah. Olehnya itu, harus dibangun paradigma bahwa ayat-ayat Allah, baik qauliyah maupun kauniyyah tidak mungkin bertentangan karena keduanya berasal dari-Nya.

Oleh: Hasrul

ENDNOTE




[1] Manna’ Khalil al-Qat}t}an, Studi Ilmu-ilmu al-Quran terj. Mudzakir dari judul asli Maba>his fi> Ulum al-Quran” (Bogor: Pustaka LiteraAntarNusa, 2011), Cet. XIV, hal. 223
[2] Muhammad Al-Ghazali, Al-Quran Kitab Zaman Kita; Mengaplikasikan Pesan Kitab suci dalam Konteks Masa Kini terj. Msykur Hakim dan Ubaidillah dari judul asli “Kayfa Nata’amal ma al-Quran” (Bandung: Mizan, 2008), Cet. I, hal. 231
[3] Kementerian Agama RI, Tafsir al-Quran Tematik; Kenabian (Nubuwah) dalam al-Quran (Jakarta: Lajnah Pentashih Mushaf al-Quran, 2009), Cet. I, Seri Lima, hal. 106-107
[4] M. Baqiri Saidi Rousyan, Menguak Tabir Mukjizat; Membongkar Pristiwa Luar Biasa Secara Ilmiah terj. Ammar F.H. dari judul asli “Mu’jizeh Syenosi” (Jakarta: Sadra Press, 2012), Cet. I, hal. 155
[5] Kementerian Agama RI, Tafsir al-Quran Tematik; Kenabian (Nubuwah) dalam al-Quran, hal. 105-106
[6] M. Baqiri Saidi Rousyan, Menguak Tabir Mukjizat; Membongkar Pristiwa Luar Biasa Secara Ilmiah terj. Ammar F.H. dari judul asli “Mu’jizeh Syenosi” (Jakarta: Sadra Press, 2012), Cet. I, hal. 158-160
[7] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxii

Tafsir Corak Ilmi

Tafsir ilmi adalah kajian tentang arti-arti ayat atau Hadis dalam tinjauan validitasnya dari ilmu pengetahuan alam (sains).[1] Definisi lain menyebutkan bahwa tafsir ilmi merupakan corak penafsiran ayat-ayat kauniyyah dalam al-Quran yang mengaitkannya dengan ilmu modern. Menurut Husein al-Zahabi, tafsir ini membahas istilah-istilah ilmu pengetahuan dalam penuturan ayat-ayat al-Quran, serta berusaha menggali dimensi keilmuan dan mengungkap pandangan-pandangannya secara falsafi.[2]


Keberkahan dari al-Quran maupun Hadis sebenarnya hanya diperoleh dengan menghayati dan memahaminya, menuruti serta memanfaatkan petunjuk-petunjuknya. Pemanfaatan tersebut tentu tidak terlepas dari upaya penghayatan, penjelasan dan perincian hasil yang dikehendaki ayat-ayat al-Quran, maupun Hadis.[3] Kerangka inilah yang kemudian melahirkan ilmu-ilmu tafsir, termasuk tafsir ilmi. Pemahamn terhadap ayat-ayat al-Quran melalui penafsiran mempunyai peranan sangat penting bagi maju mundurnya umat Islam. Demikian juga Hadis atau Sunnah telah menjadi faktor pendukung utama kemajuan ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat Islam.[4]

Menurut Arkoun, seorang pemikir Aljazair kontemporer bahwa al-Quran memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tidak terbatas. Ayat-ayatnya selalu terbuka untuk penafsiran (interpretasi) baru, tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal.[5] Memang diakui bahwa bahwa sains (ilmu pengetahuan) itu relatif, sekarang benar, bisa jadi besok salah. Tetapi, bukankah itu ciri dari semua hasil pemikiran manusia, sehingga di dunia tidak ada absolut kecuali Tuhan. Hasil pikiran manusia juga bersifat akumulatif. Ini berarti ilmu akan saling melengkapi dari masa ke masa sehingga ia akan selalu berubah.[6]

Disini manusia dituntut untuk selalu berijtihad dalam rangka menemukan kebenaran. Apa yang dilakukan para ahli hukum, teologi, dan sufi di masa silam dalam memahami ayat-ayat al-Quran merupakan ijtihad baik, sama halnya dengan usaha memahami isyarat-isyarat ilmiah dengan penemuan modern. Usaha tersebut tentu dibarengi dengan sikap kehati-hatian dan kerendahan hati. Tafsir apa pun bentuknya, hanyalah sebuah upaya manusia yang terbatas untuk memahami maksud kalam Tuhan yang tidak terbatas. Kekeliruan dalam penafsiran sangat mungkin terjadi, namun tidak akan mengurangi kesucian al-Quran. Kekeliruan dalam usaha penafsiran ilmiah dapat diminimalkan atau dihindari dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang ditetapkan para ulama. Berikut prinsip dasar dalam penyusunan tafsir ilmi:[7]


  1. Memperhatikan arti dan kaidah-kaidah kebahasaan;
  2. Memperhatikan konteks ayat (asbab al-nuzu>l) dan korelasi (munasab) ayat;
  3. Memperhatikan dan tetap mengacu pada hasil-hasil penafsiran bi al-ma’s}u>r (penafsiran dengan riwayat);
  4. Tidak menggunakan ayat-ayat yang mengandung isyarat ilmiah menghukumi benar atau salahnya sebuah hasil penemuan ilmiah;
  5. Memahami betul isyarat-isyarat ilmiah yang menyangkut dengan segala objek bahasan ayat, termasuk penemuan-penemuan ilmiah yang berkaitan dengannya; dan
  6. Tidak menggunakan penemuan-penemuan ilmiah yang masih bersifat teori dan hipotesis sehingga dapat berubah.
Tafsir ilmi diharapkan dapat memberikan pemaknaan baru terhadap segala aspek kehidupan dan lebih utama dapat merangsang untuk melahirkan tekhnologi yang bermanfaat. Ini dibutuhkan sebagai media dalam mengungkap rahasia kemukjizatan terkait informasi-informasi sains yang mungkin belum dikenal pada masa turunnya sehingga menjadi bukti kebenaran bahwa al-Quran bukan karangan manusia, namun wahyu Sang Pencipta dan pemilik alam raya.[8] Ranah ini akan berperan penting dalam mengembangkan misi dakwah Islam di tengah kemajuan ilmu pengetahuan.

Oleh: Hasrul

ENDNOTE



[1] Abdul Majid bin Aziz Al-Zindani, at. al., Mukjizat al-Quran dan al-Sunnah tentang IPTEK (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), cet. I, Jilid 2, hal. 25
[2] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan dalam Perspektif al-Quran Dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxi-xxii
[3] M. Ali al-S}abu>ni>, Studi Ilmu al-Quran terj. Aminuddin dari judul asli Al-T{ibya>n fi> Ulum al-Quran” (Bandung: Pustaka setia, 2008), Cet. X, hal. 240-241
[4] Zaghlul al-Najjar, Sains dalam Hadis (Jakarta: Amzah, 2011), cet. I, Kata Pengantar oleh Mulyadhi Kartanegara, hal. ix
[5] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2009), cet. XVI, hal. 213
[6] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan dalam Perspektif al-Quran Dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxvi
[7] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxvi-xxvii
[8] Qurais Shihab, et.al., Sejarah dan Ulum al-Quran (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), Cet. IV, hal. 183

Sains dan Ruang Lingkupnya

Jumat, 21 November 2014

Sobat SQ Blog, kali ini admin ingin berbagi sekilas mengenai informasi sains dan ruang lingkupnya, khususnya dalam perspektif Islam. Tulisan ini akan berusaha menunjukkan karakter kajian ilmiah atau yang sering dikenal, ilmu sains menurut ajaran islam. Ini menurut admin, perlu diketengahkan agar pemaknaan terhadap sains berada pada jalan yang tepat sehingga penerapannya pun dapat digunakakn pada jalan yang bijak juga. Let's gooo....

Apa itu sains???

Sobat, sains (science) menurut Webster’s New World Dictionary berasal dari kata Latin, scire yang artinya mengetahui. Dalam hal ini tidak berbeda dengan knowledge (pengetahuan).[1] Secara terminologi, sains adalah suatu eksplorasi ke alam materi berdasarkan observasi dan mencari hubungan-hubungan alamiah yang teratur mengenai fenomena yang diamati serta bersifat mampu meguji diri sendiri.[2] Pengertian lain sebagaimana diposting Journal of Theoretic (JoT) menyebutkan bahwa sains adalah bidang kajian yang berusaha untuk mengambarkan dan memahami alam semesta, baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian dari alam. Kajian fisika, biologi, arkeologi, dan sejenisnya menurut JoT merupakan bagian yang tercakup dalam definisi tersebut.[3]

Sains bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, sains terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Dalam Islam sebagaimana termaktub dalam al-Quran banyak perintah untuk memperhatikan alam dan hanya diresapi manfaatnya oleh orang-orang yang memikirkannya. Misalanya firman Allah mengenai keutamaan madu di dalam surah al-Nahl:

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴿سورة النحل: ٦٩﴾

Artinya: “Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang memikirkan.” (Q.S. al-Nahl [16]: 69)

Al-Quran ketika mengarahkan pandangan kepada fenomena alam pada hakikatnya bermaksud mengasah akal manusia untuk memikirkannya agar sampai pada kesimpulan tentang wujud Pencipta. Disamping menyadari pula adanya kaitan antara Sang Pencipta dengan sistem yang berlaku terhadap fenomena itu. Dia Yang Mahakuasa itulah yang menguasai secara amat teliti dan konsisten fenomena tersebut. Jika akal telah mencapai nati>jah (nilai) ini, maka diharapkan kalbu akan khusyu, tunduk dan kagum kepada-Nya. Itu sebabnya ayat-ayat tersebut sering kali dimulai dengan semacam kalimat awalam yatafakkaru>, atau ditutup dengan semacam kalimat afala> ta’qilu>n, afala> tub}s}iru>n. Dengan menggunakan akal, manusia akan berusaha memahami fenomena itu lalu memanfaatkannya untuk kemaslahatan duniawi dan ukhrawinya.[4]

Lalu apa ruang lingkup sains???

Sobat, sebenarnya objek ilmu dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu alam materi dan alam non-materi. Adapun sains membatasi ruang jelajahnya hanya pada alam materi atau semua bentuk pengalaman manusia. Artinya, objek penelaan sains meliputi segenap gejala yang dapat ditangkap oleh pengalaman manusia lewat pancaindra.[5] Dengan demikian, segala sesuatu yang ada di alam sekitar menjadi ranah kajian ini. Al-Quran menyebutkan dengan istilah “فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ” sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut: 

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿سورة فصلت: ٥٣﴾ 

Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Q.S. al-Fushshilat [41]: 53) 

Wujud kongkrit dalam memandang objek sains adalah adanya kenyakinan tentang penciptaan, ketundukan, karakteristik dan keteraturan benda-benda tersebut kepada Allah. Dalam konteks ini, para scientist (ilmuwan) harus membedakan antara penciptaan dengan rekayasa. Menciptakan adalah mengadakan sesuatu dari tidak ada, sedangkan merekayasa adalah mengubah suatu bentuk menjadi bentuk yang lain, atau menggabungkan dua atau beberapa jenis benda menjadi jenis lain yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Para ilmuwan bisa merekayasa tetapi mereka tidak bisa menciptakan, sehingga mereka menyadari kelemahannya. Dengan konsep ini, sains tumbuh di atas landasan kesadaran ketuhanan, sehingga terdapat keterpaduan antar sains dengan agama. Dengan adanya kesadaran ketuhanan tersebut menyebabkan kegiatan sains yang bersifat profan (bersifat kedunian) menjadi aktivitas yang bernuansa religius.[6]

Segala bentuk upaya dalam mengkaji alam raya hendaknya menjadi bahan renungan melalui ciptaan-Nya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Hal ini dilandasi bahwa ketika al-Quran berbicara tentang alam raya dan fenomenanya, terlihat jelas bahwa pembicaraan selalu dikaitkan dengan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Sains dan hasilnya harus selalu mengingatkan manusia terhadap Kehadiran dan Kemahakuasaan Allah SWT. Ada sekitar 750-1000 ayat kauniyyah, sementara ayat-ayat hukum hanya sekitar 250 ayat. Lalu mengapa kita hanya mewarisi puluhan ribu buku-buku fiqih sementara buku-buku ilmiah jumlahnya tidak banyak. Padahal Tuhan tidak pernah membedakan perintahnya untuk memahami ayat-ayat al-Quran.[7]

Ini merupakan titik balik untuk membangun kembali peradaban Islam yang sirna. Perhatian selama ini terhadap ayat-ayat hukum lebih besar dibandingkan perhatian terhadap ayat-ayat kauniyah yang justru jumlahnya melebihi ayat-ayat hukum. Akibatnya, masih banyak ayat-ayat kauniyyah yang sampai saat ini belum pernah dikaji secara berarti.[8] Menurut Muhammad al-Ghazali, umat Islam mengalami keterpurukan karena mengalami krisis berpikir, bukan krisis metode dan nilai. Al-Quran memang berada di tangan mereka seperti keberadaanya di tangan para sahabat. Teks-teksnya tetap terpelihara utuh. Tetapi, masalahnya terletak pada bagaimana memahami al-Quran dan berdialog dengannya.[9] Saat ini pun umat Islam justru berpaling dari nilai-nilai al-Quran, sebaliknya orang-orang non-Muslim mulai semarak mengkajinya walaupun sebatas menguji kebenarannya tanpa menyakini kemukjizatannya. Keterangan di atas dapat dipahami bahwa ketertinggalan Islam diakibatkan karena mereka jauh dari nilai-nilai ajarannya, yaitu al-Quran dan Hadis. 

Padahal, al-Quran dan Hadis adalah sumber metode dan nilai yang luhur, tetapi mereka tidak mengkajinya seiring perkembangan zaman. Perhatiannya terhadap ayat-ayat kauniyyah telang hilang, kalaupun ada hanya sebatas menjastifikasi ayat al-Quran dengan temuan sains barat. Namun, beberapa tahun terakhir telah nampak lagi kesadaran untuk memahami alam raya guna memanfaatkannya. Hal ini dapat dilihat dengan berkembangnya beberapa corak penafsiran untuk memahami kandungan ayat-ayat kauniyyah, di antaranya corak penafsiran ilmi.


Nantikan kajian lanjutannya, Sobat ! - ADMIN


ENDNOTE

[1] U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 95
[2] Agus Purwanto, Nalar Ayat-ayat Semesta; Menjadikan al-Quran sebagai Basis Kontruksi Ilmu Pengetahuan (Bandung: Mizan, 2012), Cet. I, hal. 144
[3] Journal of Theoretic (JoT), Science, Vol. 1-3 Aug/Sept 1999 dikutip oleh U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 95
[4] Quraish Shihab, Membumikan al-Quran; Memfungsikan wahyu dalam Kehidupan (Jakarta: Lentera Hati, 2011), Cet. I, Jilid II, hal. 624-625
[5] U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 94
[6] U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 134-136
[7] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan dalam Perspektif al-Quran Dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxiv
[8] Agus Purwanto, Nalar Ayat-ayat Semesta; Menjadikan al-Quran sebagai Basis Kontruksi Ilmu Pengetahuan (Bandung: Mizan, 2012), Cet. I, hal. 164
[9] Muhammad Al-Ghazali, Al-Quran Kitab Zaman Kita; Mengaplikasikan Pesan Kitab Suci dalam Konteks Masa Kini terj. Msykur Hakim dan Ubaidillah dari judul asli “Kayfa Nata’amal ma al-Quran” (Bandung: Mizan, 2008), Cet. I, hal. 231

Pendaftaran PDU dan PKU JAKSEL 2014

Kamis, 20 November 2014

Salam SQ Blog dimanapun berada, setelah sekian lama tidak mengupdate blog ini karena kesibukan kampus. Ini merupakan postingan perdana admin setelah melalui perjuangan berat dab panjang untuk menyelesaikan studi admin di Institut PTIQ Jakarta, heheheeee. Tidak bermaksud curhat sobat, hanya pengen berbagai rasa kebahagian pada reader sekalian, khususnya Sobat SQ Blog,..."bahagianya tuh di sini" setelah wisudaheheheeee !!!

Pagi ini admin ini share aja sekilas informasi pendaftaran PKU (Pendidikan Dasar Ulama) bagi lulusan SMA/sederajat dan PKU (Pendidikan Kader Ulama) untuk lulusan S1. Nhe informasi validnya sobat:







Bagaimana sobat? tertarik nggak? oh yach, keterangannnya lebih lanjut silahkan lihat brosurnya dibahaw ini:

BROSUR PDU





BROSUR PKU





Sekain dulu share pagi ini, moga bermanfaat !
Sukses selalu sobat - ADMIN
Previous Home
 
ADMIN : SQ BLOG - wahana ilmu dan amal HASRUL | FB RulHas - SulTra | TWITTER RulHas BS
Copyright © 2014. ZYIAR™ BS - All Rights Reserved
Support : Creating Website | Mas Template
Proudly powered by Blogger