Daftar Isi/Contents SQ BLOG >> KLIK DISINI
kajian(*)Quran_Hadis_Sains. Diberdayakan oleh Blogger.

Ancaman Berlaku Buruk kepada Pembantu

Minggu, 04 Mei 2014

Sabda Nabi Saw:

وحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ : كُنْتُ أَضْرِبُ غُلَامًا لِي فَسَمِعْتُ مِنْ خَلْفِي صَوْتًا اعْلَمْ أَبَا مَسْعُودٍ لَلَّهُ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَيْهِ فَالْتَفَتُّ فَإِذَا هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هُوَ حُرٌّ لِوَجْهِ اللَّهِ فَقَالَ أَمَا لَوْ لَمْ تَفْعَلْ لَلَفَحَتْكَ النَّارُ أَوْ لَمَسَّتْكَ النَّارُ . (رواه مسلم)

Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami Abu KuraibMuhammad bin A’la’i, telah menceritakan kepada kamiAbu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami A’masyu dari Ibrahi at-Thaimiy dari bapaknya dari Abu Mas’ud al-Anshary, dia berkata : “Saya telah memukul sahaya kami lalu saya mendengar suara dari belakang (ketahuilah wahai Abu Mas’ud “Sesungguhnya Allah lebih Berkuasa atas dirimu daripada kamu sendiri atas Sahaya itu”). Maka saya pun menoleh, kiranya itu suara Rasulullah SAW, Saya lalu berkata: “dia bebas Lillahi. Maka Rasulullah SAW Pun berkata : “jika Kamu tidak berbuat demikian niscaya api neraka akan membakarmu.[1]

Berdasarkan hadis diatas, memberikan isyarat yang jelas tentang larangan berbuat semena-mena kepada pembantu atau pihak lain yang semisal dengannya. Mengenai konsep kekuasaan, secara fundamental Islam berbeda dari semua sistem lainnya. Kekuasaan dalam Islam Mutlak ada pada Allah. Kekuasaan bukan milik Kerajaan, Negara, Majikan atau bahkan Presiden sekalipun.[2] Islam mengajarkan kesetaraan semua gender tanpa ada perbedaanya kecuali kualitas takwa yang membedakannya. Oleh sebab itu, islam memberikan perhatian besar untuk berlaku baik terhadap semua makhluk dumuka bumi ini.

... رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿ آل عمران: ۱۹۱﴾

Artinya: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Pada sebuah riwayat, bahwa seorang laki-laki mendudukkan budak perempuannya di atas tungku sehingga membakar pantatnya, maka Umar memerdekakannya dan memukul laki-laki tersebut. Riwayat ini dikemukakn oleh Ahmad dalam riwayat Abu Mansur. Pristiwa ini menunjukkan bahwa perlakuan buruk terhadap budak (merusak bagian anggota badan pada budak) memiliki konsekuensi perubahan status budak tersebut menjadi Merdeka.[3]

Mengenai perusakan pada anggota badan seorang Budak terdapat perbedaan pendapat. Apakah kemerdekaan itu langsung terjadi karena perusakan itu? disebutkan dalam al-Bahri dari Ali, Al-Hadi, Al-Muayyid Billah dan para ulama Irak, bahwa kemerdekaan itu tidak langsung terjadi, akan tetapi tuannya diperintahkan untuk memerdekakan. Apabila ia menolak maka diberlakukan oleh hakim. Malik, al-Laits, Daud dan al-Auza’i mengatakan, “Langsung merdeka karena perusakan itu.” Disebutkan di dalam al-Bahr juga, bahwa budak itu merdeka (yang dibayar oleh pelakunya) dan harganya diberikan diberikan kepada pemiliknya. Juga, disebutkan di dalam al-Ikhtiyarat: bila pemilik memaksa budaknya melakukan perbuatan keji, maka budak itu merdeka karena pemaksaannya itu. Ini salah satu pendapat di dalam madzhab kami (Pensyarah).[4]

Daftar Bacaan:
  • An-Naisabury, Muslim Abu Husain Al-Qusairy, Syarah Hadis Muslim, Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997 
  • Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1997 
  • Alu Mubarak, Syaikh Faishal bin Abdul Azis, Nailul Uathar, Jakarta Selatan : Pustaka Azzam, 2006, Cet. I

ENDNOTE

[1]  Imam Muslim Abu Husain Al-Qusairy An-Naisabury, Syarah Hadis Muslim (Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997), Bab صُحْبَةِ الْمَمَالِيكِ وَكَفَّارَةِ مَنْ لَطَمَ عَبْدَهُ , Juz 3, Hal. 1280
[2] Mannan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam (Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 1997), Hal. 344
[3] Faishal bin Abdul Azis Al-Mubarak, Nailul Uathar (Jakarta Selatan : Pustaka Azzam, 2006), Bab Orang yang Merusak Tubuh Budaknya, maka Budaknya Merdeka, Cet. I, Hal 382
[4] Ibid, Hal. 384

Dosa Menahan Gaji Pembantu

Kamis, 01 Mei 2014

Sabda Nabi Saw:


حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجَرْمِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبْجَرَ الْكِنَانِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ خَيْثَمَةَ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو إِذْ جَاءَهُ قَهْرَمَانٌ لَهُ فَدَخَلَ فَقَالَ أَعْطَيْتَ الرَّقِيقَ قُوتَهُمْ قَالَ لَا قَالَ فَانْطَلِقْ فَأَعْطِهِمْ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ . (رواه مسلم)

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Said bin Muhammad Al-Jarmiy, telah mencerikan kepada kami Abdul Rahman bi Abdul Malik bin Abjar Al-Kinany dari Bapaknya dari Thalhah bin Musharrif dari Khaisamah, dia berkata : “kami duduk bersam Abdullah bin Amr dan ia didatangi penjaga gudangnya. Penjaga gudang itu kemudian masuk dan Abdullah bin Amr berkat kepadanya : “apakah engkau telah memberi makan kepada para budak ?” Ia menjawab: “Belum”. Ia berkata lagi : “berangkatlah dan berilah mereka makan, karena sesungguhnya rasulullah SAW telah bersabda (cukuplah seseorang berdosa karena menahan makanan dari orang yang seharusnya ia beri makan”.[1]

Pensyarah Rahimahullah Ta’ala mengatakan: Hadits di atas menunjukkan wajibnya memberi nafkah kepada budak yang dimiliki dan ini merupakan ijma’ ulama. Konteks hadits Abdullah bin Amr bahwa tuan pemilik budak tidak mesti memberi makan budaknya dengan dengan makanan seperti yang dimakannya, akan tetapi yang wajib adalah mencukupi kebutuhan makannya dengan baik.[2]

Pada keterangan hadits lain, terdapat sebuah dalil haramnya menahan (mengurung) kucing dan binatang lainnya tanpa diberi makan dan minum, karena hal itu berrti menyiksa makhluk Allah (Muttafaq ‘Alaih). Pemahaman konteks hadits ini berhubungan dengan larangan bagi seorang tuan yang tidak memberi makan pada budaknya.[3]

Penjelasan lain mengenai larangan menahan gaji atau upah pembantu disebutkan dalam sebuah hadis Qudsi Berikut:

حَدَّثَنِى بِشْرُ بْنُ مَرْحُومٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « قَالَ اللَّهُ ثَلاَثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، رَجُلٌ أَعْطَى بِى ثُمَّ غَدَرَ ، وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ ، وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ ، وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ » . (رواه البخاري و أحمد)

Keterangan hadis diatas bahwa salah satu golongan yang menjadi musuh Allah pada hari kiamat ialah orang yang tidak memberikan upah kepada orang yang dipekerjakannya. Pensyarah Rahimahullah Ta’ala mengatakan: Firman Allah dalam hadits Qudsi di atas (tetapi ia tidak memberikan upahnya), arti ini semakna dengan seseorang yang menjual orang merdeka lalu memakan hasil penjualannya karena ia telah mengambil manfaatnya tanpa memberikan upahnya. Jadi seolah-olah ia memakannya dan karena ia telah mempekerjakannya tanpa upah, maka seolah-olah ia telah memperbudaknya. Sabda beliau (akan tetapi, pekerja berhak menerima upah setelah ia menyelesaikan pekerjaanya), menunjukkan bahwa upah itu berhak diterima karena selesainya suatu pekerjaan yang telah dilakukan oleh seseorang.[4]


Daftar Bacaan:

  • An-Naisabury, Muslim Abu Husain Al-Qusairy, Syarah Hadis Muslim, Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997
  • Alu Mubarak, Syaikh Faishal bin Abdul Azis, Nailul Uathar, Jakarta Selatan : Pustaka Azzam, 2006, Cet. I


ENDNOTE


[1]  Imam Muslim Abu Husain Al-Qusairy An-Naisabury, Syarah Hadis Muslim (Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997), Bab فَضْلِ النَّفَقَةِ عَلَى الْعِيَالِ وَالْمَمْلُوكِ وَإِثْمِ مَنْ ضَيَّعَهُمْ أَوْ حَبَسَ نَفَقَتَهُمْ عَنْهُمْ , Juz 5, Hal. 161
[2]  Faishal bin Abdul Azis Al-Mubarak, Nailul Uathar (Jakarta Selatan : Pustaka Azzam, 2006), Bab Nafkah Hambah Sahaya dan Bersikap Baik Terhadapnya, Cet. I, Hal 700
[3] Ibid, Hal 700-702
[4] Ibid, Hal. 208-209

Memuliakan Pembantu

Sabda Nabi Saw:


حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ وَاصِلٍ الأَحْدَبِ عَنِ الْمَعْرُورِ قَالَ لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ، وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ ، وَعَلَى غُلاَمِهِ حُلَّةٌ ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ ، فَقَالَ إِنِّى سَابَبْتُ رَجُلاً فَشَكَانَي إِلَى النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ لِي النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ، أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ ؟ ثُمَّ قَالَ : إِنَّ إِخْوَانَكُمْ خَوَلُكُمْ ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ ، وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ » . (رواه البخاري)

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, dia berkata, telah mencerikan kepada kami Syu’bah dari Washil Al-Ahdab dari Ma’rur berkata : “saya bertemu Abu Dzar di Rabadzah dan ia mengenakan Hullah begitu juga budaknya. Kami bertanya kepadanya mengenai hal itu, maka dia berkata : “Sesungguhnya Aku mencaci seseorang lalu orang itu mengadukanku kepada Nabi SAW. Maka Nabi SAW bersabda kepadaku : “Apakah engkau mencelanya dengan mencaci Ibunya? Kemudian beliau bersabda : “sunggguhnya saudara-saudara kamu adalah pelayan kamu. Allah telah menjadikan mereka dibawah kekuasaan kamu. Barang siapa yang saudaranya berada didalam kekuasaanya, maka hendaklah memberinya makan dari apa yang dia makan dan memberinya minum dari apa yang dia minum. Janganlah kamu membebani mereka dengan apa yang mereka tidak mampu mereka lakukan. Apabila kamu membebani mereka dengan apa yang diluar kemampuan mereka, maka bantulah”.[1]

a) Keterangan Sumber Hadis

Mengenai hadis diatas, disebutkan di dalam Shahih Bukhari pada kitab Al-Itqu bab sabda Nabi SAW, “budak adalah saudara-saudara kamu, maka berilah mereka makan dari apa yang kamu makan”. Makna kalimat judul bab ini disebutkan oleh Imam Bukhari dari Hadis Abu Dzar. Kami telah meriwayatkan dalam kitab Al-Iman oleh Ibnu Mandah dengan lafash إِنَّ إِخْوَانَكُمْ، فَمَنْ لاَء مَكُمْ مِنْهُمْ فَلْيُطْعِمُوْهُمْ مِمَّا تَأْكُلُوْنَ وَاكْسُوْهُمْ مِمَّا تَكْسُوْنَ) : Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kamu. Barang siapa melayani kamu diantara mereka, maka berilah makan dari apa yang kamu makan dan berilah pakaian dari apa yang kamu pakai).[2]

Abu daud meriwayatkan dari jalur Muwarriq dari Abu Dzar dengan lafash من لاَء مَكُمْ مِنْ مُمْلُوكِكُمْ فَلْيُطْعِمُوْهُمْ مِمَّا تَأْكُلُوْنَ وَاكْسُوْهُمْ مِمَّا تَلْبَسُونَ) : Barang siapa melayani kamu diantara budak-baudak kamu, maka berilah mereka makan dari apa yang kamu makan dan berilah mereka pakaian dari apa yang kamu pakai).[3]

Imam Bukhari meriwaytkan dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad dari jalur Salam bin Amr dari seorang laki-laki dari kalangan Sahabat dari Nabi SAW, beliau bersabda : “أَرِقَاؤُكُمْ إِخْوَانُكُمْ : Budak-budak kamu adalah saudara-saudara kamu”. Dan dari Hadis Abu Al-Yasr (yakni Ka’ab bin Amr Al-Anshari dari Nabi SAW “ أَطْعِمُوْهُمْ مِمَّا تُطْعِمُوْنَ وَاكْسُوْهُمْ مِمَّا تَلْبَسُوْنَ : berilah mereka makan dari apa yang kamu makan dan berilah mereka pakaian dari apa yang kamu pakai”. Kemudian riwayat ini dikutif oleh Imam Muslim.[4]

b) Keterangan Hadis Mengenai Penyebutan Saudara

Lafas خَوَلَ / Khawal adalah pelayan. Dinamakan demikian karena sifat mereka adalah memperbaiki urusan. Dari sinilah sehingga perawat kebun dinamakan Al-Khauli. Ada pula yang mengatakan bahwa Khaul adalah bentuk jamak dari kata Khail yang artinya penggembala. Pendapat lain mengatakan bahwa takhwilnya adalah kepemilikan seperti ungkapan خَوَّلَكَ اللهُ كَذَا) : Allah menjadikanmu memiliki hal ini).[5]

Firman Allah SWT:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا ﴿ سورة النساء : ٣٦﴾

Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh , teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. 

Maksud penyebutan ayat diatas terdapat pada firmannya (وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ : dan hamba sahayamu). Hal ini menunjukkan bahwa hamba sahaya serta istilah lain yang sinonim dengannya adalah orang-orang yang diperintahkan untuk diperlakukan dengan baik sebagaimana saudara dan orang-orang yang dekat dalam hidup kita sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas.[6]

Mengenai hadis di atas, diriwayatkan juga Oleh Imam Muslim di dalam Kitab Shahihnya: 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ عَنِ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ مَرَرْنَا بِأَبِى ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ وَعَلَى غُلاَمِهِ مِثْلُهُ فَقُلْنَا يَا أَبَا ذَرٍّ لَوْ جَمَعْتَ بَيْنَهُمَا كَانَتْ حُلَّةً. فَقَالَ إِنَّهُ كَانَ بَيْنِى وَبَيْنَ رَجُلٍ مِنْ إِخْوَانِى كَلاَمٌ وَكَانَتْ أَمُّهُ أَعْجَمِيَّةً فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ فَشَكَانِى إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَلَقِيتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ سَبَّ الرِّجَالَ سَبُّوا أَبَاهُ وَأُمُّهُ. قَالَ « يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ هُمْ إِخْوَانُكُمْ جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَأَطْعِمُوهُمْ مِمَّا تَأْكُلُونَ وَأَلْبِسُوهُمْ مِمَّا تَلْبَسُونَ وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ ». (رواه مسلم)

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu bakar Bin Abi Sya’bah, telah mencerikan kepada kami Waki’, Telah menceritakan kepada kami Amsyu bin Maqruri Bin Suwaid, dia berkata : “kami melewati Abu Dzar di Rabadzah dan ia mengenakan Burdun begitu juga budaknya. Abu Dzar ra berkata : “pernah terjadi kata-kata kasar antara saya dan saudara saya yang Ibunya bukan bangsa Arab (Sahaya), saya hinakan ia dari segi Ibunya. Lalu dia mengadu kepada Rasulullah SAW. Maka setelah saya bberjumpa Rasulullah SAW, Beliau berkata : “Kamu ini orang yang memilliki sifat Jahiliyah, hai Abu Dzarr”. Kata Saya: Barang siapa yang memaki-maki orang tentu bapak dan ibunya akan dimaki-maki pula.[7] Berkata Beliau : “Sesungguhnya kamu ini orang yang mamiliki sifat jahiliyah, sahaya-sahaya itu adalah saudara kamu pula yang kebetulan dibawah tangan kamu. Maka berilah makan seperti kamu makan, berilah pakian seperti kamu pakai, dan janganlah mereka dipaksa bekerja lebih dari tenaga mereka, jika akan dipaksaka juga mereka harus kamu bantu”.[8]

Matan hadis diatas (H.R. Muslim) memuliki kesamaan makna dengan hadis sebelumnya (H.R. Bukhari). Oleh karena itu, mengenai beberapa penjelasannya dapat merujuk pada uraian sebelumnya. Hanya saja, pada matan H.R. Shahih Muslim disertai tambahan إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ) : Sesungguhhnya engkau seseorang yang memiliki sifat jahiliyah). Peringkasan pada H.R. Bukhari berasal dari Adam (Guru Imam Bukhari), sebab Al-Baihaqi telah meriwayatkan dari jalur lain dari adam sama seperti itu.

c) Keterangan Beberapa Istilah

Berikut beberapa istilah penting dalam hadis diatas:[9]
  1. Rabadzah : Suatu tempat dekat dari Madinah
  2. Hullah : Pakaian yang menutup semua badan
  3. Gulam : Hamba atau Budak
  4. Rajulan : Bilal Al-Habsyi 
d) Ibrah kandungan Hadis

Berdasarkan uraian hadis diatas, terdapat beberapa Ibrah atau pelajaran yang terkandung di dalamnya, diantaranya sebagai berikut:
  1. Larangan mencaci-maki budak dan mencela mereka dengan mengungkit siapa yang melahirkan mereka,
  2. Dorongan untuk berbuat baik dan lemah lembut kepada mereka,
  3. Termasuk dalam hukum budak ini adalah yang semakna dengannya, seperti orang sewaan dan lainnya,
  4. Tidak boleh merasa lebih tinggi dan melemahkan sesama muslim,
  5. Senantiasa memelihara amar ma’ruf nahi munkar,
  6. Menggunakan kata saudara kepada budak. Apabila yang dimaksud dengan kata ini adalah kekerabatan, maka ia berada dalam konteks majas karena semuanya berasal dari Adam.

Daftar Bacaan:
  • Al-Bukhari, Al-Imam Abu Abdullah Muhammad Bin Ismail, Shahih Bukhari, Semarang : CV. Asy-Syifa, 2003
  • An-Naisabury, Muslim Abu Husain Al-Qusairy, Syarah Hadis Muslim, Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997
  • Ibnu Hajar Al-asqalani, Al-Imam Al-Hafish, Fathul Bari’ (Pustaka Azzam : Jakarta Selatan), 2005, Cet I

ENDNOTE


[1]  Imam Bukhari, Shahih Bukhari (Semarang : CV. Asy-Syifa, 2003), Bab Sabda Nabi SAW “para budak itu adalah saudara-saudaramu maka berikanlah mereka makan seperti kamu yang kamu makan”, Juz III, hal 561
[2] Ibnu Hajar Al-asqalani, Fathul  Bari’ (Jakarta  Selatan : Pustaka Azzam, 2005), Bab  sabda Nabi SAW, “budak adalah  saudara-saudara kamu, maka berilah mereka makan dari apa yang kamu makan”., Juz  14, Cet I,  Hal 245
[3]  Ibid, Hal. 245
[4] Ibid, Hal. 245, Bab  sabda Nabi SAW, “budak adalah saudara-saudara kamu, maka berilah mereka makan dari apa yang kamu makan”.
[5] Ibid, Hal. 246-247
[6]  Ibid, Hal. 247
[7] Abu Dzar terlabih dahulu dimaki-maki saudaranya itu.
[8] Imam Muslim Abu Husain Al-Qusairy An-Naisabury, Syarah Hadis Muslim (: Beirut : Dar Ihya At-Thuraz, 1997), Juz 3, Hal. 1282
[9] Ibid, Hal. 1282

Kajian Tematik Etika terhadap Pembantu

Senin, 28 April 2014

Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (Q.S. An-Nisa’ : 1)

Manusia adalah makhluk yang hidup secara berdampingan dengan saudara-saudaranya. Hal ini tidak dapat dihindari sebagai kodrat manusia yang merupakan makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri serta tidak bias memenuhi kehidupannya sndiri. Ini dipertegas dalam kitab suci Al-Quran:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ﴿ سورة المائدة :٢﴾

Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Ayat diatas memberikan informasi untuk menjalani hidup secara bersama-sama. Perihal kehidupan penuh tantangan dan rintangan yang perlu penyelesaian secara kerja sama atau dikenal dengan istilah tolong-menolong. Barkaitan dengan kehidupan sosial, prakatik ini salah satu diantaranya ialah Jasa Pembantu. Tema inilah yang akan kami uraikan dalam pembahasan ini.

Penggunaan istilah Pembantu dalam konteks ini disinonimkan dengan Mamluk (Hamba Sahaya/Budak), Jariyah (Pelayan), Khawala (Pelayan), Rakik (Budak), Gulam (Hamba/Budak) dan Khadam (Pembantu) serta istilah lain yang semakna. Mengenai istilah-istilah ini, pemahaman masing-masing maknanya tidaklah pasti. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian istilah diatas haruslah dipahami dari konteks pembicaraannya. Adapun dalam tinjaun bahasa Indonesia, Istilah pembantu dapat disinonimkan dengan kata Tenaga Kerja, Pelayan, Buruh, Satpam dan semacamnya.

Islam telah mengatur, memanusiakan dan memuliakan pembantu. Islam juga mengakui hak-hak mereka untuk pertama kalinya dalam sejarah, ketika sejarah umat lain justru dipenuhi dengan perlakukan yang tidak manusiawi. Islam telah mengangkat martabat mereka pada tingkat yang sejajar dengan manusia merdeka lainnya. sesuatu yang belum pernah ada dalam sejarah. Beberapa uraian utama sekilas tema kali ini ialah:

Silahkan dipilih sobat, free kok, semuanya gratis !
Previous Home
 
ADMIN : SQ BLOG - wahana ilmu dan amal HASRUL | FB RulHas - SulTra | TWITTER RulHas BS
Copyright © 2014. ZYIAR™ BS - All Rights Reserved
Support : Creating Website | Mas Template
Proudly powered by Blogger