Daftar Isi/Contents SQ BLOG >> KLIK DISINI
kajian(*)Quran_Hadis_Sains. Diberdayakan oleh Blogger.

Benarkah Perempuan yang Baik untuk Laki-laki yang Baik?

Minggu, 24 Mei 2015

Salam Sobat SQ Blog ! Moga sehat wa afiyat semuanya, AMIN ! Shubuh ini admin akan berbagi pemahaman terkait satu surah dalam al-Quran. Umumnya ayat tersebut dimaknai bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula, begitu pun sebaliknya. Ayat yang memuat informasi tersebut ialah surah al-Nur ayat 26. Pertanyaanya, sudah benarkah demikian pemahaman atau penafsiran ayat tersebut. Inilah yang admin akan bagikan kali ini. Simak uraiannya di bawah ini.

Q.S. al-Nur Ayat 26

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ﴿سورة النور : ٢٦﴾

Artinya: Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).[1] [Q.S. al-Nur : 26]

Asbab al-Nuzul Surah al-Nur Ayat 26

Riwayat asbab al-nuzul dari surah al-Nur ayat 26 di atas, sebagai berikut:[2]
  • Pada suatu waktu Khasif bertanya kepada Sa’ad bin Jubair: “Mana yang lebih besar dosanya, zina atau menuduh orang berbuat zina ?”. jawab Sa’ad “Lebih besar zina”. Khasif kembali berkata: “Bukankah Allah swt telah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik …..”(QS. An-Nur:23) sebagaimana kita maklumi ?”. Yakni yang menegaskan bahwa orang yang menuduh berzina dilaknat Allah di dunia dan akhirat. Maka Sa’ad berkata: “ayat ini diturunkan khusus berkenaan dengan peristiwa Aisyah”. (HR. Thabrani dari Khasif. Di dalam sanadnya terdapat Yahya al-Hamani yang dha’if).
  • Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq dituduh berbuat serong. Dan ia sendiri tidak mengetahui, baru kemudian ada yang menyampaikan tentang tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Ketika Rasulullah SAW. Berada di tempat Aisyah, maka turunlah wahyu sehingga beliau membetulkan duduknya serta menyapu muka. Setelah itu beliau bersabda : “Wahai Aisyah, bergembiralah kamu “. Aisyah berkata: “Dengan memuji dan bersyukur kepada Allah, dan bukan kepada tuan.” Kemudian Rasulullah SAW. Membaca ayat ke 23-26 sebagai ketegsan hukum bagi orang yang menuduh berbuat zina terhadap wanita yang suci. (HR. Ibnu Jarir dari Aisyah).
Jadi ayat ke 26 diturunkan sehubungan dengan tuduhan yang dibuat-buat oleh kaum munafikin terhadap diri Aisyah, isteri Rasulullah SAW. (HR. Thabrani dengan dua sanad yang keduanya dha’if dari Ibnu Abbas). Karena ketika itu orang-orang membicarakan fitnah yang ditujukan kepada Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq, isteri Rasulullah. Maka Rasulullah SAW. Mengirim utusan kepada Aisyah dengan mengatakan: “Wahai Aisyah, bagaiamana pendapatmu tentang ocahan orang mengenai dirimu?”. Jawab Aisyah : “Aku tidak akan memberikan sanggahan apa pun sehingga Allah menurunkan sanggahan dari langit”. Maka Allah SWT. Kemudian menurunkan 15 ayat dari surat ini. Yakni ayat ke-11 sampai 26. Kemudian Rasulullah SAW. Membacakan ayat-ayat tersebut kapada Aisyah. (HR. Thabrani dari Hakam bin Utaibah. Hadist ini isnadnya shahih, tetapi mursal).[3]

Pemahaman Ayat

Adapun riwayat asbab al-nuzul dari surah al-Nur ayat 26, Setelah kita mengetahui peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayat ini. Kita dapat memahami bahwa ayat di atas diturunkan khusus berkenaan dengan peristiwa Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq yang dituduh kaum munafikin dengan tuduhan yang mereka reka-reka dan dusta dan ayat 26 ini adalah penutup dari ayat wahyu yang tujuannya untuk menjaga kesucian Aisyah istri Rasulullah SAW atau membersihkannya dari tuduhan hina dan nista itu.

Di dalam ayat ini diberikan pedoman hidup bagi setiap orang yang beriman. Tuduhan nista adalah perbuatan yang amat kotor hanya akan timbul dari orang yang kotor pula. Memang orang yang kotorlah yang menimbulkan perbuatan kotor. Adapun perkara-perkara yang baik adalah hasil dari orang-orang yang baik pula, dan memanglah orang baik yang sanggup menciptakan perkara baik. Orang kotor tidak menghasilkan yang bersih, dan orang baik tidaklah akan menghasilkan yang kotor.[4]

Akan tetapi banyak yang memahami ayat ini seakan mengatakan bahwa jika seorang laki-laki atau wanita baik maka dengan sendirinya istri atau suaminya juga baik, diampuni, dan menjadi salah seorang penghuni surga. Sebab Al-Qur’an suci memandang iman, kesalehan, dan amal baik sebagai kriteria. Akan tetapi sebanarnya tidak begitu, karena meskipun Nuh as dan Luth as adalah manusia-manusia suci dan beriman, namun istri-istri mereka adalah orang-orang jahat dan merupakan penghuni neraka.[5] Dan banyak juga kejadian masa kini yang serupa dengan itu karena hakikatnya ada empat model pasangan suami istri:
  1. Suami : Iman/Baik Istri: Kafir/ Buruk (pasangan Nabi Luth dalam surat at-Tahrim:10)
  2. Suami : Kafir/Buruk Istri: Iman/ Baik (Pasangan Fir’aun dalam surat at-Tahrim: 11)
  3. Suami dan Istri sama-sama Kafir/Buruk (Abu Lahab dan Istrinya Arwa binti Harb “Ummu Jamil”)
  4. Suami dan Istri sama-sama Iman/Baik (Rasulullah SAW dan Siti Aisyah ra) 
Perkataan yang Baik untuk Orang Baik dan Perkataan Jelek untuk Orang yang Jelek

Dalam tafsir Nurul Qur’an kata thayyib berarti menyenangkan dan manis. Dalam al-Qur’an, kata ini digunakan untuk menggambarkan harta benda, anak keturunan, wacana kota, pasangan hidup, makanan dan rezeki, rumah, sudut, pohon, serta sapaan. Sedangkan lawan katanya khabist, yang berarti jahat dan keji. Ia juga digunakan untuk menggambarkan harta benda, manusia, pasangan hidup, pembicaraan, dan pohon.

Abdullah bin Abbas ra. Berkata: “Maksudnya kat-kata yang buruk hanya pantas bagi laki-laki yang yang buruk. Dan laki-laki yang jahat, yang pantas baginya hanyanlah kata-kata yang buruk begitupun sebalikny. Sebagaimana sudah dikemukakan diatas bahwa ayat ini turun berkenaan dengan ‘Aisyah ra. dan ahlul ifqki”. Demikianlah dikemukakan oleh Mujahid, ‘Atha’, Sa’id bin Jubair, asy-Sya’bi, al-Hasan al-Bashri, Habib bin Abi Tsabit, adh-Dhahhak dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari. Intinya, perkataan yang buruk lebih pantas ditujukan kepada orang-orang yang jahat dan perkataan yang baik hanya pantas bagi orang-orang yang baik. Tuduhan keji yang ditujukan kaum munafiq kepada ‘Aisyah ra sebenarnya lebih pantas ditujukan kepada mereka. ‘Aisyah lebih pantas bersih dari tuduhan tersebut daripada mereka.[6]

Pada akhir ayat 26 tuhan menutup perkara tuduhan ini dengan ucapan putus, yaitu bahwa sekalian orang yang difitnah itu adalah bersih belaka dari segala tuduhan, mereka tidak bersalah samasekali. Adapun si penuduh yang hanya terbawa-bawa diberi ampun oleh tuhan atas dosanya, setelah yang patut menjalani hukuman telah menjalaninya. Dan rezeki serta kehidupan orang-orang yang kena tuduh akan diberi ganda oleh tuhan.[7]

Penjelasan diatas ingin mengemukakan bahwa ayat ini tidak bisa ditafsirkan serta merta tanpa melihat dan mengetahui sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat ini. Adapun dalam penafsirannya ayat ini bisa ditafsirkan dengan berbagai cara:[8]
  • Berkenaan dengan ayat-ayat sebelumnya yang membicarakan wanita-wanita suci serta kejadian ifk, serta berkenaan dengan kalimat : Mereka itu bersih dari apa yang mereka katakana, maka ayat ini berarti bahwa kata-kata buruk semisal fitnah hanya layak bagi orang-orang jahat, sedangkan kata-kata suci hanya cocok bagi oran-orang yang suci pula.
  • Dan munkin juga yang dimaksud ayat ini pasangan hidup yang cocok yang berarti suami istri haruslah cocok satu sama lain. Ini artinya, setiap orang dengan sendirinya akan mencari pasangan yang sama watak dan sifatnya. Dengan kata lain, orang yang keji mengejar yang keji dan sebaliknya.
Munkin bahwa maksud ayat ini adalah menyatakan sebuah ketentuan agama, yaitu perkawinan orang baik dengan orang jahat adalah haram. Hal ini seperti ayat ke tiga dari surat yang sama, yang mengatakan : “Pelaku zina laki-laki tidak boleh kawin kecuali dengan pezina perempuan". Imam Muhammad Baqir, dalam sebuah hadistnya, juga menguatkan arti ini.[9] Wallahu A’lam Bishshawab….!!!

ENDNOTE


[1] ayat Ini menunjukkan kesucian 'Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik Maka Pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau
[2] A. Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002). hal 616.
[3] A. Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002). hal 617.
[4] Abdul Malik Abdulkarim Amrullah (HAMKA), Tafsir Al-Azhar, (Singapore:  Kerjaya Printing Industries Pte Ltd,2003)  jil.7, hal 4913-4914.
[5] Allamah Kamal Faqih, Nurul Qur’an, (Jakrta: Al-Huda, 2006), jil 11, hal 324.
[6] Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir, (Kairo: Mu’assasah Daar al-Hilaal, 1994), hal 32.
[7] Abdul Malik Abdulkarim Amrullah (HAMKA), Tafsir Al-Azhar, (Singapore:  Kerjaya Printing Industries Pte Ltd,2003)  jil.7, hal 4915.
[8] Allamah Kamal Faqih, Nurul Qur’an, (Jakrta: Al-Huda, 2006), jil 11, hal 325.
[9] Tafsir Majma’ul Bayan dan Wasa’ilusy Syi’ah, jil. 14, hal. 337


Disusun Oleh; Idham Cholid
Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta

Katalog Skripsi S1 Ushuluddin PTIQ Alumni 2013

Kamis, 21 Mei 2015


NO NAMA NPM ASAL JUDUL SKRIPSI
1 ARIEF MAULANA 08.31.0189 Belawan Identitas Gender dalam al-Quran
2 AHMAD MUZAYYAN HAQQY 09.31.0216 Kediri Konsep Imam Mahdi Menurut Syiah; Studi terhadap Penafsiran Syiah Imamiyah
3 ADE SOPIAN 09.31.0215 Sumedang Jilbab dalam Perspektif al-Quran; Studi Pemikiran Muhammad Quraish Shihab
4 MOH. SALIM GHOZALI 09.31.0230 Sampang Otentisitas Hadis dalam Kitab "al-Tanbihat al-Wajibat" li Man Yashna'u al-Maulid bil Munkaror
5 ZAIMUL HAQ 09.31.0293 Indramayu Konsep Nahi Mungkar; Studi Kasus Pemahaman al-Quran Front Pembela Islam FPI
6 AGUS SALIM 07.31.0178 Jombang Halalan Thayyiban Menurut Perspektif al-Quran
7 BAROKAH ZAENUL ALAM 09.31.0290 Tegal Analisis Hadis-hadis tentang Keutamaan dan Ancaman Bagi Orang yang Menghafal al-Quran
8 JAJANG HASANUDDIN 07.31.0182 Garut Pengaruh Qira'at terhadap Penafsiran Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam Tafsir Marah Labib
9 ABDUL MUIZ 09.31.0184 Cirebon Al-Quran dan Isu-isu Kesehatan; Studi Tafsir Surah al-Isra Ayat 32 tentang Larangan Zina sebagai Upaya Pencegahan Penyakit HIV-AIDS
10 M. MUSLIM HIDAYAT 09.31.0243 Lebak Syukur dalam Perspketif al-Quran; Analisis terhadap Ayat-ayat Syukur dalam Tafsir al-Sya'rawi
11 AIDUL FITRIAWAN 09.31.0218 Penujak Mataram Kriteria Pemimpin Menurut Sayyid Qutub; Suatu Kajian dalam Tafsir fi' Zhilalil Quran
12 M. RIFIAN PANIGORO 09.31.0234 Gorontalo Konsep Bada Menurut Thabathaba'i dalam Tafsir al-Mizan; Kajian atas Surah al-Ra'du Ayat 39
13 FARID NUR RAHMA 09.31.0224 Yogyakarta Penafsiran Hamka tentang Lailal al-Qadar
14 AHMAD HARIRI 04.31.0071 Karawang Khusu' dalam Shalat; Studi Komparatif Tafsir al-Manar dan Tafsir  al-Munir
15 MAJJADI ARIF HIDAYATULLOH 06.31.0143 Malang Riba dan Bunga Bank Menurut Sayyid Qutb; Kajian tentang Ayat Riba dalam Surah al-Baqarah dan Ali Imran dalam Kitab Tafsir fi Zhilallil Quran
16 SURYADI 09.31.0239 Petir Studi Kualitas Sanad Hadis Taubat dalam Kitab Qomi' al-Thuqyan
17 MAOLANA NOPIANSYAH 09.31.0250 Karawang Tafsir Ayat-ayat Sosial Politik dalam Perspektif Hamka dan Syu'bah Asa'
18 M. KHAHAR AWALUDDIN 09.31.0138 Boyolali Hadis Musalsal bi al-Mushafahah; takhrij atas Kitab al-Ahadits al-Musalsalah Karya Muhammad Nur al-Din Marbu al-Banjary al-Makky
19 RAHMAN TRIYONO 09.31.0235 Jakarta Tawassul dalam Tafsir al-Azhar; Kajian atas Penafsiran Buya Hamka
20 NAFI'UL IBAD 09.31.0331 Bekasi Negara Khilafah Islamiyah Menurut Hizbut Tahrir; Kajian terhadap Surah al-Maidah Ayat 48-49
21 FIRDAUS 09.31.0226 Aur Gading Perawi-perawi Syi'ah dalam Shahih al-Bukhari
22 SAID MUHTAROM 09.31.0292 Pati Relasi Tuhan, Manusia dan Alam Semesta; Kontekstualisasi al-Quran dalam Budaya dan Ajaran Kejawen
23 ABDILLAH KHAIRUL AS'AD 08.31.0183 Jember Konsep Penyusuan Perspektif al-Quran dan Sains; Kajian Tafsir Tematik tentang Menyusui Bayi dalam al-Quran
24 MUHAMMAD SUFLI 09.31.0248 Mataram Konsep Raj'ah Menurut Sunni dan Syiah

Katalog Skripsi S1 Ushuluddin PTIQ Alumni 2014


NO NAMA NPM ASAL JUDUL SKRIPSI
1 AL-FAUZI 10.31.0280 Cottrueng,
Aceh
Penggunaan Metodologi Content Analysis dalam Penelitian al-Quran dan Hadis
2 M. MUSLIHAN 10.31.0287 Pati,
Jawa Tengah
Fenomena Komodifikasi Agama di Indonesia dalam Perspektif al-Quran dan Hadis
3 MUH. MUSLIM 07.31.0280 Bojonegoro,
Jawa Timur
Takdir dalam Perspektif al-Quran; Konsep Takdir menurut Al-Sya'rawi
4 MUH. SAHARUDDIN 10.31.0269 Sunggu Areng,
Sulawesi Selatan
Peranan dan Implikasi Qira'at Sab'ah dalam Penafsiran Ayat; Mengungkap Hakikat, Peranan, dan Im[likasi Keberagaman Bacaan dalam Menafsirkan Ayat-ayat al-Quran
5 MUH. MAHRUS SIDIK 08.31.0201 Mojokerto,
Jawa Timur
Kepemimpinan dalam al-Quran; Studi Analisis terhadap Tafsir Mafatih al-Ghaib Fakhr Al-Razi
6 ABDUS SAMIK 10.31.1251 Surabaya,
Jawa Timur
Kosmologi dalam al-Quran; Sab'a Samawat dalam Perspektif Tanthawi Jauhari
7 ANDI PURNOMO 10.31.0259 Tegal,
Jawa Tengah
Konsep Halal Haram menurut Ali Al-Shabuni dalam Tafsir Rawu'i Al-Bayan
8 AHMAD ZULKI 10.31.0253 Sanrego,
Sulawesi Selatan
Tidur dalam Perspektif al-Quran dan Hadis
9 ANAS MUJAHIDIN 10.31.1258 Mapin Kebak,
NTB
Takwil Thabathaba'i Terhadap Ayat-ayat Mutasyabihat; Kajian Ayat-ayat Antropomorfisme dalam Tafsir Al-Mizan
10 SAOFI AHMADI 10.31.1279 Kemiri,
NTB
Corak Isyari dalam Tafsir Latha'if  Al-Isyari Karya Al-Qusyairi
11 SYAIFUL ARIF 09.31.0240 Sumenep,
Jawa Timur
Mohammed Arkoun's Thought on Methodology of Interpreting the Quran
12 IDHAM CHOLID 10.31.0265 Palembang,
Sumatera Selatan
Pemikiran Ali Mustafa Yaqub tentang Haji Berulang Kali
13 BADRI 10.31.0261 Pancor Kopong,
NTB
Konsep al-Quran tentang Proses Kejadian Manusia; Analisis Penafsiran M. Quraish Shihab terhadap Ayat-ayat Proses Kejadian Manusia
14 SODIK 10.31.0288 Cirebon,
Jawa Barat
Studi Tafsir Al-Azhar; Analisis Hamka terhadap Ayat-ayat Zuhud
15 ALIT NUR HIDAYAT 10.31.2057 Bandung,
Jawa Barat
Kajian-kajian Mushaf non Utsmani
16 HASRUL 10.31.0264 Kolaka,
Sulawesi Tenggara
Keutamaan Madu; Sebuah Pendekatan Sains dalam Memahami Hadis
17 MOH. MAULUDDIN 10.31.0291 Lamongan,
Jawa Timur
Wali dalam al-Quran; Studi Tafsir Tematik
18 PUJIONO BUDI SETIAWAN 09.31.0242 Lumajang,
Jawa Timur
Wawasan al-Quran tentang Terapi Psikologis Terhadap Korban Bencana
19 M. SANI ABDUL MALIK 10.31.0272 Bandung,
Jawa Barat
I'jaz Lughowi dalam Kisah al-Quran; Studi Analisis Ayat-ayat Mutashabih Lafzi Pada Kisah Nabi Musa
20 AHMAD FUDAEL 08.31.0188 Turida Barat,
NTB
Pola Komunikasi dalam al-Quran; Analisis terhadap Ayat-ayat Qaulan dalam al-Quran
21 MHD. ZAKY FATHONY 10.31.0270 Tuluk Pinang,
Riau
Manusia dan Pola Kepribadiannya; Kajian Psikologi tentang Manusia dan Pola Kepribadiannya dalam Konsep al-Quran
22 SAFIDIN 10.31.0278 Lampung Al-Hubb dalam al-Quran; Menyorot Makna Ayat-ayat  Kisah Nabi Ibrahim a.s


MEMORI
ALUMNI FAKULTAS USHULUDDIN - TAFSIR HADIS
INSTITUT PTIQ JAKARTA
2014

Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis

Al-Quran dan Hadis merupakan sumber hukum, pedoman hidup, dan ajaran. Antara satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan, keduanya merupakan satu kesatuan. Al-Quran sebagai sumber pertama dan utama banyak memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum dan global. Oleh karena itu, kehadiran hadis sebagai sumber ajaran ke dua tampil untuk menjelaskan isi al-Quran tersebut.

Diantara fungsi hadis terhadap al-Quran ialah Bayan Taqrir, Bayyan al-Tafsir, Bayan al-Tasyri’, dan Bayan Taqyid al-Muthlaq. Namun, pada kesempatan ini tidak bermaksud menguraikan pembahasan tersebut. Penulis hanya mengetengahkannnya untuk melihat pesan sentral Hadis dalam Islam agar senantiasa dijaga, dipelihara sebagaimana menghormati dan memuliakan al-Quran.

Melalui tulisan ini, penulis ingin melihat satu aspek hadis yang tidak terlepas dari aspek kesejarahan, yaitu awal mula penulisan hadis pada zaman Sahabat hingga masa kodifikasi/pengumpulan dan dibukukannya oleh para ulama setelahnya. Penekanan penulis dalam bahasan ini terkait bentuk-bentuk kitab hadis mulai dari masa awal hingga masa final. Olehnya, penulis memilih judulnya dengan, “Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis”.

Kitab-kitab hadis yang ditulis oleh para ulama memiliki metode tersendiri, ada yang berdasarkan topik tertentu seperti bab-bab fiqih, berdasarkan sanad/rawi, atau menggabungkan beberapa topik pembahasan sekaligus. Setiap metode kemudian memiliki nama tersendiri untuk membedaknnya dengan yang lain. Sebagai perbandingan, penulis juga memberikan informasi penulisan hadis oleh beberapa Sahabat, bahkan ketika Nabi Saw masih hidup. Ini akan menjadi bukti sejarah bahwa penulisan Hadis telah dilakukan oleh para Sahabat pada awal abad ke-1 H, bukan akhir abad ke-1 H, apalagi awal abad ke-2 H.

Adapun mengenai peran Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menginstruksikan para ahli Hadis untuk menghimpun dan menuliskannya pada akhir abad ke-1 H, di antaranya Ibnu Syihab al-Zuhri dan Abu Bakar bin Amr bin Hazm, dimaknai sebagai awal kodifikasi/pengumpulan resmi hadis-hadis nabi. Bukan awal penulisan hadis karena jauh sebelumnya telah ditulis oleh beberapa Sahabat yang mendapatkan izin langsung dari Rasulullah Saw. Penulis tidak mencantumkan hadisnya agar tidak terlalu jauh dalam pembahasan tersebut supaya tetap fokus mengenai nama dan metode bentuk-bentuk kitab hadis mulai dari masa awal hingga masa final.

Diantara Nama dan Metode Penyusunan Kitab-kitab Hadis dari masa awal, yaitu para sahabat hingga masa final dalam bentuk kodifikasi dan pembukuan yang dilakukan oleh para ahli hadis ialah, Shahifah dan Nuskhah, metode jus dan Atraf, metode Muwatta, metode Mushannaf, metode Musnad, metode Jami’, metode Mustakhraj, metode Mustadrak, metode Sunan, metode Mu’jam, metode Majma’, dan metode Zawa’id. Simak uraiannya di bawah ini:

1) Al-Shahifah dan Nuskhah

Al-Shahifah dan Nuskhah, keduanya dapat diartikan dengan catatan-catatan atau tulisan-tulisan Hadis. Kedua nama inilah yang digunakan pada masa awal Islam untuk menyebut kitab-kitab hadis. Baik Shahifah maupun Nuskhah umumnya dinisbahkan kepada penulisnya karena ketika itu sebagian penulis tidak memberikan nama tertentu bagi tulisannya.

Di antara Shahifah dan Nuskhah yang diketahui ialah:
  1. Shahifah Umar bin Khattab, Shahifah ini berisi zakat-zakat binatang ternak. Mengenai Shahifah tersebut, Al-Tirmidzi dan Muhammad bin Abdurrahman al-Anshariy meriwayatkan, “ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, beliau mengirim surat ke Madinah untuk meminta tulisan Rasulullah Saw yang berisi zakat-zakat dan Shahifah Umar bin Khattab. Umar bin Abdul Aziz pun mendapatkan kesamaan antara tulisan Rasulullah mengenai zakat-zakat dengan Shahifah Umar bin Khattab tersebut.
  2. Shahifah Ali bin Abu Thalib, shahifah ini berisi keterangan tentang umur-umur unta, keharaman madinah, dan tentang seorang muslim tidak boleh dibunuh karena membunuh seorang kafir.
  3. Shahifah Abdullah bin Amr bin ‘Ash, beliau merupakan sahabat yang mendapat izin langsung dari Nabi Saw untuk menulis hadis. Abdullah bin Amr memberikan nama tertentu tulisan hadisnya, yaitu Shahifah al-Shadiqah. Menurut Ibnu al-Atsir, Shahifah tersebut memuat 1000 buah hadis, namun menurut sumber lain hanya 500 buah saja. Meski Shahifah tersebut sudah tidak ada, namun Imam Ahmad telah meriwayatkan sebagian isinya dan kitab-kitab Sunan yang lain juga memuat sebagian besarnya. Shahifah ini memiliki kedudukan yang sangat penting karena merupakan bukti historis yang ilmiah mengenai penulisan hadis sejak awal abad ke-1 H.
  4. Shahifah Abdullah bin Mas’ud.
  5. Shahifah Abdullah bin Abbas.
  6. Shahifah Jabir bin Abdullah al-Anshariy, shahifah ini berisi manasik haji yang disebutkan Imam Muslim dalam kitab al-Hajj.
  7. Shahifah Hamman bin Munabbih, ia merupakan seorang tabi’in terkemuka yang menulis hadis dari Abu Hurairah kemudian dan menghimpunnya di dalam Shahifah yang dikenal dengan sebutan Shahifah al-Shahihah. Muhammad Hamidullah menemukan Shahifah tersebut dalam dua manuskrip yang sama, masing-masing di Perpustakaan Berlin dan Damaskus. Terdapat 138 buah Hadis dalam Shahifah al-Shahihah yang diriwayatkan Imam Ahmad secara utuh dalam kitab Musnadnya. Disamping itu, Imam Bukhari juga meriwayatkan sebagian besar hadisnya dalam beberapa bab di dalam kitab Shahihnya.
  8. Shahifah Sa’ad bin Ubadah al-Anshariy, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Shahifah ini merupakan salinan dari Shahifah Abdullah bin Abi Aufa.
  9. Shahifah Abu Rafi’, Shahifah ini memuat istiftah shalat, kemudian diberikannya kepada Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits.
  10. Shahifah Asma’ binti Umais.
  11. Nuskhah Samurah bin Jundub.
  12. Nuskhah Suhai bin Abu Shalih, sebenarnya Suhail bin Abu Shalih tidak memberikan nama apa-apa kepada karya tulisnya itu. Karenanya, kitab Suhail ini akhirnya hanya popular dengan sebutan Nuskhah Suhail bin Abu Shalih. Pada tahun 1966, Nuskhah Suhai bin Abu Shalih ditemukan dalam bentuk manuskrip (tulisan tangan) oleh Muhammad Mustafa Azami di perpustakaan al-Dhahiriyah di Damaskus, Syria. Azami kemudian meneliti, mengedit, dan menertibkannya bersama disertasinya untuk meraih gelar doctor dari Universitas Cambridge, Inggris. Maka, pada gilirannya Nuskhah Suhai bin Abu Shalih ini juga ikut memperkuat pembuktian bahwa Hadis Nabawi tekah ditulis dan dibukukan sejak awal abad ke-1 H.
Demikianlah beberapa Shahifah dan Nuskhah yang menjadi pedoman awal dalam bentuk tertulis terhadap hadis-hadis Nabi Saw. Keberedaan Shahifah dan Nuskhah ini memberikan bukti bahwa Hadis Nabi yang kita temukan saat ini benar-benar otentik, bukan rekayasa sebagaimana penilaian sebagian orientalis masa kini. Harus juga dipahami bahwa sampainya Hadis Nabi kepada kita selain melalui perantara tertulis, juga tidak terlepas melalui perantara hafalan. Bahkan, terdapat sebagian ulama yang menuliskan hadis dan menghapusnya setelah menghafalnya. Ini menunjukkan bahwa tradisi menghafal tetap kental dan kuat dalam tradisi kodifikasi dan pengumpulan Hadis sampai termuat dalam koleksi-koleksi yang besar.

Sebagai tambahan, perlu juga disebutkan bahwa terdapat istilah lain yang dipakai oleh ahli Hadis klasik untuk menunjuk kepada catatan-catatan atau tulisan-tulisan hadis selain Shahifah dan Nuskhah. Istilah-istilah itu adalah Daftar, Kurrasah, Diwan, Kitab, Tumar, dan Darj. Dalam konteks sekarang, Daftar, Kurrasah, Diwan, dan Kitab ialah tulisan yang datar, dimana bentuk luarnya mirip buku yang dikenal sekarang ini. Adapun Tumar dan Darj ialah bentuk tulisan yang panjang dan digulung.

Berikut Halaman awal dan akhir Nuskhah Suhail bin Abu Shalil yang ditemukan oleh Muhammad Mustafa Azami di Damaskus:

Halama Awal;
Nuskhah Suhai bin Abu Shalih


Halaman Akhir;
Nuskhah Suhai bin Abu Shalih


2) Metode Jus dan Atraf

Kedua metode ini, yaitu Juz dan Atraf merupakan sistemaatika sederhana yang digunakan ahli Hadis dalam menyusun hadis pada periode awal. metode ini hampir mirip dengan bentuk Shahifah dan Nuskhah.

Juz berarti bagian. Adapun pengertiannya dalam kajian ini ialah metode pembukuan matan-matan (materi) Hadis berdasarkan guru yang meriwayatkan Hadis kepada penulis kitab. Contoh kitab Hadis yang memakai metode ini ialah Nuskhah Suhai bin Abu Shalih (w. 138 H) dimana ia hanya menyebutkan satu jalur sanad yang meriwayatkan hadis-hadis yang ditulisnya, yaitu Abu Shalih (Ayahnya) – Abu Hurairah – Nabi Muhammad Saw.

Adapun Atraf secara istilah ialah berarti pangkal-pangkal. Dalam ilmu Hadis, atraf ialah metode pembukuan hadis dengan menyebutkan pangkalnya saja sebagai petunjuk matan Hadis selengkapnya. Di antara ulama klasik yang menulis Hadis dengan metode ini ialah Auf bin Abu Jamilah al-‘Abdi (w. 146 H). Metode ini berkembang pada abad ke-4 dan ke-5 H.

3) Motode Muwatta

Muwatta berarti sesuatu yang dimudahkan. Sedangkan menurut terminology ilmu Hadis, Muwatta adalah metode pembukuan Hadis yang berdasarkan hukum Islam (Abwab Fiqhiyyah) dan mencantumkan Hadis-hadis marfu’, mauquf, dan maqtu. Motifasi pembukuan Hadis dengan metode ini adalah untuk memudahkan orang dalam menemukan Hadis.

Ulama yang menyusun kitan Hadis dengan menggunakan metode ini ialah Ibnu Abi Dzi’b (w. 158 H), Imam Malik bin Anas (w. 179 H), Imam Abu Muhammad al-Marwazi (w. 293 H), dan lain-lain. Kitab Imam Malik merupakan yang paling popular di antara kitab-kitab Muwatta. Sehingga, apabila disebut nama Muwatta maka konotasinya selalu tertuju kepada kitab Imam Malik bin Anas.

4) Metode Mushannaf

Mushannaf berarti sesuatu yang disusun. Namun, secara terminologis kata Mushannaf ini sama artinya denga kata Muwatta, yaitu metode pembukuan Hadis berdasarkan klasifikasi hukum Islam dan mencantumkan Hadis-hadis marfu’, mauquf, dan maqtu. Seperti halnya Muwatta, ulama yang menulis Hadis dengan metode Mushannaf ini juga banyak. Di antaranya, Imam Hammad bin Salamah (w. 167 H), Imam Waki’ bin al-Jarrah (w. 196 H), Imam Abd al-Razzaq (w. 211 H), Imam Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H).

5) Metode Musnad

Metode Musnad ialah penyusunan kitab Hadis berdasarkan nama para Sahabat Nabi Saw yang meriwayatkan Hadis. Oleh karenanya, dalam kitab Hadis dengan metode hadis yang diriwayatkannya.

Jumlah kitab Musnad mencapai 100 kitab. Namun, beberapa kitab saja yang populer, misalnya kitab Musnad karya al-Humaidi (w. 219 H), kitab Musnad karya Abu Daud al-Tayalisi (w. 204 H), kitab Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), dan kitab Musnad karya Abu Ya’la al-Maushili (w. 307 H).

Menurut Muhammad ‘Ajaj al-Khathib dalam bukunya, Ushul Hadis bahwa yang mula-mula menyusun kitab Hadis dengan metode Musnad adalah Abu Daud al-Tayalisi. Kemudian, Musnad Ahmad bin Hanbal dianggap sebagai musnad yang paling lengkap dan luas.

6) Metode Jami’

Kata Jami’ berarti mengumpulkan, menggabungka, dan mencakup. Dalam disiplin ilmu Hadism kata Jami’ adalah kitab Hadis yang penyusunanya mencakup seluruh topic-topik dalam agama, baik akidah, hukum, adab, tafsir, manaqib, dan lain-lain. Kitab-kitab Hadis yang menggunakan metode ini jumlahnya cukup banyak.

Di antara kitab yang menggunakan metode Jami’ ialah karya Imam al-Bukhari (w. 256 H) yang popular dengan sebutan Shahih Al-Bukhari. Judul aslinya adalah “al-Jami’ al-Shahih al-Musnad al-Mukhtashar min Umur Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa al-Sallam wa Sunanih wa Ayyamih”. Kitab Jami’ lainnya ialah karya Imam Muslim bin al-Hajjaj al-Naisapuri (w. 262 H) yang popular dengan judul Shahih Muslim.

7) Metode Mustakhraj

Metodea Mustakhraj ialah penyusunan kitab Hadis berdasarkan penulisan kembali Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab lain kemudian mencantumkan sanad dari dia sendiri, bukan sanad yg terdapat dalam kitab yang dirujuknya. Ada lebih 10 buah kitab Mustakhraj. Di antaranya al-Mustakhraj ‘ala Shahih al-Bukhari karya Isma’ili (w. 371 H), al-Mustakhraj ala Shahih Muslim karya al-Isfirayini (w. 310 H), dan ada pula kitab mustakhraj atas Shahih Al-bukhari dan Shahih Muslim, seperti karya Abu Nu’aim al-Ishbahani (w. 430 H), Ibnu al-Akhram (w. 344 H), dan lain-lain.

8) Metode Mustadrak

Metode Mustadrak adalah penyusunan kitab Hadis berdasarkan Hadis-hadis yang tidak tercantum dalam suatu kitab Hadis dengan mengikuti persyaratan penerimaan hadis dalam kitab tersebut. Contoh kitab Hadis dengan metode ini ialah kitab al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain karya Imam Hakim al-Naisapuri (w. 405 H). Imam Hakim menyusun kitabnya dengan menyeleksi hadis-hadis yang sesuai dengan persyaratan dalam penerimaan Hadis oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, tetapi tidak mencantumkannya dalam kitab shahih keduanya.

Jadi, Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab Mustadrak tidak terdapat dalam kitab asalnya. Berbeda dengan kitab-kitab Mustakhraj yang hadisnya juga terdapat dalam kitab asalnya.

9) Metodea Sunan

Kata Sunan adalah bentuk jamak “Sunnah” yang pengertiannya sama dengan Hadis. Sementara yang dimaksud disini ialah metode penyusunan kitab Hadis berdasarkan klasifikasi hukum Islam (Abwab al-Fiqhiyyah) dan hanya mencantumkan hadis marfu saja. Apabila terdapat hadis mauquf dan maqtu, maka relatif jumlahnya hanya sedikit. Berbeda dengan kitab Muwatta dan Mushannaf yang banyak memuat hadis mauquf dan maqtu.

Di antara kitab-kitab Sunan yang popular adalah karya Abu Dawud al-Sijistani (w. 275 H), -bedakan dengan Abu Dawud al-Tayalisi-, kemudian al-Nasa’i (w. 303 H) yang semula kitabnya diberi nama al-Mujtaba, al-Tirmidzi, Ibnu Majah al-Qaswini (w. 275 H), dan lain-lain.

10) Metode Mu’jam

Metode Mu’jam adalah metode penulisan kitab Hadis yang disusun berdasarkan nama-nama para Sahabat, guru-guru Hadis, negeri-negeri, atau yang lain. Dan lazimnya nama-nama itu disusun berdasrkan huruf Mu’jam (alfabet). Kitab Hadis yang menggunakan metode ini banyak sekali. Di antaranya yang popular adalah karya Imam al-Thabrani (w. 360 H), beliau menulis 3 buah kitab Mu’jam, al-Mu’jam al-Kabir, al-Mu’jam al-Ausat, dan al-Mu’jam al-Shagir.

11) Metode Majma

Metode Majma digunakan dalam penyusunan kitab Hadis kira-kira akhir abad ke-5 H. metode ini digunakan untuk membuat terobosan baru dalam penyusunan kitab hadis dengan menggabungkan kitab-kitab Hadis yang sudah ada. Sehingga, metode ini disebut Jama’ atau Majma’. Contoh kitab Hadis dengan metode ini ialah kitab al-Jama’ baina al-Shahihain karya al-Humaidi. (w. 488 H). Tentu isinya merupakan gabungan antara kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Contoh lainnya ialah Jama’ baina al-Ushul al-Sittah karya Ibnu al-Atsir (w. 606 H) yang merupakan gabungan antara 6 kitab Hadis (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Nasa’i, Sunan al-Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah).

12) Metode Zawaid

Zawaid menurut bahasa berarti tambahan-tambahan. Adapun menurut terminologi Hadis ialah penyusunan kitab Hadis yang mengkhususkan hanya Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh satu penulis Hadis saja. Contoh kitab Hadis dengan metode Zawaid ialah kitab Mizbah al-Zujajah fi Zawaid Ibn Majah karya Bushairi (w. 480 H) yang berisi Hadis-hadis yang ditulis hanya oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunannya.

PUSTAKA BACAAN
  • Muhammad ‘Ajaj al-Khathib, Ushul Hadis
  • Ali Mustafa Yaqub, Ktitik hadis
  • Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis
SEKIAN
pdf DOWNLOAD

SENANG  >> DISINI
GEMBIRA >> PROSES
Previous Home
 
ADMIN : SQ BLOG - wahana ilmu dan amal HASRUL | FB RulHas - SulTra | TWITTER RulHas BS
Copyright © 2015. SQ BLOG - All Rights Reserved
Support : Creating Website | Mas Template
Proudly powered by Blogger