Daftar Isi/Contents SQ BLOG >> KLIK DISINI
kajian(*)Quran_Hadis_Sains. Diberdayakan oleh Blogger.

Milad SQ Blog Ke-2

Sabtu, 13 Desember 2014

Salam sobat SQ Blog dimanapun berada ! Puji syukur kehadirat Allah SWT, berkat segala nikmatnya akhirnya SQ Blog tetap memberikan beberapa sajian dan telah genap 2 tahun setelah launching perdananya pada tahun 2012, tepatnya 12 desember. Satu hal menarik ketika itu, bahwa 12 desember 2012 sebuah isu besar dan banyak dibicarakan yaitu datangnya kiamat. Heheheheee,...... Admin juga sampai heran bukan main, kok isu ini begitu booming ketika itu? Padahal tanda-tanda kiamat yang aku ketahui belum cukup untuk kategori kiamat Kubra. Pikir-pikir, mungkin wajar aja, warga Islam di dunia kok tidak kalah banyaknya dengan non-Muslim; bahkan muslim juga banyak yang nggak mu'min. Wajar jika mereka merasa kanget dan menanya-nanyakan akan hal yang sebenarnya mereka takut menghadapinya. Ataukah, dibelakang isu itu ada konspirasi yang ditujukan bagi umat Islam guna melemahkannya atau apalah dibalik isu itu. Hanya Allah yang Mahatahu.

Bahkan sebuah dokumentasi lebar telah dibuat untuk memberikan sebuah gambaran akan dahsyatnya hari besar itu. Tapi nyatanya, kiamat yang ditunggu-tunggu tidak muncul juga. "Kataku dalam hati: ialah, kiamat kan hanya Allah yang Tahu." Heheheeee... Sobat SQ Blog, bertetapan dengan hari-hari dimana isu besar tersebut banyak dibicarakan, admin mulai mempersipakan untuk membuat blog ini. Blog ini merupakan blog kedua admin, setelah sebelumnya mengelola blog RulHas_SulTra™ yang merupakan blog pertama admin pada tahun 2010.

Sobat SQ Blog, hari ini, 12 desember 2014 merupakan 2 tahun genap kiprah SQ Blog dalam dunia maya. Harapan kami, mudah-mudahan SQ-Blog dapat lebih baik lagi pada masa-masa yang akan datang. Perkembangannya sekarang pun cukup memuaskan bagi admin, namun tentu akan terus berusaha memberikan yang terbaik di hari-hari selanjutnya. Saran dan kesan semua sobat SQ Blog selama ini tentu sangat membantu demi kelangsungan blog ini sampai sekarang. Bersamaan dengan ini, admin berharap selalu masukan dan tak lupa pula mengucapkan terima kasih kepada semua sobat SQ Blog.

Akhirnya, selamat untuk MILAD SQ BLOG YANG KE-2. Demi mengenang milad ini, SQ Blog menyajikan beberapa kalender 2015 untuk beberapa memori indah Admin dan tentunya bagi semua sobat SQ Blog.

1. EDISI SQ BLOG



2. EDISI KELUARGA BS



3. EDISI ALUMNI PPAW 2010



FREE DOWNLOAD CDR DAN JPQ
(Khusus Alumni dan Santri/Santriwati PPAW)

Link Download File JPQ (Gambar) dan cdr (CorelDRAW)
Link 1 : DISINI
Link 2 : DISINI

4. EDISI PMQ - PTIQ



5. EDISI UNITY ANGKATAN 2010 - INSTITUT PTIQ




Sekian dulu sobat, beberapa edisi memori selanjutnya akan menyusul termasuk edisi kalender hijriah, insyaAllah akan kami usahakan !!!


SELAMAT
MILAD SQ BLOG KE-2

Relevansi Sains, Tafsir Ilmi, dan Mukjizat Ilmi

Selasa, 25 November 2014

Rekan SQ Blog dimanapun berada, post kami sebelumnya mengenai, Sains, Tafsir Ilmi dan Mukjizat Ilmi merupakan tiga ranah kajian ke-al-Quranan yang saling terkait. Olehnya itu, post kali mengenai Relevansi Sains, Tafsir Ilmi, dan Mukjizat Ilmi ingin melihat hubungan diantara ketiganya. Berikut uraiannya sobat...!


Islam mengenal dalil naqli, yakni bukti-bukti keberadaan Allah SWT yang termaktub dalam al-Quran dan Hadis serta dalil aqli, yakni hasil pengamatan dan pemahaman terhadap fakta-fakta yang terindra secara logis dengan menggunakan akal sehat dan kecerdasan sebagai potensi yang dimiliki setiap manusia. Penggunaan dalil naqli sangat tergantung pada keimanan atau sebagai konsekuensi logis dari keimanan, sedangkan penggunaan dalil aqli (empris-logik) sebagai proses untuk beriman.

Merujuk ayat-ayat al-Quran maupun Hadis, tidak dapat dipungkiri akan beberapa informasi ilmiah yang menuntut tindakan empiris dan proses berpikir. Ini menunjukkan tradisi empiris atau kebiasaan memahami secara logis, sangat kuat dalam Islam. Dengan mempelajari berbagai fenomena alam secara mendalam, para ulama sampai pada kesimpulan bahwa materi tidak jadi dengan sendirinya, tetapi keberadaanya merupakan ciptaan Allah. Meraka pun sampai pada kesimpulan-kesimpulan berupa pengetahuan yang memiliki kejelasan konseptual, kejelasan teori, kejelasan pengukuran, dan kejelasan metode yang digunakan untuk sampai pada kesimpulan ilmiah tersebut. Dengan kata lain, dengan melakukan pengamatan terhadap feomena alam, para ulama pada masa kebesaran Islam telah menemukan berbagai teori sains (science) yang sekalius menjadi penggerak nilai keimanan kepada Allah.[1]

Realitas ini menunjukkan peranan penting al-Quran dan Hadis untuk mendorong lahirnya berbagai kajian terhadap alam yang lazimnya disebut sains. Berbagai sistem moral dan hukum yang berhubungan dengan kehidupan individu, sosial, ekonomi, politik, sains, atau bidang-bidang lain dikelola al-Quran dan Hadis. Ini karena kapasitasnya yang menjangkau seluruh medan kehidupan rasional manusia, tidak ada satu lini yang lepas dari fokusnya. Fakta ini menempatakan posisinya di titik sentral sekian banyak telaah dan subjek utama dalam penyusunan berbagai kajian.[2] Di antaranya kajian dalam bidang sains yang kemudian melahirkan satu bentuk penafsiran, yaitu tafsir ilmi.

Ilustrasi ajaran-ajaran al-Quran menyoroti banyak hal yang ada dalam kehidupan alam ini, baik mengenai proses kejadian alam, mekanisme kehidupan makhluk-makhluknya termasuk manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Padahal bangsa Arab pada zaman itu termasuk masyarakat yang lemah tradisi tulis-bacanya, dan lemah pula wawasan dan pengetahuan mereka tentang berbagai bidang keilmuan, kecuali dalam aspek perdagangan yang sudah menjadi tradisi dikalangan masyarakat Quraisy sejak masa nenek moyang mereka. Kontak mereka dengan orang-orang Byzantium dari Eropa Timur bukan kontak keilmuan, tetapi kontak perdagangan. Sebab itu, mereka kemudian disebut al-Quran sebagai masyarakat ummi> (lemah tradis tulis-bacanya).[3]

Dengan demikian, ketika al-Quran diturunkan dan memberi isyarat berbagai bidang keilmuan, bagi masyarakat Quraisy merupakan sesuatu yang baru dan belum mereka kenal, sementara nabi sendiri tidak mungkin menyusunnya karena tidak memiliki latar belakang budaya yang mendukung rumusan dan ilustrasi al-Quran. Hal ini merupakan salah satu kekuatan kitab suci ini yang menunjukkan kebenaran nubuwah (kerasulan) Muhammad Saw. Al-Quran mengungkapkan informasi yang mustahil diketahui pada waktu itu. Penyampaiannya secara ringkas dan padat, namun manusia mengumpulkan informasi sampai bertahun-tahun untuk dapat mengetahui pesan yang dikandungnya. Kandungan isinya yang sangat luas namun konsisten, bebas dari kesalahan, dan selaras dengan berbagai penemuan ilmiah dalam bidang sains saat ini.[4] Al-Quran sendiri menegaskan akan hal ini dalam ayat berikut:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا ﴿سورة النساء: ٥٣﴾

Artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Q.S. al-Nisa’ [4]: 82)

Penelitian dan kajian tentang isyarat-isyarat al-Quran terhadap ilmu pengetahuan telah dan masih terus dilakukan para ilmuwan Muslim. Sebelum mengkaji suatu objek yang disebutkan dalam al-Quran serta pengembangnnya pada objek-objek lain, para ilmuwan sudah pasti mengkaji al-Quran dan Hadis. Karena itu, tidak mengherankan para ilmuwan tersebut adalah para ahli tafsir al-Quran dan ahli Hadis. Misalnya Ibnu Sina, disamping sebagai dokter, ia adalah seorang Huffaz} (penghafal al-Quran) dan juga sebagai mufassir (ahli tafsir).[5]

Disini memperlihatkan bahwa peranan seorang mufassir sangat besar dalam mengkaji sains yang pada akhirnya menghasilkan satu bentuk penafsiran tersendiri, yaitu corak tafsir ilmi. Di sisi lain, pemahamannya terhadap teks-teks al-Quran yang diturunkan sejak 14 abad silam, namun tetap menjadi sumber informasi berbagai penemuan saat ini mengantarkannya pada sebuah kesimpulan tentang mukjizat ilmi (i’jaz al-ilmi). Kerangka ini terbangun atas kesadaran bahwa al-Quran sebagai dalil naqli dan alam raya sebagai dalil aqli merupakan kesatuan untuk memberikan petunjuk kepada manusia.

Melalui keduanya, yaitu al-Quran (ayat qauliyyah) dan alam raya (ayat kauniyyah), Allah Mahakuasa untuk menampakkan mukjizat dari keduanya. Namun perlu dipahami, mukjizat hanya ditujukan kepada yang ragu. Atas dasar itu, al-Quran bagi kaum Muslim tidak berfungsi sebagai mukjizat, tetapi ia adalah ayat (tanda) kebenaran nabi Muhammad Saw. Dari sini, kaum Muslim hendaknya tidak menitikberatkan pandangan mereka pada kemukjizatan al-Quran, tetapi perhatian hendaknya lebih banyak tertuju pada hidayahnya.[6] Begitupun dari sisi keilmuannya, al-Quran bukanlah buku ilmiah atau kitab ilmu pengetahuan. Al-Quran adalah kitab yang diturunkan Allah untuk memberi petunjuk kepada manusia, menetapkan aturan hidup agar mereka meraih kebahagian di dunia dan akhirat. 

Demikianlah relevansi sains dan tafsir ilmi yang menjadi renungan bagi umat manusia. Padanya terdapat pelajaran bagi orang-orang beriman untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pada sisi lain, menjadi sebuah mukjizat bagi orang-orang yang ragu dan tidak mempercayainya. Mereka diperlihatkan berbagai penemuan menakjubkan dalam al-Quran seiring dengan perkembangan intelektual mereka. Bahkan keharmonisan informasi ilmiah al-Quran makin terungkap dan menakjubkan dari masa ke masa.

Oleh : Hasrul

ENDNOTE



[1] U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 247-248
[2] M. Baqiri Saidi Rousyan, Menguak Tabir Mukjizat; Membongkar Pristiwa Luar Biasa Secara Ilmiah terj. Ammar F.H. dari judul asli “Mu’jizeh Syenosi” (Jakarta: Sadra Press, 2012), Cet. I, hal. 275-276
[3] Qurais Shihab, et.al., Sejarah dan Ulum al-Quran (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), Cet. IV, hal. 128-129
[4] Caner Taslaman, Miracle of the Quran terj. Ary Nilandari dari Judul Asli “The Quran: Unchallengeable Miracle”, (Bandung: Mizan, 2010), Cet. I, hal. 21
[5] U. Maman, Pola berpikir sains; Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam (Bogor, QMM Pusblishing 2012), hal. 259
[6] Quraish Shihab, Kaidah Tafsir; Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami al-Quran (Tangerang: Lentera Hati, 2013), Cet. I, hal. 336

Mukjizat Ilmi???

Senin, 24 November 2014

Pagi, sobat SQ Blog dimana pun berada, tafsir (pengungkapan dan penjelasa), apalagi ilmu (mengetahui) dalam disisplin imu sudah tidak asing lagi, lalu bagamana dengan Tafsir Ilmi? infonya silahkan baca, klik disini. Dalam ranah ini, satu hal yang saling terkait ialah Mukjizat Ilmi. Lalu apa itu mukjizat ilmi, ini dia sekilas statusnya,...

Mukjizat ilmi (i’jaz ilmi) merupakan sisi kemukjizatan dalam al-Quran maupun Hadis dari segi pemberitaan. Kemukjizatan dari segi ini meliputi pemberitaan kisah-kisah masa lalu, informasi pristiwa-pristiwa yang akan datang, dan isyarat-isyarat ilmiah (sains). Namun, pembahasan ini hanya memaparkan topik isyarat-isyarat ilmiah yang lebih dikenal dengan mukjizat ilmi. Menurut Manna’ Khalil al-Qattan, mukjizat ilmi bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan. Tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berpikir dan mengunakan akal.[1]

Jadi, mukjizat ilmi ada pada esensi-esensi ilmiah yang mengarahkan pemikiran manusia padanya dalam rangka membangun nilai keimanan. Pada konteks ini, al-Quran dan Hadis menginginkan tindakan nyata seperti menganalisis, merenung, dan meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan bagi umat Islam. Rasyid Al-Mubarak mengatakan: “Kata berpikir bukanlah kata yang diwariskan zaman jahiliyyah sehingga ia begitu terkenal dan populer, tetapi kata itu merupakan perintah yang dibebankan pada manusia.”[2] Perintah tersebut di antaranya dalam ayat berikut:

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ ﴿سورة سبأ: ٤٦﴾

Artinya: “Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua- dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras”. (Q.S. al-Nahl [34]: 46)

Ini selaras dengan mukjizat yang diberikan kepada nabi Muhammad Saw, yaitu al-Quran yang bersifat aqlani (akli) yang terus menantang sepanjang masa. Walaupun, demikian, terdapat juga beberapa mukjizat nabi yang bersifat hizzi (indrawi) yang keluarbiasaanya hanya dapat dijangkau dan disaksikan langsung oleh masyarakat tempat nabi menyampaikan risalahnya. Mukjizat al-Quran dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana pun dan kapan pun.[3] Ini artinya al-Quran merupakan mukjizat abadi nabi Muhammad Saw.

Pada uraian ini perlu diketengahkan bahwa al-Quran merupakan wahyu sekaligus mukjizat, keduanya tidak terpisahkan. Baik wahyu maupun mukjizat adalah anugerah Ilahi yang diberikan kepada para nabi dan Rasul. Namun, mukjizat para nabi sebelumnya adalah realitas selain wahyu, adapun mukjizat nabi Muhammad Saw, yaitu al-Quran selain sebagai wahyu juga merupakan mukjizat.[4] Ini mengindikasikan bahwa wahyu dan mukjizat adalah dua realitas yang berbeda. Dalam al-Quran, wahyu memiliki beberapa makna, di antaranya; firman Allah kepada rasul-Nya, instruksi Allah kepada Malaikat, ilham, insting, isyarat (tanda/simbol), dan bisikan setan.[5] Adapun makna mukjizat dalam al-Quran, yaitu; ayat (tanda), bayyinah, burhan, sultan, dan bashirah.[6] Nampak jelas perbedaan penggunaan keduanya yang menunjukkan esensi yang dikandungnya juga berbeda. Dapat dipahami bahwa al-Quran dalam realitasnya sebagai wahyu sekaligus mukjizat menegaskan ajaran-ajaran yang dikandungnya akan senantiasa memancarkan nilai-nilai kemukjizatan. 

Perintah untuk menghayati dan memikirkan alam raya termaktub dalam al-Quran dan Hadis sebagai landasan berpikir. Setelah melalui proses yang panjang, kerangka inilah yang kemudian melahirkan tafsir ilmi seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa dalam al-Quran maupun Hadis mengandung isyarat-iyarat ilmiah yang telah disampaikan oleh nabi sejak 14 abad silam ketika ilmu pengetahuan sama sekali belum berkembang. Hal ini membuktikan akan nubuwah Muhammad Saw.

Adapun, penyebutan isyarat-isyarat ilmiah tersebut yang mengarahkan pemikiran manusia untuk mengkaji dan mengungkapnya adalah ranah dari sisi mukjizat ilmiah pada al-Quran dan Hadis. Menurut Zaqlul Rakib Muhammad, jika tafsir ilmi meniscayakan penggunaan setiap metode pengetahuan dan teori-teori ilmiah yang ada, maka adapun mukjizat ilmiah harus menggunakan ketetapan-ketetapan ilmiah yang sudah pasti. Sebab, maksud dari mukjizat ilmi tidak lain adalah penegasan bahwa al-Quran yang diturunkan kepada nabi mengandung informasi tentang hakikat ilmiah.[7]

Pada sisi lain, sebagian ulama memandang bahwa letak kemukjizatan ilmiah terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan akal. Sehingga, berbagai informasi ilmiah al-Quran maupun Hadis yang saat ini dapat dibuktikan dengan sains, mereka lebih memilih menyebutnya sebagai bukti kebenaran al-Quran ataupun bukti-bukti kenabian. Muhammad Al-Ghazali adalah salah satu ulama yang berpikir demikian. Beliau memandang bahwa letak mukjizat ilmi ada pada esensi-esensi ilmiah yang mengarahkan pemikiran manusia padanya untuk menjadi bahan renungan yang bermuara pada sebuah kenyakinan teguh kepada Allah. Olehnya itu, harus dibangun paradigma bahwa ayat-ayat Allah, baik qauliyah maupun kauniyyah tidak mungkin bertentangan karena keduanya berasal dari-Nya.

Oleh: Hasrul

ENDNOTE




[1] Manna’ Khalil al-Qat}t}an, Studi Ilmu-ilmu al-Quran terj. Mudzakir dari judul asli Maba>his fi> Ulum al-Quran” (Bogor: Pustaka LiteraAntarNusa, 2011), Cet. XIV, hal. 223
[2] Muhammad Al-Ghazali, Al-Quran Kitab Zaman Kita; Mengaplikasikan Pesan Kitab suci dalam Konteks Masa Kini terj. Msykur Hakim dan Ubaidillah dari judul asli “Kayfa Nata’amal ma al-Quran” (Bandung: Mizan, 2008), Cet. I, hal. 231
[3] Kementerian Agama RI, Tafsir al-Quran Tematik; Kenabian (Nubuwah) dalam al-Quran (Jakarta: Lajnah Pentashih Mushaf al-Quran, 2009), Cet. I, Seri Lima, hal. 106-107
[4] M. Baqiri Saidi Rousyan, Menguak Tabir Mukjizat; Membongkar Pristiwa Luar Biasa Secara Ilmiah terj. Ammar F.H. dari judul asli “Mu’jizeh Syenosi” (Jakarta: Sadra Press, 2012), Cet. I, hal. 155
[5] Kementerian Agama RI, Tafsir al-Quran Tematik; Kenabian (Nubuwah) dalam al-Quran, hal. 105-106
[6] M. Baqiri Saidi Rousyan, Menguak Tabir Mukjizat; Membongkar Pristiwa Luar Biasa Secara Ilmiah terj. Ammar F.H. dari judul asli “Mu’jizeh Syenosi” (Jakarta: Sadra Press, 2012), Cet. I, hal. 158-160
[7] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxii

Tafsir Corak Ilmi

Tafsir ilmi adalah kajian tentang arti-arti ayat atau Hadis dalam tinjauan validitasnya dari ilmu pengetahuan alam (sains).[1] Definisi lain menyebutkan bahwa tafsir ilmi merupakan corak penafsiran ayat-ayat kauniyyah dalam al-Quran yang mengaitkannya dengan ilmu modern. Menurut Husein al-Zahabi, tafsir ini membahas istilah-istilah ilmu pengetahuan dalam penuturan ayat-ayat al-Quran, serta berusaha menggali dimensi keilmuan dan mengungkap pandangan-pandangannya secara falsafi.[2]


Keberkahan dari al-Quran maupun Hadis sebenarnya hanya diperoleh dengan menghayati dan memahaminya, menuruti serta memanfaatkan petunjuk-petunjuknya. Pemanfaatan tersebut tentu tidak terlepas dari upaya penghayatan, penjelasan dan perincian hasil yang dikehendaki ayat-ayat al-Quran, maupun Hadis.[3] Kerangka inilah yang kemudian melahirkan ilmu-ilmu tafsir, termasuk tafsir ilmi. Pemahamn terhadap ayat-ayat al-Quran melalui penafsiran mempunyai peranan sangat penting bagi maju mundurnya umat Islam. Demikian juga Hadis atau Sunnah telah menjadi faktor pendukung utama kemajuan ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat Islam.[4]

Menurut Arkoun, seorang pemikir Aljazair kontemporer bahwa al-Quran memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tidak terbatas. Ayat-ayatnya selalu terbuka untuk penafsiran (interpretasi) baru, tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal.[5] Memang diakui bahwa bahwa sains (ilmu pengetahuan) itu relatif, sekarang benar, bisa jadi besok salah. Tetapi, bukankah itu ciri dari semua hasil pemikiran manusia, sehingga di dunia tidak ada absolut kecuali Tuhan. Hasil pikiran manusia juga bersifat akumulatif. Ini berarti ilmu akan saling melengkapi dari masa ke masa sehingga ia akan selalu berubah.[6]

Disini manusia dituntut untuk selalu berijtihad dalam rangka menemukan kebenaran. Apa yang dilakukan para ahli hukum, teologi, dan sufi di masa silam dalam memahami ayat-ayat al-Quran merupakan ijtihad baik, sama halnya dengan usaha memahami isyarat-isyarat ilmiah dengan penemuan modern. Usaha tersebut tentu dibarengi dengan sikap kehati-hatian dan kerendahan hati. Tafsir apa pun bentuknya, hanyalah sebuah upaya manusia yang terbatas untuk memahami maksud kalam Tuhan yang tidak terbatas. Kekeliruan dalam penafsiran sangat mungkin terjadi, namun tidak akan mengurangi kesucian al-Quran. Kekeliruan dalam usaha penafsiran ilmiah dapat diminimalkan atau dihindari dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang ditetapkan para ulama. Berikut prinsip dasar dalam penyusunan tafsir ilmi:[7]


  1. Memperhatikan arti dan kaidah-kaidah kebahasaan;
  2. Memperhatikan konteks ayat (asbab al-nuzu>l) dan korelasi (munasab) ayat;
  3. Memperhatikan dan tetap mengacu pada hasil-hasil penafsiran bi al-ma’s}u>r (penafsiran dengan riwayat);
  4. Tidak menggunakan ayat-ayat yang mengandung isyarat ilmiah menghukumi benar atau salahnya sebuah hasil penemuan ilmiah;
  5. Memahami betul isyarat-isyarat ilmiah yang menyangkut dengan segala objek bahasan ayat, termasuk penemuan-penemuan ilmiah yang berkaitan dengannya; dan
  6. Tidak menggunakan penemuan-penemuan ilmiah yang masih bersifat teori dan hipotesis sehingga dapat berubah.
Tafsir ilmi diharapkan dapat memberikan pemaknaan baru terhadap segala aspek kehidupan dan lebih utama dapat merangsang untuk melahirkan tekhnologi yang bermanfaat. Ini dibutuhkan sebagai media dalam mengungkap rahasia kemukjizatan terkait informasi-informasi sains yang mungkin belum dikenal pada masa turunnya sehingga menjadi bukti kebenaran bahwa al-Quran bukan karangan manusia, namun wahyu Sang Pencipta dan pemilik alam raya.[8] Ranah ini akan berperan penting dalam mengembangkan misi dakwah Islam di tengah kemajuan ilmu pengetahuan.

Oleh: Hasrul

ENDNOTE



[1] Abdul Majid bin Aziz Al-Zindani, at. al., Mukjizat al-Quran dan al-Sunnah tentang IPTEK (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), cet. I, Jilid 2, hal. 25
[2] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan dalam Perspektif al-Quran Dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxi-xxii
[3] M. Ali al-S}abu>ni>, Studi Ilmu al-Quran terj. Aminuddin dari judul asli Al-T{ibya>n fi> Ulum al-Quran” (Bandung: Pustaka setia, 2008), Cet. X, hal. 240-241
[4] Zaghlul al-Najjar, Sains dalam Hadis (Jakarta: Amzah, 2011), cet. I, Kata Pengantar oleh Mulyadhi Kartanegara, hal. ix
[5] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2009), cet. XVI, hal. 213
[6] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan dalam Perspektif al-Quran Dan Sains (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxvi
[7] Kementerian Agama RI oleh Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi; Tumbuhan (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, 2012), hal. xxvi-xxvii
[8] Qurais Shihab, et.al., Sejarah dan Ulum al-Quran (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), Cet. IV, hal. 183
Previous Home
 
ADMIN : SQ BLOG - wahana ilmu dan amal HASRUL | FB RulHas - SulTra | TWITTER RulHas BS
Copyright © 2014. ZYIAR™ BS - All Rights Reserved
Support : Creating Website | Mas Template
Proudly powered by Blogger